Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Ada satu idiom yang menarik kita ada seseorang bertanya kepada, apakah sebenarnya Tuhan itu? Beberapa akan menjawab dengan idiom ini, “God is a director,” sementara beberapa yang lain hanya sekedar tahu saja tentang idiom tersebut. Yah, intinya… itu bukan sebuah idiom yang asing.

Kenapa Tuhan disebut sebagai seorang sutradara? Sebenarnya sederhana saja, karena hidup ini adalah sebuah panggung sandiwara, dan Dia yang duduk di singgasananya tersebut hanya tinggal mengarahkan di awal, dengan ketetapan-ketetapan yang dia buat, aturan, serta naskah yang biasanya dijadikan pedoman dalam berpentas. Lebih dari itu, manusia tak ubahnya seorang aktor ataupun aktris, kesempurnaan ideal hanya ada pada Tuhan sebagai seorang sutradara, dan acap kali, tidak jarang juga manusia bisa dengan sempurna mengikuti idealisme yang diikuti oleh-Nya. Bila sudah seperti ini, free will yang diberikannya pun menjadi pembenaran bagi setiap improvisasi yang dilakukan oleh manusia di atas panggung kehidupannya. Kadang, improvisasi ini bisa mendekati dengan pedoman yang ada pada naskah… dan itu berarti kadang ada juga improvisasi yang membuat panggung kehidupannya hancur tidak karuan.

Lanjut Baca »

Diproteksi:

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Ngerumpi punya acara, semacam csr ndak wajib untuk meringankan beban para pengungsi korban bencana meletusnya Gunung Merapi—ha ya ndak wajib, ngerumpi bukan korporat jhe. Diprakarsai oleh rasa kemanusia, dan dilakukan secara langsung dan tidak langsung oleh warga ngerumpi dan juga beberapa dermawan lainnya yang mau berkorban. Siapa yang jadi pionirnya? Ya, sebenarnya ndak perlu ambil credit lah, tapi kalau memang perlu, @chiilmill bisa disantuni kredit sebagai pencetus ngerumpi punya gawe yang satu ini? Acaranya? Banyak, tapi kurang lebih sama, kita berbagi sedikit apa yang kita miliki untuk para korban bencana yang tengah mengungsi dimana-mana itu.

*lirik judul*

Owkey, salah satu dari sekian banyak social media yang saya pantengi untuk mengikuti perkembangan zaman melalui informasi-informasi berharga—walau yang nggak nyampah juga banyak—itu twitter. Tidak bisa menutup mata, dengan adanya program ini, saya yang kebetulan berada di Jogja dan beberapa kali ikut medistribusikan bantuan dari teman-teman sekalian ke posko-posko pengungsian beberapa kali disebut sebagai saints oleh beberapa orang. Nggak munafik, sebagai manusia biasa saya cukup tersungging juga dengan sebutan itu, sungguh, saya sangat menghargainya :D Tapi sebagai manusia biasa juga, yang kurangnya banyak sekali, saya cukup terkonclang, terdiam, dan malu seketika kala introspeksi dengan sebutan itu. Ya, saints… jamak, bersama dengan teman-teman lainnya yang mungkin memang pantas menyandang sebutan itu.

Tapi saya ndak bisa merasa seperti itu e tweeps ^^

Bagi saya, saints itu julukan yang bahkan lebih tinggi daripada gelar Pahlawan Nasional. Ya. Dan bagi saya pribadi, seseorang itu baru bisa disebut sebagai Pahlawan Nasional ketika dia memberikan derma bagi bangsa yang bisa dirasakan khalayak ramai, dan derma itu dilakukan dari kodratnya sebagai seseorang dengan jabatan dan kondisinya yang memungkingkeun untuk melakukan derma tersebut. Singkatnya, Pahlawan Nasional itu jasanya dilakukan diluar apa yang memang harus dilakukan :P Kalau boleh memberikan contoh, saya ndak bisa merasa kalau seorang—ehem, mantan—presiden dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional karena usahanya dalam memajukan bangsa… karena memang itulah tugasnya sebagai seorang presiden. Dan saints itu lebih tinggi lagi derajatnya daripada itu.

Saya bukannya mau merendah, saya memang rendah dan sama sekali ndak maha, apalagi sok maha *keplak @centrino* :lol: Kondisi saya memang mengharuskan saya berdomisili di Jogja yang banyak sekali kantong-kantong pengungsiannya. Di luar kewajiban saya, sebagai manusia saya toh memang bisa meluangkan sedikit waktu dan tenaga untuk ikut mendistribusikan bantuan dari teman-teman sekalian, itu bukan hal yang begitu susah karena saya memang seorang pengangguran yang waktu senggangnya begitu berlimpah. Jangan menyebut saya sebagai salah seorang saints karena melakukan pekerjaan yang begitu remeh tweeps ^^ Sungguh, saya tidak pantas disebut sebagai seorang saint—apalagi Saint Seiya, cuih!

Kalianlah para saints sesungguhnya tweeps :D Kalian melebihi saya yang cuman leha-leha, duduk anteng dalem mobil, dengerin lagu secara pribadi dengan headset saya, dan nyanyi-nyanyi ngeriwuhi yang lagi nyetir. Sumpah, kalian, dengan semangat berbagi kalian, adalah saints sebenar-benarnya saint. Tanpa ada bantuan dari kalian, tanpa ada sedikit dana yang kalian kucurkan, tanpa ada keikhlasan yang kalian kucurkan, mungkin kami yang ada di Jogja ini tidak akan bisa bergerak sedikitpun kecuali sekedar cuap-cuap panik di berbagai social media, saya bisa jamin itu, setidaknya untuk saya sendiri :D Jadi, tweeps, teruskan semangat berbagi kalian, jadilah saints dengan terus berderma sedikit dari yang kalian punya untuk Ngerumpi For Merapi ini melalui nomer rekening berikut:

Mandiri 137-000-6226647 a.n Matilda Narulita (chiil)

BCA 1260544205 a.n Galuh Kusumaning Tyas (sabishigaru)

Jangan lupa untuk crosscheck di 08562575899 setelah transfer :D Semua bantuan yang kalian berikan akan kami belanjakan untuk keperluan para pengungsi di sekitar Jogja :D Dan bagi kalian yang berada di Jogja dan ingin berbagi lebih jauh (selimut, selimut bayi, sabun, sikat gigi, dan juga peralatan mandi lainnya), kalian bisa menghubungi nomer di atas :D Kalau bisa dijemput, akan kami jemput barangnya untuk didistribusikan. Untuk yang di Surabaya dan ingin berbagi hal yang sama, bisa menghubungi titutismail via twitter (@titutismail) atau Y!M (thoetzz@yahoo.com). Percayalah kawan, mereka sangat membutuhkan bantuan dari kalian, dan untuk itu kalian lebih pantas disebut sebagai seorang saints :D

Lalu untuk wilayah Semarang, saya mungkin tidak bisa seperti titut yang rela menjemput bola kapan saja. Khusus untuk wilayah Semarang, bila ingin turut berderma dalam Ngerumpi For Merapi, silahkan mulai kumpulkan selimut, selimut bayi, kue kering (sisa lebaran masih ada toh?), sikat gigi, serta peralatan mandi lainnya pada hari Senin besok (8 November 2010), saya akan mencoba menjemput barang-barang itu pada hari selasa (9 November 2010) dan besoknya akan saya serahkan pada @chiilmill untuk didistribusikeun. Sama seperti titut di Surabaya, njenengan bisa menghubungi saya via twitter (@celotehsaya) ataupun Y!M (naga.gini). Penting tweeps ^^ karena tanpa omong-omong dulu, saya ndak tau mesti jemput itu barang dimana :P

Last but not least *tsaaah*, bagi kalian yang memiliki kenalan yang ada kerabat di Jogja, atau bahkan kalian sendiri yang ada famili di Jogja… tolong dengan sangat, beritahukan pada mereka untuk tidak menonton berita tentang merapi. Ekstrim ya? Tapi setidaknya kalau memang kepepet nonton, tolong informasikan pada mereka untuk tidak langsung mengamini setiap informasi yang ada lalu cepat-cepat menyuruh anak-anak atau famili mereka supaya kabur dari Jogja tanpa menanyakan dulu kebenaran kabar tersebut dari mereka yang memang ada di Jogja :D Ini penting, sumpah.

Begini, beberapa hari lalu memang benar zona awas merapi ditingkatkan hingga radius 20 kilometer. Artinya? Simpel tweeps, itu berarti makin banyak korban bencana dan pengungsi. Buru-buru menyelamatkan sanak-saudara padahal mereka berada di zona yang sangat selamat sama saja dengan mengurangi jumlah relawan yang siap sedia untuk membantu para pengungsi tersebut. Salahkan mass-panic, saya tetap akan menyalahkan media yang tidak reliable :D

Ok tweeps, mari berbagi :D

Soempah Pemoeda 2.0

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Lanjut Baca »

It Takes Two To Tango

Tadi kebetulan liat drama semelekete. Biasa aja sih, dimana-mana drama plotnya ya berkisar di situ-situ aja. Ada cewek, ketemu cowok, dan perjuangan cinta mereka yang stripping setiap hari itu dibumbui bermacam-macam muka manis, lidah-lidah cadel, baju-baju bagus yang bikin ngiri… Wis, pokoknya sama sekali ndak matching sama karakteristik tokoh yang harus diperankan.

Cerita antara dua tokoh utama ditangguhkan sebentar. Filler, istilahnya. Dalam drama yang saya tonton itu diceritakan bahwa kerabat tokoh utama tidak memiliki tempat tinggal. Si perempuan yang nampak lemah ini kemudian terpaksa menumpang di rumah seorang mesum yang sudah beristri. Sudah bisa ditebak, bapak semang yang mesum ini akhirnya merayu si kerabat tokoh utama yang memang aduhai. Eh, mendadak si ibu semang masuk memergoki mereka.

… dan PLAK!!!

tipikal bukan?

Beberapa hari lalu, ada sms masuk yang terpaksa saya anggurin bab gak ada pulsa. Ini juga tumben-tumbennya saya ndak ada pulsa. Pas kapan itu pulsa habis gegara nelpon si nganu :oops: juga ternyata besoknya langsung dapet kiriman pulsa. Pokoknya, kemaren itu beneran di luar kebiasaan banget deh. Seorang celo nggak menghabiskan pulsa itu wajar, lah emang sering lupa naruh hape dimana. Tapi seorang celo bisa nggak punya pulsa itu… Aduh, nggak lagi-lagi deh :| Ho ya, balik. Beberapa hari lalu ada sms masuk yang membuat saya melongo. Tertohok ceritanya. Terutama karena saya lagi ganti hape, jadi ndak itu siapa yang ngirim karena phonebook emang masih kolong syalala gitu. Isi pesannya gini:

celotehsaya-mu suda berhenti tetraloginya? :-”

Haisyah, iye, iye. Diapdet nih

Cewek ini keren ya. Mukanya walaupun agak-agak tegas tapi juga agak-agak inosen gimanaaaaa gitu. Berasa pingin ngelindungi atau mandangin itu muka terus-terusan. Tempting beut dah. Setuju nggak? Nggak setuju nggak masalah sih, tapi di mata saya wajah tersebut memang imut, lucu dan enak dilihat terus-terusan.

Aih, si mbak ini…

Kemarin malam atau pagi ini ya? Keknya kemaren malem deh, dengan segala keajaiban yang diizinkan Tuhan untuk terlimpahkan pada saya, akhirnya selesai juga saya membaca Norwegian Wood karangannya Haruki Murakami. Sekedar catatan saja, saya beli buku tersebut sekitar pertengahan tahun lalu, dan mulai membacanya sejak akhir juli 2009 ini. Bukunya sendiri bagus dan dalam. Pilihan diksinya pun keren-keren walaupun *jujur* saya harus mengulang membaca paragraf tertentu beberapa kali sebelum nangkep maknanya. Makanya bagi saya, bisa menyelesaikan membaca buku tersebut adalah sebuah prestasi yang tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan pesona keajaiban :P Yah intinya nggak lama ini saya nyelesein itu buku :D

Begitulah, karena saya sudah menyelesaikan Norwegian Wood, pagi ini saat akan berangkat kuliah saya mulai menimbang-nimbang buku apa yang akan saya bawa ngampus karena toh kuliah selama semester ini jaminan ngebosenin, paten! Awalnya pilihan saya hanya terpaku pada Tunnels, To Kill a Mockingbird atau mulai membaca Twilight. Sebagai catatan, buku-buku tersebut sudah berbulan-bulan saya beli tapi sampai sekarang plastik pembungkusnya aja belum dibuka. Sayang saat akan memilih tiba-tiba…

kontemplasi

Saya sedang berpikir *keras, tentu* tentang keberlanjutan blogg ini. Apakah blogg ini akan ditinggalkan begitu saja? Ataukah blogg ini harus dihapus *lagi*? diapdet-apdet lagi secara rutin? Atau bagaimana?

Mungkin blogg ini harus di…

diapakan hayo?

Permisi

Atas pemikiran satu dan lain hal. Terlebih karena unsur tradisi blogg celotehsaya.wordpress.com, dengan ini saya menyatakan untuk berhenti mengapdet blogg ini. Apakah blogg ini akan didelet seperti para pendahulunya ? Saya kurang tau dan kurang mau tau juga. Mungkin suatu saat nanti bila saya tidak melupakan id dan password saya, blogg ini akan saya delete~ Atas perhatiannya terima kasih.

Note : saya tidak akan melanjutkan ke celotehsaya5 karena blogg bersangkutan sudah diakuisisi oleh caplang, dan dengan hebohnya sudah didelet juga. Saya juga tidak akan melanjutkan ke celotehsaya6 ataupun celotehsaya(n+1). Biarlah 4 menjadi penutup.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.