Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Friends With Kids (2011)

***

What will you choose, slow painful death by disease…, or watching the love of your life die a slow painful death by disease?
— Julie Keller

***

mengandung spoiler, tidak mengandung babi

Juno’s Bride

Hmm…, apa nih? Juno’s Bride? Juno yang dimaksud di sini adalah salah seorang dewi dalam mitologi Romawi (kerap diasimilasikan dan dikenal sebagai Hera, dewi pada mitologi Yunani) yang merupakan dewi perlindungan pernikahan (dan kaum perempuan Roma—yang tidak relevan dengan postingan ini :P ). Sementara, bride di sini merujuk pada artinya secara harafiah: Pengantin.

Juno’s bride tidak secara spesifik berarti penganti Juno karena sebagai dewi yang melindungi pernikahan, rasa-rasanya semua pengantin di dunia ini memang pengantinnya dia, kan? Juno’s bride adalah istilah yang umum digunakan oleh orang-orang yang menikah di bulan Juni. Mereka beranggapan bila mereka menikah di bulan Juni, bulan yang sering diasosiasikan dengan Juno, pernikahan mereka akan mendapatkan berkah dari Juno sendiri (padahal ya memang tugasnya Juno, lho, buat memberkati setiap pernikahan, gak ngerti lagi deh sama pikiran cewek-cewek ini kok sampe bisa segitunya). Yah, intinya postingan ini akan sedikit banyak membahas tentang pernikahan :lol:

tumben banget, cel? Iya, lanjut baca aja makanya

Di hari hujan [2]

Malam sudah terlalu larut hingga sudah sewajarnya bila hari ini disebut dengan nama yang berbeda dari hari kemarin. Hujan masih saja turun, cukup deras untuk membuat bintang-bintang serta rembulan enggan menampakkan dirinya, lebih memilih untuk tidur berselimutkan awan mendung yang menjaga agar titik-titik air yang dibawanya tetap turun menyapa petrichor yang belum juga menguar naik. Sementara banyak orang beranggapan bahwa ini waktu yang tepat untuk memejamkan mata—dan memang itulah yang tengah mereka lakukan, di sebuah kafe dengan penerangan yang temaram, sepasang pemuda dan pemudi yang belum pernah mengenal sebelumnya memutuskan bahwa tidak ada salahnya bila mereka menggunakan malam ini untuk mengenal lebih jauh, diselingi dengan senyum kikuk dan obrolan absurd yang menunggu untuk diulik lebih lanjut.

Ya, di hari hujan ketika mawar terlalu lelah dan lupa untuk keluar dari kuncupnya.

***

lanjutkan baca

Di hari hujan [1]

If I were the rain could I connect with someone’s heart just as it can unite the eternally separated earth and sky?

***

Lanjut Baca »

Teman-teman saya mungkin tahu, bila berhubungan dengan luar negri, cita-cita terbesar saya adalah menghadiri conclave dan mengikuti misa—apapun—di bawah naungan atap Basilika St. Peter, Vatikan. Bagi saya, yang menarik dari dua hal tersebut bukanlah statusnya sebagai sebuah ritual keagamaan, tapi kemegahan dari ritual itu sendiri. Bagaimana prosesi demi prosesi yang dilakukan ketika seorang paus dinyatakan meninggal (ya, saya tidak tertarik dengan conclave yang terjadi karena mundurnya seorang paus, tetapi conclave yang dilakukan karena paus tersebut sudah kembali pada penciptanya) sampai akhirnya ditetapkan paus yang baru.

Itu tentang conclave, sementara untuk cita-cita saya yang satu lagi hanyalah bonus saja. Bagi saya, doa yang dipanjatkan saat misa tidaklah penting, tetapi sama seperti saat saya mendengarkan adzan atau suara orang mengaji, doa kepada Tuhan selalu memiliki nuansa yang mistis. Kelebihan dari misa ini adalah karena dia dilakukan di bawah kubah gereja yang sangat megah. Itu, bagaimanapun juga, bagi saya sangat mengagumkan.

Beberapa saat lalu, seorang paus telah menyatakan pengunduran dirinya, dan conclave pun diadakan, paus yang baru telah terpilih. Selamat kepada umat katolik yang telah mendapatkan wakil-Nya di atas Bumi.

lanjutkan membaca

Hei, kamu…

digital-photography-school.com

Aku tak pernah suka berpergian dengan pesawat terbang. Meski itu bisa memangkas ratusan kilometer antara kotaku dengan kotamu menjadi sekadar lima puluh menit yang penuh buncahan rindu, aku tak pernah suka—tak akan pernah suka. Terlebih kini, ketika waktu yang sudah lima puluh menit itu berubah menjadi sembilan puluh menit. Bangkok menuju Jakarta, kembali pulang ke kotamu tapi bukan pelukanmu, meski kau masih di sisiku. Ya, begitu…,

lanjutkan membaca

It was always a bless—and a blast—to find a new quite and peaceful place to refresh your soul. Luckily, I had it last weekend when I went to Sumberwatu. At first, it was really tiring cause I wanted to go to several uncommon temples (Hindu’s and Buddha’s) such as Banyunibo Temple, Barong Temple, Sojiwan Temple, and Archa Ganesha. I’m not gonna lie to you, it was really-really tiring for the accommodation is not as easy as if you want to go to such a well-known temple like Prambanan Temple. But in the end, all the efforts were payed off.

All of those beautiful temples and the green scenery presented, it was really worth it. Moreover, at the end of our journey, we spent our afternoon waiting sunset at Abhayagiri Restaurant, the only reason why I stopped complaining about all the tiring things I did that day.

here goes nothing

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: