Seorang anak tengah berkutat sendirian di depan laptopnya. Sepertinya anak tersebut telah lama berhadapan dengan laptop tersebut, dapat dketahui pula bahwa dia sangat serius dengan apapun yang tengah dikerjakannya. Anak itu tidak menyadari bahwa langit sudah lama gelap. Jendela kamarnya masih terbuka dan lampu belum juga dinyalakan. Sesekali anak itu mengacak rambutnya. Sepertinya dia kesusahan dalam usahanya menyelesaikan pekerjaannya tersebut. Konsentrasinya mulai mengendor, dia mulai memperhatikan sekelilingnya. Menyadari bahwa hari sudah malam, tersentaklah dia dan dengan terburu-buru ditutupnya jendela kamarnya. Kini sumber penerangan dalam kamar tersebut hanya dari layar laptopnya. Termenung anak tersebut, diam di depan jendela yang baru saja ditutupnya.
Dengan langkah malas anak itu kembali ke depan laptopnya. Tidak memiliki niatan untuk menyelesaikan pekerjaannnya, anak itu menutup window-window di layar laptopnya dan menyalakan fungsi pemutar musik laptopnya. Setelah mematikan backlight layar laptopnya dia merebahkan dirinya untuk menikmati lagu yang baru saja diputarnya dengan lebih khidmat.
Dengan matinya satu-satunya sumber penerangan di kamar itu, kini kamar itu benar-benar dalam keadaan yang gelap total. Hanya ada seberkas sinar bulan yang samar-samar masuk menerobos kisi-kisi ventilasi kamar tersebut. Namun tetap saja tidak mampu menerangi keseluruhan kamar itu. Lagu slow yang agak lembut pun mengalun keras dari laptop anak tersebut. Memang benar, demi kepuasaannya sendiri anak itu mengencangkan volume laptopnya tanpa mempedulikan orang lain yang mungkin terganggu dengan suara sekencang itu. Ahh tapi anak tersebut tidak seegois itu karena dia cukup baik hati untuk mengenakan headset.
Satu-satu lirik lagu tersebut mengalun. Anak itu hanya menutup mata mencoba meresapi dan merenungi setiap lirik yang dapat dia tangkap.
Hey dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
And do you think I’m wasting my time doing things I wanna do?
But it hurts when you disapprove all alongAnd now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good enough for you
I can’t pretend that
I’m alright
And you can’t change me
Ahh… lagu ini benar-benar mengngatkannya pada hubungannya sendiri dengan ayahnya yang tidak terlalu akur. Memang menyakitkan bila orang tua tidak merestui setiap tindakan yang kita ambil begitu pikir anak tersebut.
“Benarkah bahwa semua yang aku lakukan ini salah ? Tahukah kamu, Aku melakukan semua ini untukmu… Agar kau mau berpaling dan manatapku… Agar kau mau mengakuiku… dan bangga denganku… Salahkah itu semua ?”
‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect
“Maafkan aku bila aku tidak sesuai dengan harapanmu… Ya aku tahu aku mengecewakanmu… Aku sadar itu…”
I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spent with me
Now seem so far away
And it feels like you don’t care anymoreAnd now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good enough for you
I can’t stand another fight
And nothing’s alright
Sejenak kenangan akan masa lalu melintas di kepala anak itu. Kenangan-kenangan yang tidak terlalu buruk tentang ayahnya yang menyayanginya. Tentang ayah yang selalu dielu-elukannya. Tapi kenangan memang hanya kenangan. Kenyataan yang ada sekarang sngguh berbeda. Perbedaan pendapat selalu menjadi alasan pertengkaran diantara mereka berdua. Memang benar, perbedaan pendapat seharusnya dihargai dan dapat membuat hubungan makin indah. Namun ikatan diantara mereka berdua justru memperparah keadaan tersebut. Ikatan orang tua dan anak. Ikatan darah dan daging yang kuat. Pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi dan tidak akan ada yang sanggup menahan itu semua bila masih terus saja berlangsungterus-menerus.
Nothing’s gonna change the things that you said
Nothing’s gonna make this right again
Please don’t turn your back
I can’t believe it’s hard
Just to talk to you
But you don’t understand
“Ahh… Kenapa kau tidak mau mendengarkanku ? Kenapa susah sekali untuk meraih apa yang aku inginkan ? Kenapa kau terus mencelaku dan membuatku jatuh ? Kenapa ?”
Tiba-tiba anak itu tersentak. Tiba-tiba dia menyadari bahwa dia selama ini bertindak egois. Ini bukan salah ayahnya yang selalu menentang semua keinginannya. Ini adalah kesalahannya yang tidak mau mengerti keinginan ayahnya. Anak itu pun berpikir ulang… Bukankah setiap ayah ingin yang terbaik untuk anaknya dan ngin pula anaknya menjadi yang terbaik. Ya ternyata selama ini dia terlalu egois untuk berpikir. Bukankah orang tuanya juga pernah merasakan menjadi anak-anak sepertinya ? Bukankah itu berarti bahwa mereka bisa mengerti perasaan anak-anaknya ? Bagaimanapun orang tua menentang setiap keputusan anaknya… Bagaimanapun orang tua mengatur anaknya… Itu semua dilakukan bukan untuk membuat anaknya jatuh, tapi untuk menjadikan anaknya sebagai yang terbaik….
Air mata pun mengalir di pipi anak tersebut. Ditengah lelah tangisnya, anak itu pun tertidur. Sementara itu, sayup-sayup masih terdengar sisa lagu dari headset anak itu…
‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect
yah endingnya malah jadi jelek…
Salah satu bagian penting menuju kedewasaan bagi seorang anak laki-laki adalah mengerti bahwa ternyata ayahnya bukan sosok sempurna, melainkan hanya seorang ayah yang ingin menjadi sempurna di depan anaknya…
ahh…. saya justru tidak menyadari itu…
well… ikatan darah itu justru memperburuk….
ayah ingin yang terbaik untuk anaknya, anak ingin agar ayahnya bangga…
dengan jalan masing-masing…
Cup cup cup, jangan nangis Cel…
Hehehe
BTW saya juga suka lagunya Simple Plan, yang Untitled coba dengerin juga Cel
Ah, tanpa Ayah apa jadinya diriku ini…
Akhirnya yang macet diselesaikan juga…
Sayah kalo ribut sama bokap ndak main teriak ndak main tangan tapi main tindakan je. Dan itu nggak lebih baik
ahh kalian memang anak anak yang berbakti
#mb… coba yang crazy deh
yeah… tapi balik lagi… karena ayah dan anak nggak bisa berkomunikasi dengan baik, bisa jadi juga malah kacau kan…???
#jumawa… tapi jadinya jelek… huweeeeeeengggg… ahh ya sudah…
eh tapi belum tentu tindakanmu yang benar dan tidak selalu tindakan bokapmu yang salah kan..???
Lagunya keren pas dinyanyiin di karaoke kemaren.
*nggak fokus*
halah fasrid
Sayah memang
selalu ndakndak selalu benar..Tapi tanpa kongmunikasi kami sama2 main tindakan gituh.. Dan itu juga ndak baik
maap lahir batin kang.. *kata2 sebelumnya cuma pengantar*
rrrrrr. nak, rasa-rasanya defini komunikasi itu interaksi antara dua orang atau lebih yang timbal-balik dan berkesiambungan. jadi tindakan-tindakan kalian itu ya termasuk bentuk komunikasi. Apakah komunikasi itu komunikasi yang benar atau salah, bukan hak saya untuk memutuskan, apalagi memperbaiki.
*lha wong aku sendiri masih morat-marit ndak karuan gini*
dude,all that your old man wanted is to hook himself up with..i dunno ? some prostitute from nowhere i guess?
if any child can even able to tollerate that kinda out-of-think predecessorical state of lust…
then blood really is the thickest of any liquid.
true,not even considering of whatever beseated within your celebral cortex;wich make out your common sense or sort of.. is really take a form of a liquid.
cogito ergo sum.if you know that you right,so that’s that!
sorry, i can’t speak english
so I don’t know what are you talking about -_- bubye~~
eh ini aku nggak lagi ngomongin bapakmu lho… bapakmu sih yo ngono kuwi…
oia,aq baru inget nek kowe kuwi gak dilahirno.mbiyen kan makmu tuku rinso 2 trus berhadiah kowe 1 =))