Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Proyek #3Penguasa. Ini adalah bagian pertama, bagian kedua bisa dilihat di blog @IndahJuli sementara bagian ketiga akan ditulis di blog @mbitmbot. Selamat menikmati.
* * *
Salju tidak akan turun malam ini…, itu yang mereka bilang.
—itu juga yang tadinya aku yakini
“Sepertinya salju tidak akan berhenti hingga besok pagi,” keluh seorang gadis pelayan selagi menuangkan kopi di cangkirku. Aku hanya bisa tersenyum lemah, samar dan nyaris sia-sia. Gadis itu—namanya Mia, setidaknya itu yang kulihat dari nametag yang dikenakannya—begitu fokus pada serius memindahkan cairan hitam pekat dari tekonya hingga hampir-hampir tidak memandang ke arah lain selain cangkir kopiku, apalagi begitu iseng melihatku tersenyum, jadi aku melanjutkan dengan anggukan sederhana.
“Ya, sepertinya memang begitu,” balasku, basa-basi saja karena gadis itu toh langsung pergi lagi mengurus pelanggan lain setelah menyempatkan diri balas tersenyum.
… ya, sepertinya memang begitu, ulangku dalam hati.
Kuambil cangkirku, kusesap sedikit sebelum meletakkannya kembali di atas tatakannya. Pahit, meski rasanya tidak sepahit keadaanku saat ini. Mereka bilang setiap orang adalah penguasa dari hidupnya masing-masing. Tadinya, aku adalah salah seorang dari mereka itu. Aku masih berpikir seperti itu, setidaknya sampai salju memutuskan untuk turun dan membuatku berpikir ulang…, bahwa aku tidak benar-benar bisa menguasai hidupku sendiri. Kuedarkan pandanganku, pada salju yang mulai menumpuk di luar sana, pada pelanggan-pelanggan lain yang tak bisa segera bertemu dengan keluarganya masing-masing karenanya. Aku tersenyum, setidaknya aku tak sendirian dalam hal ini.
Seorang gadis, kuperhatikan sejenak, tampak begitu gusar dengan segelas latte yang sama sekali tidak tersentuh. Beberapa kali kulihat gadis itu dengan tidak sabaran melemparkan pandangannya ke luar jendela. Hampir setiap waktu, seolah-olah salju akan berhenti turun dan dia ketinggalan momen tersebut karena memandang ke arah lain. Kenyataannya tidak demikian, benda putih bersegi banyak itu toh terlalu egois untuk menuruti keinginan gadis itu—juga keinginanku. Salju-salju itu terus saja menumpuk semakin tinggi, berbanding terbalik dengan harapanku yang kian surut.
Kusesap sekali lagi minumanku, masih tetap hangat meski sedikit pahit, getir.
Kuedarkan kembali pandanganku. Di mataku hanya para pramusaji-pramusaji itu saja yang tetap berwajah cerah. Sedikit letih, memang, tapi salju yang terus turun ini memang memberikan keuntungan bagi mereka. Orang-orang terus datang dan mengeluh, meredam keinginannya untuk segera pulang tapi tetap saja memesan karena memang hanya itu yang bisa mereka lakukan—dan itu berarti pemasukan tambahan bagi tempat ini.
Aku terkekeh kecil, geli memikirkan bagaimana salju yang mendadak turun tanpa membawa undangan bisa mempengaruhi banyak kehidupan.
… ah, mungkin salju-salju itulah penguasa sebenarnya dari kehidupan ini, kehidupanku.
Kuperhatikan lagi gadis yang menempati meja di hadapanku. Dia masih setia pada usahanya untuk menghentikan hujan salju dengan terus melongok ke luar jendela. Dia gadis yang cantik, sebenarnya…, kulitnya putih dan rambut hitamnya yang sedikit kemerahan itu dibiarkan terurai, sedikit basah karena salju-salju yang terkutuk itu mungkin sempat mendarat di sana. Ya, dia gadis yang cantik. Bahkan, bibirnya yang cemberut karena tak bisa mengalahkan alam itu tidak mengurangi kecantikannya. Sebaliknya, justru menambahkan karakter tertentu pada pembawaannya yang sudah cantik itu.
Kuikuti arah pandangannya, pada salju yang menumpuk tebal di luar sana. Kaca jendela sedikit memantulkan wajahku. Aku memang tidak secantik gadis yang masih gusar di depanku itu, tidak akan mungkin bisa, tapi kulihat-lihat lagi, wajahku tidak bisa dibilang buruk juga, biasa-biasa saja. Toh tak ada gunanya, elok tidaknya wajahku tidak akan mempengaruhi turunnya salju di luar sana, kan? Aku tersenyum sendiri menertawakan kebodohanku.
Malam ini sebenarnya romantis, sungguh…, dengan adanya salju yang tak ubahnya derai air mata yang akan selalu turun, juga dengan lampu jalan yang malas-malasan bersinar temaram. Malam ini sebebarnya bisa menjadi malam yang romantis. Aku memang bodoh karena malah berpikir seperti itu, bukannya marah-marah seperti pelanggan lainnya di ruangan ini. Aku sempat marah, tadi…, tapi kupikir tidak ada salahnya juga mengesampingkan perasaanku sendiri. Duduk sejenak seperti ini, memikirkan orang-orang lain. Yah, walaupun orang-orang itu bukan orang-orang yang kukenal dan kecil sekali kemungkinannya bagi mereka untuk balik memikirkanku.
Tapi aku suka, sudah lama aku tidak mengamati orang lain seperti sekarang.
Kulihat lagi salju yang belum bosan mengganggu habis-habisan jadwal yang sudah kususun jauh-jauh hari untuk malam ini. Kulihat juga gadis di hadapanku yang sepertinya sudah berkompromi sepertiku—sudah tak lagi melihat ke luar jendela tiap berapa detik sekali. Uap panas masih mengepul dari cangkirku. Hmm…, sepertinya ini akan jadi malam yang panjang.
Sekali lagi kusesap kopiku dengan caraku menyesapnya, mencecap kenikmatan secangkir kopi memang bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, kan? Lalu…, sadarlah aku, gadis di hadapanku pada akhirnya ikut juga mengamatiku, dia tersenyum malu-malu dengan pipi yang kemerahan ketika matanya bertemu dengan mataku. Aku balas tersenyum, mungkin salju yang mendadak turun ini memiliki arti…,
… mungkin aku masih bisa menjadi penguasa atas hidupku sendiri.
[...] 12 @celotehsaya : Di suatu persimpangan hidup seorang Aku ketika malam bersalju dan harapan mulai berkedip-kedip padam @IndahJuli : @mbitmbot [...]
Aaarrrgh, mati gaya, ngeblank buat ngelanjutin, ceritanya bikin penasaran, bukan aku kan yang ngelanjutin
Hush, ayo buruan lanjutin
iya critanya bikin minder, haduh bsuk klo endingnya ga nendang gimana inih??