***
What will you choose, slow painful death by disease…, or watching the love of your life die a slow painful death by disease?
— Julie Keller
***
Diposkan dalam film, rekomendasi, renungan, review, rumah tangga, sosial pada April 3, 2013 | 1 Komentar »
***
What will you choose, slow painful death by disease…, or watching the love of your life die a slow painful death by disease?
— Julie Keller
***
Diposkan dalam cinta, curhat, renungan, rumah tangga, selamat, sosial, ulang tahun pada Maret 28, 2013 | 9 Komentar »
Hmm…, apa nih? Juno’s Bride? Juno yang dimaksud di sini adalah salah seorang dewi dalam mitologi Romawi (kerap diasimilasikan dan dikenal sebagai Hera, dewi pada mitologi Yunani) yang merupakan dewi perlindungan pernikahan (dan kaum perempuan Roma—yang tidak relevan dengan postingan ini
). Sementara, bride di sini merujuk pada artinya secara harafiah: Pengantin.
Juno’s bride tidak secara spesifik berarti penganti Juno karena sebagai dewi yang melindungi pernikahan, rasa-rasanya semua pengantin di dunia ini memang pengantinnya dia, kan? Juno’s bride adalah istilah yang umum digunakan oleh orang-orang yang menikah di bulan Juni. Mereka beranggapan bila mereka menikah di bulan Juni, bulan yang sering diasosiasikan dengan Juno, pernikahan mereka akan mendapatkan berkah dari Juno sendiri (padahal ya memang tugasnya Juno, lho, buat memberkati setiap pernikahan, gak ngerti lagi deh sama pikiran cewek-cewek ini kok sampe bisa segitunya). Yah, intinya postingan ini akan sedikit banyak membahas tentang pernikahan
Diposkan dalam agama, renungan, review, sosial pada Maret 17, 2013 | 13 Komentar »
Teman-teman saya mungkin tahu, bila berhubungan dengan luar negri, cita-cita terbesar saya adalah menghadiri conclave dan mengikuti misa—apapun—di bawah naungan atap Basilika St. Peter, Vatikan. Bagi saya, yang menarik dari dua hal tersebut bukanlah statusnya sebagai sebuah ritual keagamaan, tapi kemegahan dari ritual itu sendiri. Bagaimana prosesi demi prosesi yang dilakukan ketika seorang paus dinyatakan meninggal (ya, saya tidak tertarik dengan conclave yang terjadi karena mundurnya seorang paus, tetapi conclave yang dilakukan karena paus tersebut sudah kembali pada penciptanya) sampai akhirnya ditetapkan paus yang baru.
Itu tentang conclave, sementara untuk cita-cita saya yang satu lagi hanyalah bonus saja. Bagi saya, doa yang dipanjatkan saat misa tidaklah penting, tetapi sama seperti saat saya mendengarkan adzan atau suara orang mengaji, doa kepada Tuhan selalu memiliki nuansa yang mistis. Kelebihan dari misa ini adalah karena dia dilakukan di bawah kubah gereja yang sangat megah. Itu, bagaimanapun juga, bagi saya sangat mengagumkan.
Beberapa saat lalu, seorang paus telah menyatakan pengunduran dirinya, dan conclave pun diadakan, paus yang baru telah terpilih. Selamat kepada umat katolik yang telah mendapatkan wakil-Nya di atas Bumi.
Diposkan dalam curhat, renungan, sosial pada Januari 21, 2013 | 12 Komentar »
Ha, menembus batas gender? Sejujurnya saya juga tidak tahu kenapa bisa dibilang seperti itu. Padahal, kalau sepengetahuan saya, gender dan sex itu berbeda. Iya, gender dan jenis kelamin itu tidak sama. Sex, atau jenis kelamin—for those who have “eastern” tender ears, itu menurut saya sudah digariskan. Kamu terlahir dengan penis, maka kamu laki-laki, dan bila kamu terlahir dengan vagina maka kamu seorang perempuan. Sementara itu, gender adalah peran dan peran ini sangat tergantung dengan pilihan yang diambil. Tidak semua yang memiliki penis memilih untuk berperan sebagai laki-laki, dan begitu pun sebaliknya. Peran yang dipilih ini bisa apapun dan seharusnya tidak ada yang boleh melarang, karena itulah gender sering disebut sangat cair.
Kira-kira begitulah yang selama ini saya pahami, kalau ada yang salah mohon dikoreksi secepatnya
Nah, sekarang kembali ke judul.
Diposkan dalam curhat, renungan, sosial pada November 3, 2012 | 6 Komentar »
Dulu…, dulu banget waktu orang-orang masih sibuk ngomongin global warming (sekarang udah pada bosen ngomongin ini kan ya? Agak-agak jarang denger lagi deh) dan saya masih belum terlalu peduli dengan tatanan yang ada pada masyarakat sosial, seorang pito berkata pada saya. “Geser pantat sedikit, lah. Lihat dari sudut yang berbeda.”
… pagi ini saya dengar lagi petuah tersebut dari orang yang berbeda, tentu dengan kemasan yang tak sama pula.
Diposkan dalam cengeng, cinta, curhat, kuliah, renungan, rumah tangga, saran, sosial pada Februari 2, 2012 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Akhir-akhir ini saya lagi seneng banget dengerin Sixteen Going On Seventeen yang pertama kali dipopulerkan oleh film The Sounds Of Music. Gak bisa ditampik sih, lagu-lagu macam ini tuh selain iramanya enak, liriknya juga cukup jujur dan apa adanya. Tidak terlalu banyak kata-kata bersayap yang bikin bingung atau yang semacamnya. Yah, niatnya dengerin musik kan memang untuk refreshing, apa kabar aja sih kalau udah bingung harus dengerin irama berbahasa Inggris, eh isinya tidak bisa langsung dipahami, meh! Tapi, sejujur dan se-apa-adanya sebuah lagu, tetap saja ada moral-moral atau makna tersembunyi yang bisa ditarik…, tak terkecuali dengan lagu yang satu ini. Makna-makna tersembunyi yang bisa banyak banget untuk dipelajari satu per satu seiring dengan tingginya ilmu utak-atik gathuk yang kita miliki.
Diposkan dalam agama, curhat, perjalanan, renungan, satir, sosial pada Maret 4, 2011 | 15 Komentar »
Ada satu idiom yang menarik kita ada seseorang bertanya kepada, apakah sebenarnya Tuhan itu? Beberapa akan menjawab dengan idiom ini, “God is a director,” sementara beberapa yang lain hanya sekedar tahu saja tentang idiom tersebut. Yah, intinya… itu bukan sebuah idiom yang asing.
Kenapa Tuhan disebut sebagai seorang sutradara? Sebenarnya sederhana saja, karena hidup ini adalah sebuah panggung sandiwara, dan Dia yang duduk di singgasananya tersebut hanya tinggal mengarahkan di awal, dengan ketetapan-ketetapan yang dia buat, aturan, serta naskah yang biasanya dijadikan pedoman dalam berpentas. Lebih dari itu, manusia tak ubahnya seorang aktor ataupun aktris, kesempurnaan ideal hanya ada pada Tuhan sebagai seorang sutradara, dan acap kali, tidak jarang juga manusia bisa dengan sempurna mengikuti idealisme yang diikuti oleh-Nya. Bila sudah seperti ini, free will yang diberikannya pun menjadi pembenaran bagi setiap improvisasi yang dilakukan oleh manusia di atas panggung kehidupannya. Kadang, improvisasi ini bisa mendekati dengan pedoman yang ada pada naskah… dan itu berarti kadang ada juga improvisasi yang membuat panggung kehidupannya hancur tidak karuan.
Diposkan dalam nasional, saran, sosial pada November 7, 2010 | 6 Komentar »
Ngerumpi punya acara, semacam csr ndak wajib untuk meringankan beban para pengungsi korban bencana meletusnya Gunung Merapi—ha ya ndak wajib, ngerumpi bukan korporat jhe. Diprakarsai oleh rasa kemanusia, dan dilakukan secara langsung dan tidak langsung oleh warga ngerumpi dan juga beberapa dermawan lainnya yang mau berkorban. Siapa yang jadi pionirnya? Ya, sebenarnya ndak perlu ambil credit lah, tapi kalau memang perlu, @chiilmill bisa disantuni kredit sebagai pencetus ngerumpi punya gawe yang satu ini? Acaranya? Banyak, tapi kurang lebih sama, kita berbagi sedikit apa yang kita miliki untuk para korban bencana yang tengah mengungsi dimana-mana itu.
*lirik judul*
Owkey, salah satu dari sekian banyak social media yang saya pantengi untuk mengikuti perkembangan zaman melalui informasi-informasi berharga—walau yang nggak nyampah juga banyak—itu twitter. Tidak bisa menutup mata, dengan adanya program ini, saya yang kebetulan berada di Jogja dan beberapa kali ikut medistribusikan bantuan dari teman-teman sekalian ke posko-posko pengungsian beberapa kali disebut sebagai saints oleh beberapa orang. Nggak munafik, sebagai manusia biasa saya cukup tersungging juga dengan sebutan itu, sungguh, saya sangat menghargainya
Tapi sebagai manusia biasa juga, yang kurangnya banyak sekali, saya cukup terkonclang, terdiam, dan malu seketika kala introspeksi dengan sebutan itu. Ya, saints… jamak, bersama dengan teman-teman lainnya yang mungkin memang pantas menyandang sebutan itu.
Tapi saya ndak bisa merasa seperti itu e tweeps ^^
Bagi saya, saints itu julukan yang bahkan lebih tinggi daripada gelar Pahlawan Nasional. Ya. Dan bagi saya pribadi, seseorang itu baru bisa disebut sebagai Pahlawan Nasional ketika dia memberikan derma bagi bangsa yang bisa dirasakan khalayak ramai, dan derma itu dilakukan dari kodratnya sebagai seseorang dengan jabatan dan kondisinya yang memungkingkeun untuk melakukan derma tersebut. Singkatnya, Pahlawan Nasional itu jasanya dilakukan diluar apa yang memang harus dilakukan
Kalau boleh memberikan contoh, saya ndak bisa merasa kalau seorang—ehem, mantan—presiden dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional karena usahanya dalam memajukan bangsa… karena memang itulah tugasnya sebagai seorang presiden. Dan saints itu lebih tinggi lagi derajatnya daripada itu.
Saya bukannya mau merendah, saya memang rendah dan sama sekali ndak maha, apalagi sok maha *keplak @centrino*
Kondisi saya memang mengharuskan saya berdomisili di Jogja yang banyak sekali kantong-kantong pengungsiannya. Di luar kewajiban saya, sebagai manusia saya toh memang bisa meluangkan sedikit waktu dan tenaga untuk ikut mendistribusikan bantuan dari teman-teman sekalian, itu bukan hal yang begitu susah karena saya memang seorang pengangguran yang waktu senggangnya begitu berlimpah. Jangan menyebut saya sebagai salah seorang saints karena melakukan pekerjaan yang begitu remeh tweeps ^^ Sungguh, saya tidak pantas disebut sebagai seorang saint—apalagi Saint Seiya, cuih!
Kalianlah para saints sesungguhnya tweeps
Kalian melebihi saya yang cuman leha-leha, duduk anteng dalem mobil, dengerin lagu secara pribadi dengan headset saya, dan nyanyi-nyanyi ngeriwuhi yang lagi nyetir. Sumpah, kalian, dengan semangat berbagi kalian, adalah saints sebenar-benarnya saint. Tanpa ada bantuan dari kalian, tanpa ada sedikit dana yang kalian kucurkan, tanpa ada keikhlasan yang kalian kucurkan, mungkin kami yang ada di Jogja ini tidak akan bisa bergerak sedikitpun kecuali sekedar cuap-cuap panik di berbagai social media, saya bisa jamin itu, setidaknya untuk saya sendiri
Jadi, tweeps, teruskan semangat berbagi kalian, jadilah saints dengan terus berderma sedikit dari yang kalian punya untuk Ngerumpi For Merapi ini melalui nomer rekening berikut:
Mandiri 137-000-6226647 a.n Matilda Narulita (chiil)
BCA 1260544205 a.n Galuh Kusumaning Tyas (sabishigaru)
Jangan lupa untuk crosscheck di 08562575899 setelah transfer
Semua bantuan yang kalian berikan akan kami belanjakan untuk keperluan para pengungsi di sekitar Jogja
Dan bagi kalian yang berada di Jogja dan ingin berbagi lebih jauh (selimut, selimut bayi, sabun, sikat gigi, dan juga peralatan mandi lainnya), kalian bisa menghubungi nomer di atas
Kalau bisa dijemput, akan kami jemput barangnya untuk didistribusikan. Untuk yang di Surabaya dan ingin berbagi hal yang sama, bisa menghubungi titutismail via twitter (@titutismail) atau Y!M (thoetzz@yahoo.com). Percayalah kawan, mereka sangat membutuhkan bantuan dari kalian, dan untuk itu kalian lebih pantas disebut sebagai seorang saints
Lalu untuk wilayah Semarang, saya mungkin tidak bisa seperti titut yang rela menjemput bola kapan saja. Khusus untuk wilayah Semarang, bila ingin turut berderma dalam Ngerumpi For Merapi, silahkan mulai kumpulkan selimut, selimut bayi, kue kering (sisa lebaran masih ada toh?), sikat gigi, serta peralatan mandi lainnya pada hari Senin besok (8 November 2010), saya akan mencoba menjemput barang-barang itu pada hari selasa (9 November 2010) dan besoknya akan saya serahkan pada @chiilmill untuk didistribusikeun. Sama seperti titut di Surabaya, njenengan bisa menghubungi saya via twitter (@celotehsaya) ataupun Y!M (naga.gini). Penting tweeps ^^ karena tanpa omong-omong dulu, saya ndak tau mesti jemput itu barang dimana
Last but not least *tsaaah*, bagi kalian yang memiliki kenalan yang ada kerabat di Jogja, atau bahkan kalian sendiri yang ada famili di Jogja… tolong dengan sangat, beritahukan pada mereka untuk tidak menonton berita tentang merapi. Ekstrim ya? Tapi setidaknya kalau memang kepepet nonton, tolong informasikan pada mereka untuk tidak langsung mengamini setiap informasi yang ada lalu cepat-cepat menyuruh anak-anak atau famili mereka supaya kabur dari Jogja tanpa menanyakan dulu kebenaran kabar tersebut dari mereka yang memang ada di Jogja
Ini penting, sumpah.
Begini, beberapa hari lalu memang benar zona awas merapi ditingkatkan hingga radius 20 kilometer. Artinya? Simpel tweeps, itu berarti makin banyak korban bencana dan pengungsi. Buru-buru menyelamatkan sanak-saudara padahal mereka berada di zona yang sangat selamat sama saja dengan mengurangi jumlah relawan yang siap sedia untuk membantu para pengungsi tersebut. Salahkan mass-panic, saya tetap akan menyalahkan media yang tidak reliable
Ok tweeps, mari berbagi
Diposkan dalam cinta, curhat, film, renungan, rumah tangga, sosial pada Maret 26, 2010 | 7 Komentar »
Tadi kebetulan liat drama semelekete. Biasa aja sih, dimana-mana drama plotnya ya berkisar di situ-situ aja. Ada cewek, ketemu cowok, dan perjuangan cinta mereka yang stripping setiap hari itu dibumbui bermacam-macam muka manis, lidah-lidah cadel, baju-baju bagus yang bikin ngiri… Wis, pokoknya sama sekali ndak matching sama karakteristik tokoh yang harus diperankan.
Cerita antara dua tokoh utama ditangguhkan sebentar. Filler, istilahnya. Dalam drama yang saya tonton itu diceritakan bahwa kerabat tokoh utama tidak memiliki tempat tinggal. Si perempuan yang nampak lemah ini kemudian terpaksa menumpang di rumah seorang mesum yang sudah beristri. Sudah bisa ditebak, bapak semang yang mesum ini akhirnya merayu si kerabat tokoh utama yang memang aduhai. Eh, mendadak si ibu semang masuk memergoki mereka.
… dan PLAK!!!
Diposkan dalam cengeng, cinta, renungan, satir, sosial pada Desember 31, 2008 | 31 Komentar »
Sambungan dari cerpen yang dibuat oleh maxbreaker. Tokoh-tokoh yang bermain dalam –so called– chapter 2 ini masih sama seperti sebelumnya. Ada Adit, Dina, Randu, Fadli, Telo, Sade, dan Gita Gutawa. WTF, ngapain ada Gita Gutawa disini. Berhubung saya agak ales-malesan bikinnya, dan lagi-lagi bikinnya juga pas ngantuk banget, Cerpennya jadi ngelantur kesana kemari panjang bener sumpah nauudzubillah dan rada sinetron. Oh iya, karakterisasinya dibuat sesuai cerpen yang dibuat oleh maxbreaker dan di-OOC-kan sesuai keadaan
silahkan menikmati.