<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>the end of trilogy</title>
	<atom:link href="http://celotehsaya4.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://celotehsaya4.wordpress.com</link>
	<description>4 always be the end of trilogy</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Apr 2013 18:51:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='celotehsaya4.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5135f2040666aac381beec3e6200a2b3?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>the end of trilogy</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://celotehsaya4.wordpress.com/osd.xml" title="the end of trilogy" />
	<atom:link rel='hub' href='http://celotehsaya4.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Friends With Kids (2011)</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/04/03/friends-with-kids-2011/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/04/03/friends-with-kids-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2013 18:40:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[*** What will you choose, slow painful death by disease&#8230;, or watching the love of your life die a slow painful death by disease? — Julie Keller *** Cerita dimulai dari&#8230;, saya lupa Intinya adalah sepasang sahabat, sebut saja Jullie dan Jason, yang kemudian mengambil keputusan besar atas hidup mereka. Berawal saat bagaimana teman-teman mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=368&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center">***</p>
<blockquote><p>What will you choose, slow painful death by disease&#8230;, or watching the love of your life die a slow painful death by disease?<br />
<b>— Julie Keller</b></p></blockquote>
<p align="center">***</p>
<p><span id="more-368"></span></p>
<p align="justify">Cerita dimulai dari&#8230;, saya lupa <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Intinya adalah sepasang sahabat, sebut saja Jullie dan Jason, yang kemudian mengambil keputusan besar atas hidup mereka. Berawal saat bagaimana teman-teman mereka begitu direpotkan oleh anak mereka masing-masing dalam kehidupan rumah tangganya, sepasang sahabat kita ini pun mulai menanyakan. Mungkinkah mereka memiliki anak, karena keduanya merasa anak adalah sesuatu yang sangat mengagumkan, tanpa harus melewati kerepotan kehidupan rumah tangga dan perceraian yang menunggu di ujung sana yang bisa mengganggu keromantisan hubungan platonik di antara keduanya.</p>
<p align="justify">Jawabannya adalah: bisa.</p>
<p align="justify">Keduanya memutuskan untuk memiliki anak, tanpa menikah, tanpa komitmen tentang hubungan mereka sendiri. Membesarkan anak tersebut berdua secara equal. Bertemu dengan orang-orang yang ingin mereka nikahi dan menjalani kehidupan pernikahan dengan orang-orang tersebut. Kedengarannya memang gila, tapi pada kenyataannya Jason dan Jullie bisa melakukannya dengan baik. Bahkan, keduanya tampak lebih bahagia bila dibandingkan dengan teman-teman mereka lainnya yang punya anak dari hubungan pernikahan.</p>
<p align="justify">Status hubungan Jason dan Jullie hanyalah sebatas sebagai orang tua dari Joe. Selebihnya, Jullie punya pacar sendiri dan Jason pun demikian (dengan Megan Fox yang cantiknya amit-amit di film ini <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> ). Lalu, apakah masalah selesai sampai di sini? Tentu tidak. Layaknya film-film <i>romantic comedy</i> lain, pasangan kita ini akhirnya menyadari kalau mereka saling jatuh cinta padahal mereka sudah nyaman dengan kekasih masing-masing dan anak mereka yang masih dua tahun itu tentu belum keberatan dengan apapun yang terjadi. Lalu, seperti film-film sejenis lainnya, Jason dan Jullie pun menemukan <i>happy ending</i> mereka dengan cara mereka sendiri.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Untuk ukuran sebuah film, jangan berharap terlalu banyak dengan Friends With Kids ini <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Bukan apa-apa, dengan genre romcom, jelas Friends With Kids tidak akan menawarkan banyak hal selain humor dengan selingan drama berurai air mata (atau minimal ya menggetarkan hati, lah). Alurnya linear dan konfliknya tidak terlalu mengagumkan. Premisnya pun mungkin tidak spesial meskipun memang menarik. Ya, saya merasa premis yang ditawarkan tidak spesial karena saya sendiri memang pernah berpikir, kurang lebih sama, tentang itu. Saya <a href="http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/28/junos-bride/">sudah pernah bilang</a> kalau ada kalanya saya hanya ingin menikah sebentar saja hanya demi mendapatkan anak kemudian cerai.</p>
<p align="justify">Namun, Friends With Kids patut diacungi jempol karena hanya dengan premis yang tidak terlalu spesial itu, dia berhasil memasukkan banyak tanda tanya di hati penontonnya. Pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat premis bersangkutan tidak segampang apa yang dilakukan oleh Jason dan Jullie.</p>
<p align="justify">Sebagian besar orang, dengan alasannya masing-masing yang egois, pasti ingin memiliki anak. Tetapi, memiliki anak itu memang tidak semudah bercinta tanpa pengaman di saat ovarium siap dibuahi. Ada masa sembilan bulan di mana perempuan menjadi tidak stabil secara hormonal akan disusahkan oleh si jabang bayi (walau saya berani bertaruh banyak juga ibu yang menganggap itu tidak menyusahkan meskipun tetap mengumpat setiap kali punggungnya capek selama mengandung). Terlebih di sini, di Indonesia, di mana kelahiran seorang bayi dilegalkan dengan lembaga pernikahan. Memiliki anak berarti menandangi komitmen yang tanpa batas dalam kehidupan rumah tangga dan itu, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, sama sekali bukan sesuatu yang mudah.</p>
<p align="justify">Semua kesulitan di atas itu baru masalah-masalah yang muncul saat <i>pembuatan</i> anak, membesarkannya tentu mengundang permasalahan yang lain lagi. Bagaimana menjadi orang tua yang bersikap sebagai orang tua, tidak semua orang bisa melakukannya. <i>Parenting</i> merupakan isu yang cukup krusial bagi saya, karena apa-apa saja yang dilakukan oleh orang tua tidak hanya akan mempengaruhi hidup mereka saja tetapi juga mempengaruhi hidup anaknya. Butuh komitmen yang lebih hebat lagi untuk memiliki anak. Jason dan Jullie pun demikian, mereka memiliki masalah-masalahnya sebagai orang tua, bagaimana mereka harus menjelaskan pada Joe kenapa Daddy tidak bisa bermalam di rumah Mommy atau menjelaskan bagaimana ia dibuat ketika kedua orang tuanya tidak saling mencintai. Namun demikian, setiap orang tua pasti sadar kalau mereka tidak bisa membesarkan anak mereka semata-mata dengan cinta, kan?</p>
<p align="justify">Mungkin Friends With Kids bukan film terbaik yang pernah saya tonton, tapi harus saya akui film ini mampu membangkitkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang penting untuk ditanyakan ketika kita akan membangun sebuah komitemen, apapun itu. Terima kasih untuk <a href="http://www.bisikanbusuk.com/">Bara</a> yang sudah meminjamkan DVD film ini <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=368&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/04/03/friends-with-kids-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Juno&#8217;s Bride</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/28/junos-bride/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/28/junos-bride/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 23:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[selamat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Hmm&#8230;, apa nih? Juno&#8217;s Bride? Juno yang dimaksud di sini adalah salah seorang dewi dalam mitologi Romawi (kerap diasimilasikan dan dikenal sebagai Hera, dewi pada mitologi Yunani) yang merupakan dewi perlindungan pernikahan (dan kaum perempuan Roma—yang tidak relevan dengan postingan ini ). Sementara, bride di sini merujuk pada artinya secara harafiah: Pengantin. Juno&#8217;s bride tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=366&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Hmm&#8230;, apa nih? Juno&#8217;s Bride? <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Juno_(mythology)">Juno</a> yang dimaksud di sini adalah salah seorang dewi dalam mitologi Romawi (kerap diasimilasikan dan dikenal sebagai <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hera">Hera</a>, dewi pada mitologi Yunani) yang merupakan dewi perlindungan pernikahan (dan kaum perempuan Roma—yang tidak relevan dengan postingan ini <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ). Sementara, <i>bride</i> di sini merujuk pada artinya secara harafiah: Pengantin.</p>
<p align="justify">Juno&#8217;s bride tidak secara spesifik berarti penganti Juno karena sebagai dewi yang melindungi pernikahan, rasa-rasanya semua pengantin di dunia ini memang pengantinnya dia, kan? Juno&#8217;s bride adalah istilah yang umum digunakan oleh orang-orang yang menikah di bulan Juni. Mereka beranggapan bila mereka menikah di bulan Juni, bulan yang sering diasosiasikan dengan Juno, pernikahan mereka akan mendapatkan berkah dari Juno sendiri (<del datetime="2013-03-28T22:24:21+00:00">padahal ya memang tugasnya Juno, lho, buat memberkati setiap pernikahan, gak ngerti lagi deh sama pikiran cewek-cewek ini kok sampe bisa segitunya</del>). Yah, intinya postingan ini akan sedikit banyak membahas tentang pernikahan <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-366"></span></p>
<p align="justify">Pandangan saya tentang pernikahan, terus terang saja tidak pernah <i>ajeg</i>. Bahkan sampai sekarang. Saya ingat sekali, saat saya kecil dulu, saya ingin menikah di usia dua puluh lima. Sampai sekarang cita-cita saya itu kadang masih melintas walau mungkin intensitasnya tidak semuluk dulu ketika cita-cita ini dicanangkan. Bagi saya, ada kenikmatan sendiri andai saja saya bisa menikah di usia yang tergolong muda. Dua puluh lima itu angka yang pas menurut saya. Seperempat abad. Menikah, punya anak secepatnya, dan ketika anak saya sudah berusia lima belas, saya masih empat puluh awal. Sedang produktif-produktifnya untuk ditodong beli motor atau kenaikan uang saku. &#8220;Pa, kan aku udah lima belas, tahun depan udah masuk SMA, masa uang sakunya masih segini aja, sih?&#8221;</p>
<p align="justify">—<i>Stuffs like that</i>.</p>
<p align="justify">Seiring bertambahnya umur, saya mulai sadar menikah itu bukan hal yang mudah dilakukan. Itu komitmen seumur hidup, saya harus membiayai keluarga saya. Dua puluh lima mungkin masih terlalu muda, baik secara finansial maupun emosional, untuk tanggung jawab sebesar itu. Menjadi kepala keluarga dan membiarkan beban hidup orang lain di punggung saya. Ya, dua puluh lima masih terlalu cepat. Mungkin dua puluh tujuh, bila itu masih terlalu cepat, tiga puluh lima juga tak ada salahnya. Terlebih ibu saya sudah mewanti-wanti saya, &#8220;Jangan pernah kamu berkeluarga kalau kamu tidak bisa menghidupi keluargamu. Sekolah yang tinggi, dapet kerja bagus, punya rumah sendiri. Baru kamu boleh menikah.&#8221;</p>
<p align="justify">Rupanya ayah saya pengkhianat—<i>seperti biasa</i>. Sekolah yang tinggi itu statusnya sekarang masih tamatan SMA, tapi beliau memutuskan untuk menghibahkan rumahnya. Balik nama—<i>and such</i>—maka praktis sudah secara teknis sekarang saya sudah punya rumah sendiri, sudah boleh menikah. Bajigur!</p>
<p align="justify">Syarat harus punya rumah sendiri supaya bisa menikah pun mau tidak mau harus saya urungkan. Secara sepihak saya ganti syaratnya. Saya baru boleh menikah ketika saya sudah kuat secara finansial untuk menghidupi keluarga saya kelak. Saat itu tiba, semoga saja, secara emosional pun saya sudah matang untuk membina rumah tangga. Namun, saat saya sudah berkompromi dengan memutuskan syarat baru tersebut, saya berpikir bahwa menikah itu masih cukup berat. Ini bukan soal usia, saya masih ingin menikah di usia muda. Cita-cita saya berubah, dari yang menikah di usia dua puluh lima, atau dua puluh tujuh atau tiga puluh lima, berubah menjadi saya ingin menikah muda, entah di umur berapa, punya anak, cerai, anak saya titipkan ibunya tapi perwaliannya adil dalam artian saya masih bisa bermain dengan anak saya di waktu-waktu yang sudah ditentukan.</p>
<p align="justify">Di titik ini saya sudah mulai tidak percaya dengan konsep pernikahan meski saya masih ingin menikah.</p>
<p align="justify">Kemudian usia saya semakin bertambah, dan sama seperti pandangan saya terhadap hidup, pandangan saya terhadap pernikahan pun ikut bertambah: Mungkin gak, sih, kalau seumur hidup saya, saya tidak perlu harus menikah walaupun hanya sekali? Anak bisa diadopsi, dan seks saat ini bukan kebutuhan terbesar saya, pun demikian toh seks juga bukan sesuatu yang sulit dicari. Mestinya tidak ada masalah kalau saya tidak menikah.</p>
<p align="justify">Kalau boleh menjawab jujur, saya akan jawab pertanyaan saya itu dengan satu kata. Mungkin! Sangat mungkin, malah.</p>
<p align="justify">Bagi saya, dan bagi banyak orang lain yang mungkin sama-sama memiliki pola pikir konvensional seperti saya, menikah itu idealnya cukup sekali. Menikah dengan orang yang tepat, membentu keluarga dengannya, bersama-sama menabung untuk membeli peti mati dan makam yang berjejeran (walaupun saya lebih menyukai konsep kremasi). Ketika sampai pada poin itu, saya menyadari bahwa menikah itu jauh lebih berat daripada yang saya pikirkan dulu. Realistis saja, hidup itu tidak selamanya indah, kehidupan pernikahan pun demikian. Terbangun setiap pagi melihat wajah yang sama itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan sepanjang tahun seumur hidup. Orang yang tepat itu tidak mungkin ada karena orang yang lebih tepat lagi akan muncul setiap harinya.</p>
<p align="justify">Bagaimana kalau saya salah memilih? Bagaimana kalau saya harus menghabiskan sisa usia saya, terkungkung pada konsep pernikahan ideal saya menikah sekali seumur hidup, dengan orang yang tidak seharusnya? Bagaimana anak-anak saya kalau orang tuanya selalu beranggap tidak seharusnya mereka menjadi sepasang suami-istri? Bagaimana bila istri saya (bila dia Jawa, calon yang saya harapkan jadi istri saya, sih, Jawa) sudah mengeluarkan sekian puluh juta untuk pesta pernikahan yang akan selalu disesalinya? Bagaimana-bagaimana lain yang semakin menyurutkan keinginan saya untuk menikah.</p>
<p align="justify">&#8230; tapi pernikahan itu bukan hanya dua orang yang menyatu dan mengemudikan biduk rumah tangga mereka sendiri. Menikah itu berarti menyatukan dua keluarga dan memaksa mereka berada di satu payung besar yang sama. Tidak menikah itu berarti saya harus meyakinkan keluarga saya bahwa bahtera rumah tangga bukanlah sesuatu yang ingin saya beli dan kemudikan. Tidak menikah itu berarti saya harus menguatkan keluarga saya dari omongan tetangga, dan saya tahu itu tidak mudah. Sama seperti saya yang berharap bisa melihat anak saya bahagia dan menikah, saya tahu orang tua saya berharap yang sama terhadap saya, harapan yang harus saya khianati dengan menegaskan bahwa saya tidak akan menikah. Sama seperti saya yang tidak pernah bisa tahan dengan omongan tetangga, orang tua saya yang sudah senja pasti akan lebih tidak tahan lagi.</p>
<p align="justify">Saya tahu saya egois, tetapi saat ini pernikahan memang sesuatu yang sangat jauh.</p>
<p align="justify">Saya tidak akan muluk-muluk mengatakan saya menolak gagasan tentang pernikahan untuk melawan konsep pembelengguan hak dua orang untuk bergumul dan mengurusi ranah privat mereka oleh aturan negara. Tidak, memang ada orang yang berpikir seperti itu, tetapi mereka bukan saya. Alasan saya sederhana, saya tidak yakin saya bisa membahagiakan keluarga yang akan saya miliki nanti karena membahagiakan orang lain tidak semudah membahagiakan diri sendiri sekalipun kita memang berniat dan berusaha keras untuk melakukannya. Bila tidak memiliki keluarga berarti lebih sedikit orang yang nantinya akan tersakiti, kenapa harus memaksakan untuk memiliki sebuah keluarga?</p>
<p align="justify">Selamat ulang tahun yang ke-24, celo! Semoga bisa memiliki keluarga yang bisa kau bahagiakan!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/366/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=366&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/28/junos-bride/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di hari hujan [2]</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/26/di-hari-hujan-2/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/26/di-hari-hujan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Mar 2013 23:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Malam sudah terlalu larut hingga sudah sewajarnya bila hari ini disebut dengan nama yang berbeda dari hari kemarin. Hujan masih saja turun, cukup deras untuk membuat bintang-bintang serta rembulan enggan menampakkan dirinya, lebih memilih untuk tidur berselimutkan awan mendung yang menjaga agar titik-titik air yang dibawanya tetap turun menyapa petrichor yang belum juga menguar naik. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=364&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Malam sudah terlalu larut hingga sudah sewajarnya bila hari ini disebut dengan nama yang berbeda dari hari kemarin. Hujan masih saja turun, cukup deras untuk membuat bintang-bintang serta rembulan enggan menampakkan dirinya, lebih memilih untuk tidur berselimutkan awan mendung yang menjaga agar titik-titik air yang dibawanya tetap turun menyapa petrichor yang belum juga menguar naik. Sementara banyak orang beranggapan bahwa ini waktu yang tepat untuk memejamkan mata—<i>dan memang itulah yang tengah mereka lakukan</i>, di sebuah kafe dengan penerangan yang temaram, sepasang pemuda dan pemudi yang belum pernah mengenal sebelumnya memutuskan bahwa tidak ada salahnya bila mereka menggunakan malam ini untuk mengenal lebih jauh, diselingi dengan senyum kikuk dan obrolan absurd yang menunggu untuk diulik lebih lanjut.</p>
<p align="justify">Ya, di hari hujan ketika mawar terlalu lelah dan lupa untuk keluar dari kuncupnya.</p>
<p align="center">***</p>
<p><span id="more-364"></span></p>
<p align="justify">&#8220;Hahaha,&#8221; dia menyemburkan gelaknya tanpa basa-basi, setengah mengejek ucapan lelaki yang bahkan namanya saja belum diketahuinya, &#8220;—<i>time traveler</i>, maksudmu?&#8221; Tak mampu menyembunyikan senyum geli ketika disadarinya lawan bicaranya mengangguk dengan ekspresi yang tak kalah serius dengan gelaknya. Dirinya memang bukanlah gadis tercantik di kampus, bukan pula yang paling populer. Tak banyak lelaki mau meluangkan waktu mereka untuk berbasa-basi sekadar untuk mengetahui namanya atau dimana dia tinggal. Pun bila memang demikian, dia tahu dirinya adalah gadis yang praktis, sedikit pragmatis dan cukup skeptis. Basa-basi sama sekali bukanlah <i>forte</i>-nya.</p>
<p align="justify">Tapi bagaimana bila laki-laki di hadapannya ini tidak sedang berbasa-basi dengannya? Ia pastilah seorang aktor yang sangat mumpuni karena bisa mengatakan kebohongan dengan wajah serius yang tak berubah sedikit pun meski sudah dihantamnya dengan gelak tawa yang tak jauh beda dengan pelecehan. Sedikit banyak gadis itu mulai tidak yakin dengan tawanya sendiri padahal dia tahu, dan dia sendiri meyakini demikian, kalau dirinya bukan jenis orang yang mudah terpengaruh oleh ucapan orang lain. Terlebih bila ucapannya tak jauh beda dengan kebohongan yang biasa diucapkan anak-anak untuk membuat teman-temannya terkesan semacam tadi.</p>
<p align="justify">&#8220;Hmm&#8230;,&#8221; dia berdeham, perlahan tawanya menghilang dan perlahan wajahnya berubah serius, tak ubahnya lelaki yang duduk di hadapannya. Ah, dia pasti sudah gila kalau sampai menanggapi serius pembicaraan konyol ini.</p>
<p align="justify">&#8220;Time traveler merupakan topik yang sangat menarik bagi kami, para akademisi, dan sampai sekarang pun masih sering diperbincangkan,&#8221; ucapnya lebih pada dirinya sendiri, &#8220;—banyak teori yang mengarah ke sana, banyak, tetapi sangat sedikit yang bisa dibuktikan, kau tahu. Fenomena yang, kalau boleh kukatakan, sedikit mustahil karena tidak hanya kau harus membelokkan waktu, tetapi juga ruang. Itu kuasa Tuhan, bukan manusia, dan kita tidak sedang berada dalam dongeng anak-anak.&#8221;</p>
<p align="justify">Ah, benar&#8230;,dia pasti sudah gila. Benar-benar sudah gila.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Gadis di hadapannya tergelak mendengar pertanyaannya. Ia tersenyum, kecut—<i>siapa yang tidak?</i> Pun dirinya bergeming dengan ekspresi serius yang sama, stagnan. Sejauh yang ia bisa, hanya senyuman-senyuman kecut saja yang sempat terlempar; tidak komentar, terlebih pertanyaan lain yang bisa mengundang gelak yang selanjutnya. Wajahnya kaku tak ubahnya gelas mug berisi kopi yang sudah tak lagi mengundang hasratnya untuk menyesapnya, tak ubahnya mesin pembuat kopi yang sudah berhenti berdengung sejak lama, tak menunjukkan gerak dinamis yang sedari tadi dipertontonkan rinai hujan di luar sana. Wajahnya dingin, sedingin malam yang tak berteman bulan dan bintang-bintang. sedikit semburat pucat mungkin akan membuatnya tak lagi dapat dibedakan dengan mayat yang sudah lupa caranya menghembuskan napas.</p>
<p align="justify">Ia terdiam, sementara gadis di hadapannya perlahan mengubah ekspresinya, menghapus gelaknya dengan keseriusan dan penjelasan demi penjelasan yang seolah memojokkan pertanyaannya sebagai sebuah kebohongan.</p>
<p align="justify">Jelas sudah dia tak percaya dengan ucapannya.</p>
<p align="justify">&#8220;Ya, ya&#8230;, tepat seperti itu. Tepat seperti ucapanmu,&#8221; ia menambahkan, senyuman manis pun akhirnya memiliki kesempatan untuk menghapus kecut wajahnya, &#8220;—bila kukatakan seperti itu, akankah kau percaya kalau aku bilang aku bisa melakukannya, membelokkan ruang dan waktu dan sedikit mencecap kuasa yang, sesuai bahasamu, hanya dimiliki Tuhan.&#8221; Kembali ia tersenyum, kali ini sebuah senyum menggoda. Lalu, entah dari mana, hasratnya pada Americano yang sudah dipesannya hadir kembali. Diangkatnya gelasnya untuk mencicip satu atau dua sesapan, kemudian berdecak untuk menggantikan pujiannya tentang betapa enaknya kopi ini.</p>
<p align="justify">Gadis di hadapannya terdiam, sesaat&#8230;, sebelum balik melontarkan pertanyaan yang hampir saja membuat kopi yang sudah dikecapnya kembali tersembur keluar.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Ah, rupanya dia tidak hanya gila&#8230;, tetapi juga bodoh. Sangat bodoh. Untuk satu alasan yang jelas, gadis itu merutuki kebodohannya  sendiri untuk jatuh pada obrolan konyol ini. Sama sekali tak pernah diduga olehnya seorang laki-laki bisa mempermainkannya sejauh ini hanya dengan kata-kata. Dia membencinya, membenci kebodohannya dan juga senyuman puas yang kini menghiasi wajah lelaki itu bersama dengan kumis dan janggut tipisnya yang kini dirasakan sang gadis tak lagi nampak mempesona.</p>
<p align="justify">&#8220;Bila itu benar, tidakkah rasanya agak sedikit&#8230;, sedih?&#8221;</p>
<p align="justify">Dia membalas, dan sama sepertinya tadi, kini giliran laki-laki di hadapannya yang terdiam. Terhenyak, lebih tepatnya. Agaknya laki-laki itu tak menduga akan mendapatkan pertanyaan semacam itu. Dia sendiri juga tak pernah menyangka akan bertanya seperti barusan.</p>
<p align="justify">&#8220;Sedih sekali, kan?&#8221; lanjutnya sebelum lawan bicaranya sempat menyuarakan protes ataupun pertanyaannya, &#8220;—menjadi seorang penjelajah waktu, merasakan kuasa Tuhan, mungkin akan menyenangkan. Tapi itu juga berarti mereka akan banyak sekali mengalami pertemuan—yang tak selamanya akan menyenangkan, dan juga perpisahan—yang bisa jadi akan sangat disesalkan.&#8221; Gadis itu tak bermaksud menggoda, sebagai orang yang pragmatis dan skeptis, sedikit banyak dia juga seorang yang cukup sentimentil&#8230;, mungkin hormonnya sebagai seorang perempuan yang membantu memompakan perasaan yang cukup merepotkan itu bersama dengan aliran darahnya.</p>
<p align="justify">&#8220;Aku tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya terlibat banyak sekali pertemuan, dan dalam sekejap, kau harus berpisah meskipun kau tidak ingin. Bahkan mungkin kau juga tidak bisa mengucapkan selamat tinggal. Pasti rasanya sangat sakit sekali.&#8221;</p>
<p align="justify">Dia menatap lawan bicaranya dengan pandangan sendu, seolah benar-benar meyakini laki-laki di hadapannya adalah seorang penjelajah waktu.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Untuk sesaat ia tertegun, tak sanggup berkata-kata selain memandangi pekatnya kopi dalam gelasnya. Ia teringat, suatu waktu, dirinya pernah terlibat percakapan yang menyenangkan dengan seorang gadis, di sebuah gerbong kereta yang akan membawanya ke kampung halamannya. Ia ingat betapa ia sangat menyesalinya ketika percakapan itu harus terputus ketika kondektur sudah meneriakkan nama stasiun di mana ia harus turun dari jauh. Perpisahan, seperti kata gadis di hadapannya, untuk pertemuan yang paling mengesalkan sekalipun, akan tetap meninggalkan sebuah kekosongan di setiap jiwa. Setiap pertemuan akan meletakkan sesuatu di sana, dan ketika kau sudah merasa nyaman dengan itu, semata-mata kekosongan akibat berakhirnya pertemuan tersebut tidak akan bisa dihilangkan dengan mudah.</p>
<p align="justify">&#8230; dan benar seperti ucapan gadis itu, penjelajah waktu akan berulang kali mencecap semua itu bersama dengan kuasa Tuhan yang dicicipinya.</p>
<p align="justify">Ia hendak membalas, bagaimanapun juga, tidak ingin mencecap kekalahan saat berargumen. Tetapi gadis itu mendahuluinya menusuk asanya dengan bilah berwujud kata-kata.</p>
<p align="justify">&#8220;Andaikan seseorang benar bisa memutar kembali waktu dan kembali merasakan kenangan-kenangan indah yang dulu pernah ia rasakan,&#8221; lanjut gadis di hadapannya, ia diam mendengarkan dengan waspada supaya hatinya tidak kembali jatuh, &#8220;—ia mungkin bisa merasa senang. Tapi waktu adalah sesuatu yang linear. Begitu dia sudah mengulang kenangannya, ia harus kembali pada kenyataan, bahwa yang baru saja dirasakannya hanyalah sebuah kenangan dan akan tetap menjadi kenangan. Tidakkah dengan demikian rasa sakitnya justru akan semakin menumpuk? Untuk mengulang perpisahan yang sudah-sudah dan tidak bisa mencegahnya tanpa harus mengubah kenangan yang sudah ada?&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Aku lebih suka bila kuasa Tuhan tetap menjadi milik-Nya. Hati manusia tidak cukup kuat untuk mengulang-ulang kenangan yang sudah lewat dan harus berakhir dengan perpisahan yang sudah-sudah. Kurasa Tuhan memang menyimpan kuasa itu untuk-Nya sendiri dan memberi kita waktu yang terus maju supaya kita bisa menimpa kenangan tersebut dengan kenangan yang baru, dengan pertemuan-pertemuan lain, dengan perpisahan yang sudah sewajarnya. Sekali saja, tanpa perlu diulang-ulang.&#8221;</p>
<p align="justify">Kalimat itu akhirnya meninggalkan keduanya terdiam berteman sunyi, bersama gemericik hujan yang sibuk membasahi jalanan yang sudah basah.</p>
<p align="justify">Ia mengangguk, kemudian kembali terdiam. Yakin dirinya mendengar isak sang gadis di sela sepi yang menggelayut manja tetapi memutuskan untuk tidak mendengarnya. Terlalu sentimentil bagi keduanya yang sama sekali tidak saling mengenal melainkan sebagai aku dan kamu.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Malam sudah terlalu larut. Sudah seperempat jam berlalu sejak waktu yang dijanjikan oleh kafe ini untuk terus menemani mereka. Dia bisa melihat di ujung sana, pramusaji sudah memberikan isyarat bahwa kafe sudah akan tutup dengan cara membalikkan kursi-kursi yang tidak berpenghuni ke atas meja. Dengan sedikit malu dia menyeka air mata yang masih menggenang di pelupuknya. Laki-laki di hadapannya tidak berkomentar, tetapi mereka sama-sama tahu.</p>
<p align="justify">Gadis itu mencoba tersenyum, masih sedikit sedih membayangkan bila dia menjadi penjelajah waktu dan harus berkali-kali menghadiri pemakaman kekasihnya yang terakhir, tetapi harus dia tegarkan hatinya di hadapan orang-orang asing yang tidak akan pernah bisa mengerti apa yang dirasakannya, kan?</p>
<p align="justify">&#8220;Hei,&#8221; dia akhirnya berkata ketika dirasanya isakannya sudah tak lagi mengganggunya, &#8220;—sudah malam, kafe ini sudah mau tutup, sudah hampir setengah dua. Kau mau kupinjami payungku? Aku bisa meminjam milik kafe ini, toh besok malam aku ke sini lagi.&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Tidak, kupikir-pikir tidak masalah juga, toh hujan sudah hampir reda. Lagipula aku tidak yakin besok aku masih ada di kota ini.&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Oh, sayang sekali. Padahal kuharap besok kita bisa bertemu lagi.&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Ya, sayang sekali.&#8221;</p>
<p align="justify">&#8230;</p>
<p align="justify">&#8220;Hei, omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau percaya aku datang dari masa depan?&#8221;</p>
<p align="justify">Gadis itu hanya tersenyum, &#8220;—kuharap tidak, kau terlalu baik untuk itu.&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Ah, begitu, kah? Oh, ya&#8230;, aku belum memperkenalkan namaku. Aku Radit.&#8221;</p>
<p align="justify">&#8220;Aku Tia.&#8221;</p>
<p align="justify">Keduanya berjabat tangan, dalam diam, masing-masing dibekap oleh pikiran yang berbeda dalam kepala mereka. Masing-masing tidak ada yang menyesalkan pertemuan ini, tetapi mungkin sangat membenci perpisahan yang menjelang. Malam itu, di hari hujan ketika lampu-lampu jalan sudah mulai padam dan gelas-gelas mereka sudah tak lagi mengepullkan asapnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/364/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=364&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/26/di-hari-hujan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di hari hujan [1]</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/23/di-hari-hujan-1/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/23/di-hari-hujan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Mar 2013 22:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[If I were the rain could I connect with someone&#8217;s heart just as it can unite the eternally separated earth and sky? *** Tanpa peringatan terlebih dahulu, mendadak saja hujan turun dengan derasnya. Tergopoh-gopoh ia berlari menyebrangi jalanan yang telah lama usai melewati jam-jam padatnya, menuju sebuah kedai kopi mungil bernuansa cokelat muda yang, untungnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=360&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><a href="http://mdesh.deviantart.com/art/Orihime-Inoue-Volume-3-Poem-352098186">If I were the rain could I connect with someone&#8217;s heart just as it can unite the eternally separated earth and sky?</a></p></blockquote>
<p align="center">***</p>
<p><span id="more-360"></span></p>
<p align="justify">Tanpa peringatan terlebih dahulu, mendadak saja hujan turun dengan derasnya. Tergopoh-gopoh ia berlari menyebrangi jalanan yang telah lama usai melewati jam-jam padatnya, menuju sebuah kedai kopi mungil bernuansa cokelat muda yang, untungnya saja masih buka meski sudah selarut ini, tampak hangat—<i>berteduh</i>. Betapa ia membenci kota ini, baru beberapa jam saja ia berada di sini dan sudah tak terhitung lagi berapa banyak makian terselip keluar dari bibirnya yang tak henti-hentinya cemberut maju.</p>
<p align="justify">Sedikit bersungut-sungut, ia mengambil tempat di pinggir jendela, sebuah meja yang masih kosong dan kusinya berpunggung-punggungan dengan kursi lain yang ditempati seorang gadis yang tengah asik dengan laptop serta kertas-kertas yang berhamburan di atas mejanya. Refleks ia mengambil kursi yang menghadap ke arah gadis itu. Sesaat melihat pada menu yang disediakan di masing-masing meja dan sedikit tergesa-gesa mengangkat serta melambaikan sebelah tangannya—<i>gestur yang sudah umum digunakan di tempat semacam ini untuk meminta pramusaji datang</i>.</p>
<p align="justify">&#8220;Americano,&#8221; ucapnya cepat. Pramusaji yang dipanggilnya hanya mengangguk untuk sekadar menimpali lalu menghilang lagi ke balik mesin pembuat kopi. Senyap datang untuk sesaat sebelum mesin pembuat kopi itu berdesing nyaring, semerbak aroma kopi pun segera menguar memenuhi kafe yang mungil nan hangat tersebut.</p>
<p align="justify">Ia tersenyum. Mungkin kota ini tidak seburuk yang ia kira. Mungkin, karena ia memang tak mengenal kota ini terlalu baik.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Sama sekali tidak terganggu dengan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya, dengan tangkas dia meraih cangkirnya, menyesap isinya sedikit kemudian segera mengembalikan cangkir tersebut pada tatakannya. Sejenak dia menatap pada jendela di sampingnya, pada bulir-bulir air yang begitu bersemangat berlomba-lomba menarik <i>petrichor</i> keluar dari tempat bersemayamnya. Hujan memang sudah lama tak menyambangi tempat ini, jadi meskipun dia sedikit kesal karena tak bisa segera pulang, sedikit banyak gadis itu senang juga dengan hujan kali ini, &#8216;Toh masih banyak yang harus kukerjakan,&#8217; batinnya.</p>
<p align="justify">Tak berapa lama setelah dia berkutat kembali pada kertas-kertas serta radiasi yang terpancar dari layar laptopnya, denting bel yang sengaja dipasang di atas pintu masuk berhasil menarik perhatiannya dan membuatnya menengadah. Seorang tamu—<i>pria, kira-kira seumuran dengannya bila tidak setahun atau dua tahun lebih tua darinya</i>—dengan rambut dan bahu jaket yang sedikit basah oleh hujan memasuki kafe tersebut. Gadis itu mengedikkan kedua bahunya dan sedikit tidak acuh kembali lagi pada berkas-berkas penelitian yang baru saja siang tadi dikembalikan oleh mentornya untuk diperbaiki, tak terlalu ambil pusing untuk memedulikan tamu baru tersebut; &#8216;Banyak yang masih harus dikerjakan&#8217;, ulangnya dalam hati.</p>
<p align="justify">Entah sudah berapa lama berlalu, mungkin tidak terlalu lama juga sejak kedatangan tamu tersebut, sadarlah gadis itu bahwa cangkirnya sudah tandas tak lagi berisi. Kembali ia menengadah, mendapati satu-satunya pramusaji di kafe yang mungil itu tengah mengantarkan segelas kopi (Hei, dia sudah lama menjadi pelanggan tetap kafe ini. Dia bisa mengenali apa yang dipesan oleh pelanggan lain hanya dari jenis gelas yang digunakan). Tak perlu waktu lama baginya untuk mengibaskan tangannya meminta perhatian dari sang pramusaji.</p>
<p align="justify">&#8220;Mbak, peppermint tea-nya satu lagi. Panas, ya?&#8221;</p>
<p align="justify">Cangkir ketiga untuk malam ini.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Teh peppermint panas? Ia bertanya-tanya, sedikit mengernyit tak setuju. Memang pada dasarnya ia bukanlah seorang peminum teh. Mungkin sesekali, dan bila sesekali ia meminum teh. Peppermint jelas tidak akan diminumnya bila tidak dituangkan pada gelas yang sudah dipenuhi dengan bongkahan es batu. Aneh sekali, komentarnya dalam hati. Memang rasa segarnya peppermint masih akan terasa bila dinikmati panas-panas? Ia menggelengkan kepalanya pelan, sekali lagi menunjukkan ketidaksetujuannya.</p>
<p align="justify">Hujan masih turun—<i>bahkan semakin deras</i>. Rencana-rencana perjalanan yang telah disusunnya semakin dekat dengan kekacauan. Tapi bisa apa ia selain merana melempar pandangan ke luar jendela, pada tanah dan aspal yang pasrah terus-menerus ditubruki oleh tetes demi tetes hujan terkutuk itu? Tidak ada yang bisa ia lakukan. Tepatnya, tidak akan ada yang bisa menghentikan derasnya hujan di luar sana, apapun yang dilakukannya. Kini ia mengalihkan pandangannya, mulai memperhatikan interior kafe mungil yang untuk sesaat menyelamatkannya dari kejamnya hujan yang sama sekali tidak sensitif di luar sana itu. Tidak ada yang menarik, sama seperti kafe kebanyakan, dengan tembok yang dicat dengan warna yang lembut serta penerangan yang dibuat sedikit remang. Fokusnya kembali berganti. Kini matanya tertuju pada gadis di hadapannya.</p>
<p align="justify">Gadis yang cantik. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, tapi juga tidak terlalu kurus, proporsional; kulitnya juga tidak terlalu pucat atau malah terlalu hitam, kulit kuning langsat yang entah mengapa justru menambah nilai eksotisnya; rambutnya&#8230;, ah, mengapa perempuan selalu tertarik untuk memanjangkan rambut mereka? Ia tak sedang mengatakan kalau gadis itu memiliki rambut yang jelek. Sebaliknya, rambut yang panjang dan legam itu cocok dengannya.</p>
<p align="justify">&#8220;Ah,&#8221; ia tersentak. Keduanya beradu pandang. Ia tak sadar kalau gadis itu sudah menyelesaikan pekerjaannya dan tengah berkemas karena terlalu asik mengomentari ini dan itu mengenai fisiknya. Ia mengangguk sungkan, takut gadis itu mengiranya tak sopan—<i>dan nyatanya memang demikianlah dirinya</i></p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Dia mengetik beberapa kata, kemudian menekan tombol <i>backspace</i> untuk menghapusnya, mencoba mengetik beberapa kata lain, lalu menghapusnya lagi. Berulang kali dia melakukan hal yang sama sebelum akhirnya mengakui kalau kepalanya sudah tak lagi senang diajak bekerja sama. Laptop pun ditutupnya, kertas yang sedari tadi berceceran di sekitarnya pun dikumpulkannya menjadi satu. Diketukkannya ke atas meja beberapa kali supaya rapi lalu menumpuknya di atas laptopnya yang sudah menutup. Kembali memandang ke luar jendela, pada hujan yang sepertinya masih akan lama, menyesap teh hangat dari cangkirnya perlahan. Lalu, tanpa dia sama sekali sempat menduganya, pandangannya bertumbukan pada pandangan pemuda di seberang mejanya ketika dia mengalihkan perhatiannya dari hujan yang terus turun tanpa peduli.</p>
<p align="justify">Ia mengangguk pelan, gadis itu membalas dengan anggukan yang sama. Kikuk.</p>
<p align="justify">Sedikit canggung gadis itu membuang pandangannya, tangannya tegang menjaga bibir cangkir tehnya tetap dekat dengan bibirnya sendiri. Ketika dia kembali, pemuda itu sedang berjalan ke arahnya. Gadis itu membenarkan posisi duduknya dengan canggung, tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh satu-satunya pengunjung lain selain dirinya di kafe mungil tersebut. Lalu, tak sampai hitungan detik, pemuda yang tak bisa dibilang buruk rupa itu sudah menyapanya.</p>
<p align="justify">&#8220;Boleh aku duduk di sini?&#8221; tanya sang pemuda. Gadis itu hanya tersenyum, masam. Dia keberatan, tapi terlalu malu untuk menolak, hanya satu kata &#8216;silakan&#8217; yang akhirnya terucap dari bibirnya. Kata yang entah akan disesalinya atau tidak. Pekerjaannya mungkin sudah selesai untuk malam ini, tetapi untuk berbincang-bincang dengan seorang asing? Entahlah, dia tidak tahu. Tapi toh pemuda itu sudah terlanjur mengambil kursi di hadapannya&#8230;, pemuda dengan rambut cepak yang mengingatkan pada kekasihnya yang terakhir. Hanya saja, kekasihnya tidak memelihara kumis dan janggut tipis seperti yang menghiasi wajah pemuda di hadapannya ini. Kekasihnya juga tidak memiliki mata yang bulat besar sepertinya, tidak juga memiliki hidung semancung dirinya.</p>
<p align="justify">Kini di meja itu ada segelas kopi juga, selain laptop, tumpukan berkas, dan cangkir teh yang dipesannya.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Mampus! Dia menatap ke sini!</p>
<p align="justify">Kagok, ia tak menyangka pandangan mereka akan beradu seperti tadi. Gadis di hadapannya itu tampak tak nyaman dengan insiden kecil barusan—<i>pun demikian dengan dirinya</i>. Merasa sudah kepalang tanggung, pikirnya, sekalian saja ia meminta gadis itu menemaninya mengobrol. Setidaknya sampai hujan reda dan ia bisa secepatnya hengkang dari kota ini. Dengan cepat ia mengangkat mugnya yang masih penuh terisi kopi hitam pekat. Penuh percaya diri ia menghampiri meja tempat gadis itu duduk, meminta izin supaya diperkenankan duduk di kursi di hadapannya. Ia sama sekali bukan orang yang naif, sadar bahwa gadis yang tengah dihadapinya ini tak mengharapkannya. Tapi masa bodoh, ia tetap mengambil tempat yang telah disediakan.</p>
<p align="justify">&#8220;Maaf bila aku mengganggu,&#8221; ujarnya setelah meletakkan kopinya di atas meja, basa-basi yang sudah benar-benar basi. &#8220;Aku baru saja datang ke kota ini, dan hujan ini tiba-tiba saja mengganggu perjalananku.&#8221; Gadis di hadapannya tidak memberikan tanggapan yang berarti. Kecanggungan di antara keduanya mungkin akan semakin keruh lagi bila ia terus berbasa-basi semacam ini, tapi ia sama sekali tidak bisa menahan mulutnya untuk terus menggelontorkan kalimat demi kalimat.</p>
<p align="justify">&#8220;Omong-omong, apa kau percaya kalau aku bilang kalau aku datang dari masa depan?&#8221;</p>
<p align="justify">Di kalimat itu ia akhirnya bisa berhenti.</p>
<p align="center">***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/360/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=360&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/23/di-hari-hujan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paus Francis I (Jose Mario Bergoglio), antara &#8216;Jesuit&#8217; dan &#8216;Doctrinal Conservatism&#8217;.</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/17/paus-francis-i-jose-mario-bergoglio-antara-jesuit-dan-doctrinal-conservatism/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/17/paus-francis-i-jose-mario-bergoglio-antara-jesuit-dan-doctrinal-conservatism/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 21:19:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman saya mungkin tahu, bila berhubungan dengan luar negri, cita-cita terbesar saya adalah menghadiri conclave dan mengikuti misa—apapun—di bawah naungan atap Basilika St. Peter, Vatikan. Bagi saya, yang menarik dari dua hal tersebut bukanlah statusnya sebagai sebuah ritual keagamaan, tapi kemegahan dari ritual itu sendiri. Bagaimana prosesi demi prosesi yang dilakukan ketika seorang paus dinyatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=357&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Teman-<a href="http://aquaregia.web.id/">teman</a> saya mungkin tahu, bila berhubungan dengan luar negri, cita-cita terbesar saya adalah menghadiri conclave dan mengikuti misa—<i>apapun</i>—di bawah naungan atap Basilika St. Peter, Vatikan. Bagi saya, yang menarik dari dua hal tersebut bukanlah statusnya sebagai sebuah ritual keagamaan, tapi kemegahan dari ritual itu sendiri. Bagaimana prosesi demi prosesi yang dilakukan ketika seorang paus dinyatakan meninggal (ya, saya tidak tertarik dengan conclave yang terjadi karena mundurnya seorang paus, tetapi conclave yang dilakukan karena paus tersebut sudah kembali pada penciptanya) sampai akhirnya ditetapkan paus yang baru.</p>
<p align="justify">Itu tentang conclave, sementara untuk cita-cita saya yang satu lagi hanyalah bonus saja. Bagi saya, doa yang dipanjatkan saat misa tidaklah penting, tetapi sama seperti saat saya mendengarkan adzan atau suara orang mengaji, doa kepada Tuhan selalu memiliki nuansa yang mistis. Kelebihan dari misa ini adalah karena dia dilakukan di bawah kubah gereja yang sangat megah. Itu, bagaimanapun juga, bagi saya sangat mengagumkan.</p>
<p align="justify">Beberapa saat lalu, seorang paus telah menyatakan pengunduran dirinya, dan conclave pun diadakan, paus yang baru telah terpilih. Selamat kepada umat katolik yang telah mendapatkan wakil-Nya di atas Bumi.</p>
<p><span id="more-357"></span></p>
<p align="justify">Pada conclave tersebut, yang menarik adalah terpilihnya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pope_Francis">Jose Mario Bergoglio</a> yang mengambil nama kepausan Francis I. Kenapa menarik—<i>setidaknya untuk saya</i>? Selain karena beliau adalah paus pertama yang mengambil nama kepausan Francis (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Francis_of_Assisi">Santo Francis dari Assisi</a>—<i>ini topik yang menarik juga, sebenarnya</i>), tetapi karena beliau juga seorang Jesuit, dan kebetulan konservatif.</p>
<p align="justify">Bagi banyak orang, termasuk saya, seseorang yang konservatif adalah seseorang yang paling menjengkelkan. Mereka dogmatis, kolot, dan keras kepala, sungguh merupakan perpaduan yang tidak bagus untuk jiwa-jiwa muda yang selalu menuntut perubahan. Tetapi, bagi umat katolik, paus yang konservatif mungkin adalah sesuatu yang paling diidam-idamkan. Kenapa? Karena menurut saya agama itu sendiri, agama apapun itu—<i>terlebih agama langit</i>, adalah sesuatu yang dogmatis; apa yang boleh dilakukan, tidak boleh dilakukan, harus dilakukan, semuanya diatur oleh Tuhan. Mendapatkan paus yang konservatif tentu akan sangat membahagiakan karena itu berarti beliau akan lebih banyak berada di dalam koridor yang diizinkan oleh Tuhan.</p>
<p align="justify">Sekali lagi saya katakan, pemimpin yang konservatif bukanlah pemimpin yang baik. Mereka tidak bisa menerima masukan dari zaman yang perlahan berubah dan terus menggerus. Tetapi mendapatkan wakil Tuhan di Bumi yang konservatif hanya berarti satu hal: Pemimpin itu akan terus mengupayakan rakyatnya (dalam hal ini adalah umat katolik) untuk mengikuti aturan-aturan yang sudah baku tersebut secara dogmatis sesuai dengan yang didogmakan kepadanya. Bila saja pada masa kegelapan gereja dahulu para pemuka gereja, saya mengandaikan, adalah seorang yang konservatif. Kristen mungkin tidak akan terpecah menjadi protestan yang menuntut supaya gereja kembali pada perintah Tuhan. Dengan paus yang konservatif—<i>dan bukannya moderat</i>—seperti sekarang ini, protes-protes baru terhadap gereja yang ingin melanggengkan kekuasaannya di luar koridor yang sudah ditetapkan oleh Tuhan mungkin akan semakin berkurang. Semoga saja.</p>
<p align="justify">Satu hal lagi yang menarik dari Pope Francis I adalah status beliau yang dari golongan Jesuit. Untuk mudahnya, menurut bahasa yang saya gunakan untuk memahami Jesuit, mereka adalah bentuk resmi dari Illuminati <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Jesuit adalah kelompok persaudaraan dari basis ilmu yang berbeda-beda, tidak seperti kelompok persaudaraan lain yang secara keseluruhan didominasi oleh pendeta, kebanyakan Jesuit memiliki disiplin ilmu yang bermacam-macam. Pope Francis I sendiri adalah lulusan teknik kimia sebelum mulai mendalami teologi <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Mungkin bila seperti itu saja, tidak terlihat bagian mana yang menarik, ya? Tapi bayangkan ini: Jesuit adalah kelompok persaudaraan yang tidak mengabaikan kemajuan peradaban. Dilihat dari disiplin ilmu yang digeluti selain teologi, sangat mudah terlihat bahwa mereka, sekali lagi dalam bahasa saya, mencoba memahami kebesaran Tuhan tidak secara dogmatis tapi juga membuktikannya dengan menguraikan ilmu pengetahuan dan segala kemungkinan logis yang berkaitan dengannya.</p>
<p align="justify">Coba bayangkan apa yang akan terjadi dari bila sekian banyak penganut katolik dipimpin oleh seorang yang konservatif tetapi sekaligus juga orang yang tidak mengabaikan perkembangan peradaban? Kebijakan-kebijakan macam apa yang akan beliau ambil nantinya dalam memimpin umat katolik? Contohnya adalah ketika pendeta konservatif manapun menyatakan aborsi adalah sesuatu yang dilarang, Paus Francis I menyatakan aborsi boleh dilakukan di bawah persetujuan medis (dalam artian aborsi boleh dilakukan pada kasus dimana ancaman yang lebih besar akan datang bilang aborsi tidak dilakukan). Bagi saya, ini sesuatu yang sangat menarik—<i>paradoks tidak pernah kehilangan sihirnya untuk menarik perhatian orang</i>.</p>
<p align="justify">Pilihan nama kepausan yang diambil oleh Jose Mario sendiri, seperti sudah saya singgung di atas, merupakan sesuatu yang sangat menarik. Bagi yang tidak tahu, setiap kardinal yang terpilih dalam conclave untuk menjadi paus diharuskan memilih nama kepausan mereka yang nantinya akan digunakan sebagai <i>signature</i>. Jose Mario Bergoglio memilih nama Francis I.</p>
<p align="justify">Apa yang menarik dari itu? Jawabannya ada pada angka romawi 1 (I) di akhir namanya.</p>
<p align="justify">Ya, dia adalah paus pertama yang memilih untuk menggunakan nama Francis. Katakanlah kristen dimulai saat 0 masehi, dan semacamnya dan semacamnya—<i>do the math</i>. Selama ratusan tidak ada yang memilih nama Francis, dan baru sekarang pada tahun 2013, dua ribu tahun setelah masehi, nama itu akhirnya digunakan.</p>
<p align="justify">Awalnya, banyak yang menyangka Jose Mario Bergoglio, yang seorang Jesuit, memilih mengambil nama Francis dari Francis Xaverius, murid dari Ignatius Loyola yang seorang jesuit. Ternyata tidak demikian kenyataannya. Nama Francis yang digunakan oleh Jose Mario Bergoglio diambil dari Francis Assisi, seorang raja—<i>yang kemudian ditasbihkan sebagai orang suci</i>—dari Assisi. Francis Assisi adalah raja yang baik hati serta bijak. Beliau terkenal karena kerendahan hatinya untuk turun ke jalan mengenakan pakian rakyat (bisa dibayangkan pada zaman itu betapa jauh perbedaan pakaian raja dan rakyat jelata) demi merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Beliau menjadi raja yang bijak karena mau mendengarkan suara rakyatnya. Paus Francis I sendiri adalah seseorang yang cukup sosial.</p>
<p align="justify">Sebenarnya, pada conclave 2005 Jose Mario Berbeglio adalah kandidat &#8216;papabile&#8217; (bagi mereka yang sudah menonton Angels &amp; Demons, di sana papbile disebutkan sebagai preferiti), namun beliau mundur karena baginya dengan menjadi paus maka kegiatan sosialnya turun ke jalan akan susah dilakukan, maka Paus Benedict-lah yang akhirnya terpilih sebagai paus sampai 2013 ini. Semua Ordo Fransiskan (diambil dari Francis Xaverius yang sempat dibahas) memang menghindari jabatan kepausan karena mereka condong pada bidang sosial. Pada conclave kali ini, Jose Mario Bergoglio yang sudah tidak bisa mundur lagi akhirnya dinobatkan menjadi paus, dan supaya beliau tidak melupakan kegiatan sosialnya karena aktivitas kepausan, nama Francis dari Assisi-lah yang akhirnya dipilihnya (dan bukannya Francis Xaverius).</p>
<p align="justify">Bagi saya, Paus Francis I sendiri sudah cukup menarik tanpa fakta bahwa beliau adalah paus pertama sejak beberapa ratus tahun terakhir yang tidak terpilih dari Benua Eropa—<i>beliau dari keuskupan Argentina</i> (bagi saya fakta yang dijadikan sorotan oleh banyak orang ini tidak begitu menggemaskan bila dibandingkan pribadi dan latar belakang non-regional Paus Francis I sendiri <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p align="center">* * *</p>
<p align="justify">Sebenar-benarnya tulisan ini saya buat tanpa disiplin ilmu yang kuat baik secara sejarah maupun agama katolik itu sendiri—<i>karena keduanya, terus terang saja, bukan bidang yang saya kuasai</i>. Untuk itu saya sangat mengharapkan bagi para pembaca yang ingin membenarkan sedikit (atau bahkan banyak juga tak mengapa) bagian dari tulisan saya yang dirasa kurang benar. Jadi, ya gitu&#8230;, kalau ada salah tolong dikoreksi, karena saya bukanlah seorang katolik dan kertertarikan saya pada Paus Francis I ini sebenarnya lebih banyak didasari pada ketertarikan saya pada prosesi conclave itu sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/357/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=357&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/17/paus-francis-i-jose-mario-bergoglio-antara-jesuit-dan-doctrinal-conservatism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hei, kamu&#8230;</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/05/353/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/05/353/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Mar 2013 20:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Aku tak pernah suka berpergian dengan pesawat terbang. Meski itu bisa memangkas ratusan kilometer antara kotaku dengan kotamu menjadi sekadar lima puluh menit yang penuh buncahan rindu, aku tak pernah suka—tak akan pernah suka. Terlebih kini, ketika waktu yang sudah lima puluh menit itu berubah menjadi sembilan puluh menit. Bangkok menuju Jakarta, kembali pulang ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=353&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://digital-photography-school.com/wp-content/uploads/2008/12/plane-window-photography-5.jpg" alt="digital-photography-school.com" /></p>
<p align="justify">Aku tak pernah suka berpergian dengan pesawat terbang. Meski itu bisa memangkas ratusan kilometer antara kotaku dengan kotamu menjadi sekadar lima puluh menit yang penuh buncahan rindu, aku tak pernah suka—<i>tak akan pernah suka</i>. Terlebih kini, ketika waktu yang sudah lima puluh menit itu berubah menjadi sembilan puluh menit. Bangkok menuju Jakarta, kembali pulang ke kotamu tapi bukan pelukanmu, meski kau masih di sisiku. Ya, begitu&#8230;,</p>
<p><span id="more-353"></span></p>
<p align="justify">&#8220;Hei,&#8221; sapaku pelan, kau tak menoleh, hanya berdeham pelan.</p>
<p align="justify">Biasanya, aku selalu jatuh tiap kali kau berdeham. Seperti tak peduli, sambil lalu, tapi renyahnya suaramu saat itu selalu bisa membuatku terpesona, lalu tersipu malu-malu. Sayangnya kali ini tidak begitu, aku tidak suka ketika tidak diacuhkan. Tidak saat aku benar-benar membutuhkan perhatian yang lebih dari sekadar cukup—<i>terlebih darimu</i>. Aku marah, tapi rasanya tak berhak. Aku memang telah berbuat jahat padamu. Tetapi memang tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menyakitimu untuk yang satu itu. Tadi kau sendiri yang bilang seperti itu, kan? Lalu kenapa kini kau malah berhenti peduli padaku?</p>
<p align="justify">&#8220;Tidak apa,&#8221; jawabku, dan seolah memang benar tidak ada apa-apa, kau kembali berdeham, kali ini dengan nada yang lebih datar daripada yang pertama. Entah mengapa aku semakin kesal mendengarnya. Kau masih menatap langit di luar sana, alih-alih menatapku yang duduk di sampingmu. Padahal kau tahu, aku sudah meringkuk ketakutan memikirkan burung besi ini akan jatuh sewaktu-waktu. Tapi tidak, kau tidak mendekapku atau mencubit pipiku kemudian mengacak rambutku seperti yang biasa kau lakukan bila kita harus berpergian bersama. Aku tahu, kau tahu aku tidak senang diperlakukan seperti itu. Tapi aku rasa kau juga tahu, perlakuanmu yang tiba-tiba itu bisa membuatku tenang dan merasa berbunga-bunga dalam hati. Lalu, ketika aku benar-benar mendambanya, kenapa kau berpaling? Apakah langit itu lebih cantik daripada parasku? Hei, lihat aku! Aku tahu kau selalu memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk mencuri-curi pandang ke arahku. Lakukan! Hei, cepatlah!</p>
<p align="justify">Apakah ini karena percakapan yang kita lakukan sebelum ini? Percakapan yang aku harap tak pernah kita lakukan.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p align="justify">Aku menyayangimu, kau tahu itu. Kau juga sayang padaku, aku menghargainya. Tapi kau, aku&#8230;, kita semua tahu ada dinding besar yang butuh lebih dari sebuah sayang yang harus kita lalui untuk terus bersama. Tentu dinding itu bukanlah jarak yang terbentang antara kotaku ataupun kotamu. Aku sudah bilang, kan? Lima puluh menit pun aku bisa langsung tiba ke kotamu bila aku bisa mengalahkan ketakutanku pada burung besi ini. Jarak sama sekali bukan masalah, toh sewaktu-waktu kita bisa bertemu di titik tertentu yang bukan kotaku atau kotamu, merengkuh kasih dan membiarkan rindu melebur dirinya sendiri menjadi kecupan-kecupan hangat di antara peluh yang menetes tanpa memedulikan waktu. Seperti yang sudah kita lakukan selama lima hari terakhir ini.</p>
<p align="justify">Bukan jarak, bukan juga pihak-pihak lain sebagaimana aku tahu hatimu hanya tertambat padaku dan begitu pula hatiku pada dirimu. Dinding itu mewujud dalam bagaimana cara kita menyebut Tuhan kita masing-masing, dan itu&#8230;, hai kekasih, bukanlah dinding yang mudah dirobohkan. Egoku terlalu kuat untuk membiarkan aku menyebut Tuhanku dengan nama yang biasa kau gunakan untuk menyebut Tuhanmu, dan perasaanku padamu akan terhina dengan sangat bila demi diriku kau kemudian memutuskan untuk menyebut Tuhanmu dengan nama yang kupakai untuk menyebut Tuhanku. Kita tak mungkin bersama, tak peduli berapapun waktu yang telah kita habiskan untuk bertukar liur dan mengucurkan peluh. Kau tahu itu.</p>
<p align="justify">&#8220;Kau baik-baik saja?&#8221; kembali aku bertanya. Tidak apa-apa, jawabmu. Lucu, karena kau mengatakannya dengan bibir yang maju tak setuju. Aku bisa melihatnya, lho&#8230;, sekalipun kau memutuskan untuk memalingkan wajahmu dariku. Sekalinya kau tak melihat awan-awan yang berarak di luar sana, tetap saja yang kau tatap bukan aku. Kau sibuk berkutat dengan <i>notes</i> bersampul hitam dengan pena yang menari-nari di atasnya. Berpuisi, aku tahu&#8230;, menulis surat yang mungkin tak akan pernah kau kirim, kepadaku.</p>
<p align="justify">Aku membencimu untuk itu. Kau selalu menyimpan keluhmu sendiri. Menyamarkannya dalam sajak yang tidak untuk ku baca. Sajak itu tentangku, bukan?</p>
<p align="justify">Aku benci dengan sifatmu yang seperti itu. Melarikan diri tanpa pernah berterus terang secara langsung kepadaku. Sajak itu tak akan mengubah apapun, kau tahu&#8230;, bila kau tak pernah mau menunjukkannya padaku.</p>
<p align="justify">&#8230; tapi, betapapun aku membencinya, aku tak pernah bisa bertahan untuk tidak jatuh kembali setiap kali kulihat kau menulis dengan khusyu. Terlebih saat ini, ketika ketinggian yang selalu membuatku bergidik ngeri itu entah mengapa berkongsi untuk menjadi latar belakang untuk sosokmu yang tak pernah lekang. Aku berharap suatu saat kau menunjukkan sajak-sajak itu kepadaku. Mungkin sajak itu tidak akan meruntuhkan egoku, atau bahkan memadamkan cintamu yang begitu menggebu padaku. Tetapi mungkin sajak-sajak tersembunyi itu bisa mengubah sesuatu. Tentu naif bila kau pikir sajak itu bisa mengubah aku dan kamu menjadi kita, tapi kau tak akan pernah tahu apa yang akan berubah bila kau tetap menyimpannya rapat-rapat tanpa menunjukkan bahwa kau pun bisa berusaha untuk memperjuangkanku, meskipun hanya lewat sajak.</p>
<p align="justify">Lampu <i>seat belt</i> mulai menyala, tanda bahwa sembilan puluh menit kesempatanmu sudah habis kau gunakan untuk menganggapku tiada. Sebentar lagi burung besi ini akan menukik turun, menaikkan lumpur imajiner yang mengendap dalam lambungku—<i>perasaan tidak enak yang harus kucecap setiap kali pesawat hendak mendarat atau terbang landas</i>. Kali ini aku tidak menunggumu untuk mengacak-acak rambutku untuk membuatku merasa sedikit lebih tenang, sedikit nyaman, seperti percakapan kita yang sudah-sudah. Kali ini aku yang akan mengacak-acak rambutmu, dengan segurat senyum pedih seolah menasbihkan kenyataan yang tak mungkin bisa diubah tentang aku dan kamu. Kulihat kau sedikit terkejut, tak mengapa&#8230;, karena akhirnya kau menatap wajahku.</p>
<p align="justify">&#8220;Hei, aku ingin kamu bahagia, ok? Aku berharap aku yang akan membahagiakanmu, tapi itu tidak mungkin, kan? Tapi bila kamu mengharapkan yang sama untukku, aku mohon jangan pernah sekalipun kamu pergi dariku. Kita masih bisa berteman, kok.&#8221;</p>
<p align="justify">Sakit, ya? Aku tahu, kau bisa melihat aku merasakan sakit yang sama dari linangan air mataku, kan?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/353/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=353&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/03/05/353/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://digital-photography-school.com/wp-content/uploads/2008/12/plane-window-photography-5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">digital-photography-school.com</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sumber Watu Heritage &#8211; Abhayagiri Restaurant</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/02/02/sumber-watu-heritage-abhayagiri-restaurant/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/02/02/sumber-watu-heritage-abhayagiri-restaurant/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Feb 2013 15:04:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[It was always a bless—and a blast—to find a new quite and peaceful place to refresh your soul. Luckily, I had it last weekend when I went to Sumberwatu. At first, it was really tiring cause I wanted to go to several uncommon temples (Hindu&#8217;s and Buddha&#8217;s) such as Banyunibo Temple, Barong Temple, Sojiwan Temple, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=348&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">It was always a bless—<i>and a blast</i>—to find a new quite and peaceful place to refresh your soul. Luckily, I had it last weekend when I went to Sumberwatu. At first, it was really tiring cause I wanted to go to several uncommon temples (Hindu&#8217;s and Buddha&#8217;s) such as Banyunibo Temple, Barong Temple, Sojiwan Temple, and Archa Ganesha. I&#8217;m not gonna lie to you, it was really-really tiring for the accommodation is not as easy as if you want to go to such a well-known temple like Prambanan Temple. But in the end, all the efforts were payed off.</p>
<p align="justify">All of those beautiful temples and the green scenery presented, it was really worth it. Moreover, at the end of our journey, we spent our afternoon waiting sunset at Abhayagiri Restaurant, the only reason why I stopped complaining about all the tiring things I did that day.</p>
<p align="center"><img src="http://celotehsaya4.files.wordpress.com/2013/02/abhayagiri1.jpg?w=500"></p>
<p><span id="more-348"></span></p>
<p align="justify">Sumber Watu Heritage&#8217;s main buildings is wonderfully extraordinary. At the first look, the main buildings will remind us to Ratu Boko Temple. The textured bricks planted in the wall of the main buildings let us feel the archaic yet sophisticated architecture. The combination of an archaic sensation brought by the temple-like architecture and solid stateliness of the Sumber Watu Heritage itself will amaze us of its splendid beauty.</p>
<p align="justify">Situated far enough from the city heart of Yogyakarta but still can be easily reached, Abhayagiri Restaurant tries to offer you a different nuance of enjoying meal—<i>or having a great romantic dinner</i>. With its calmness and peaceful feeling offered, you can easily forget all the craziness of city&#8217;s monotonous routines that chasing you days after days. Abhayagiri Restaurant will let you relaxing yourself so you can enjoy the delicious and tasty international menu made only with freshest ingredients without any burdens on your shoulders.</p>
<p align="justify">Abhayagiri Restaurant tasteful foods completed with a great excellency serve of the waitress. Every staffs and workers in Abhayagiri is not only diligent but also kind, friendly, generous and smiling whenever they serve us. It feels like smile is not a special thing in Abhayagiri Restaurant because we can find it everywhere there. Foods and beverages will be more tasty with someone who always smile around us. Abhayagiri Restaurant seems to know that the taste of the foods is not the only thing that important for a restaurant, a good serve also counts and Abhayagiri Restaurant provides more than a good foods and serve. They serve the best.</p>
<p align="justify">Not even that, there&#8217;s one thing you can only find in Abhayagiri Restaurant. Abhayagiri Restaurant also entertain us with traditional dance choreographed by the owner depicts the life of Roro Jonggrang. It&#8217;s different with dance performance showed at Prambanan Temple that depicts Ramayana story, Abahayagiri Restaurant&#8217;s dance about Roro Jonggrang—<i>which served as their signature dance</i>—will tell us about the story about the very life of Roro Jonggrang, including the making of Prambanan Temple itself. More than an entertainment performance, this signature dance is full of philosophy. Sumber Watu Heritage is indeed a place of philosophy, every materials used for the main buildings have their own story, so it&#8217;s only natural if the dance also has a meaning behind.</p>
<p align="center"><img src="http://celotehsaya4.files.wordpress.com/2013/02/abhayagiri3.jpg?w=500"></p>
<p align="justify">Satisfied enough with best delicacy, serving, eloquent buildings and entertainment, don&#8217;t forget to satisfy your eyes with a clear view of Mount Merapi and Prambanan Temple. Abhayagiri Restaurant was never neglect your basic need of self-actualization. There&#8217;s a dock for you to take picture of yourself with Mount Merapi and Candi Prambanan as the background. Placed only ten minutes from Adisutjipto International Airport, Abhayagiri Restaurant has a great advantage of green scenery as the surrounding. It&#8217;s very peaceful and serene as wherever you place your eyes there&#8217;s only green that your eyes can take.</p>
<p align="justify">Abahayagiri Restaurant arise as a perfect choice for your need of delicacy and good place to hang out with your friend. It&#8217;s not your daily town-restaurant that filled with monotonous city-view but a complete different place with breathtaking sight of Mount Merapi, Prambanan Temple, and green scenery that you can&#8217;t find in other place. For further information, please kindly reach Abhayagiri Restaurant from <a href="https://www.facebook.com/abhayagirirestaurant">Facebook</a>, <a href="https://twitter.com/abhayagiri_food">twitter</a> or by phone at (0274) 4469277.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/348/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=348&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/02/02/sumber-watu-heritage-abhayagiri-restaurant/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://celotehsaya4.files.wordpress.com/2013/02/abhayagiri1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://celotehsaya4.files.wordpress.com/2013/02/abhayagiri3.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Karma for Rhythm</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/01/22/karma-for-rhythm/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/01/22/karma-for-rhythm/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2013 19:57:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[Mendengarkan lagu-lagu Dharma saya terpikirkan cerita ini. Cerita sepintas lalu saja yang mungkin tidak berhubungan dengan siapapun. Mungkin, ya&#8230;, tetapi mungkin tidak. Ah, semoga saja tidak. * * * Sementara banyak laki-laki lain mencoba bahkan melebihi kapasitas mereka untuk merajut kasih, menjebak gadis untuk terjebak pada mereka—bahkan samapi melebihi kapasitas mereka sendiri, ada satu laki-laki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=345&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Mendengarkan lagu-lagu Dharma saya terpikirkan cerita ini. Cerita sepintas lalu saja yang mungkin tidak berhubungan dengan siapapun. Mungkin, ya&#8230;, tetapi mungkin tidak. Ah, semoga saja tidak.</p>
<p><span id="more-345"></span></p>
<p align="center">* * *</p>
<p align="justify">Sementara banyak laki-laki lain mencoba bahkan melebihi kapasitas mereka untuk merajut kasih, menjebak gadis untuk terjebak pada mereka—<i>bahkan samapi melebihi kapasitas mereka sendiri</i>, ada satu laki-laki yang tidak perlu  melakukan itu semua dan para wanita selalu siap mengantri untuknya. Dengan jaket kulit yang mungkin akan terlihat cocok dikenakan beberapa tahun yang lalu, juga dengan celana pensil yang membuat laki-laki yang mengenakannya secara resmi dapat disebut kampungan, laki-laki yang satu ini bisa membuat setiap wanita yang berpapasan dengannya menghabiskan beberapa detik hanya untuk memastikan seorang malaikat telah berpapasan dengannya. Ya, laki-laki ini istimewa, anugerah yang diberikan padanya sejak lahir acap kali membuat laki-laki lain selain dirinya berpikir bahwa Tuhan tidak pernah adil.</p>
<p align="justify">Kenyataan yang memang harus kita semua akui.</p>
<p align="justify">Laki-laki ini tentu bukan sembarang pejantan. Di umurnya yang kerap membuatnya sering mendapat sindiran kecil dari ibunya yang sudah rindu menimang cucu, dia sadar dengan anugerah yang ia dapatkan. Tidak seperti laki-laki lain yang bahkan harus membohongi dirinya sendiri dengan kehidupan yang mereka jalani hanya untuk membuat seorang wanita terjatuh, laki-laki yang satu ini sadar bahwa ia tak harus berbuat banyak.</p>
<p align="justify">&#8230; ya, tak harus berbuat banyak. Hanya berdiri saja di depan konter bar, banyak wanita silap melompati satu atau dua detik detakan jantungnya hanya untuk memutuskan akankah mereka mampu bertukar nomer ponsel dengan sang lelaki.</p>
<p align="justify">Ya, dia sadar dengan itu semua, dan dia memanfaatkannya sebaik mungkin, dengan senyuman manis yang tak harus dibuat-buat untuk membuat para wanita mendekat.</p>
<p align="justify">Sudah tak terhitung lagi berapa malam laki-laki tersebut menghabiskan waktunya tertidur di ranjang yang bukan miliknya. Sudah tak perlu dihitung lagi berapa wanita yang menginginkan—<i>dan berhasil membuat</i>—sang lelaki memetik madunya. Ia seorang laki-laki yang hebat, dan sadar bahwa dirinya seorang yang hebat, dan tak perlu menunggu hingga hitungan menit baginya mengeksploitasi semua yang diberikan Tuhan padanya. Semua orang sudah tahu tentang dirinya, ia bukan lelaki murahan, tetapi memang kehebatannya sudah cukup bagi dunia untuk mengetahui eksistensinya. Hanya satu hal yang dunia tak pernah mengetahuinya. Ya, hanya satu hal, dan hanya seorang wanita yang tahu tentang aibnya ini.</p>
<p align="justify">Ia tak bisa membuat wanita yang telah membuatnya jatuh merasa telah jatuh padanya.</p>
<p align="justify">Wanita ini hanyalah wanita yang biasa-biasa saja. Semua orang memang mengakui kecantikannya, ya, dia memang cantik, tetapi memang hanya cantik saja. Semua beranggapan seperti itu, kecuali sang laki-laki ini. Ia tahu wanitanya lebih dari sekedar cantik, wanita yang tak mau dianggap sebagai wanitanya. Meski sang laki-laki tahu dirinya layak didapatkan, sang wanita selalu berpikir bahwa ia tak pantas mendapatkannya. Roda karma selalu berputar, memang&#8230;, tetapi waktu tak dapat diputar.</p>
<p align="justify">Wanita itu pernah dikecewakan sekali, dan tak mau dikecewakan lagi dan lagi&#8230;, terlebih oleh sang lelaki yang telah membuat banyak wanita mematahkan hatinya sendiri. Sementara sang laki-laki terus memberikan tubuhnya untuk memuaskan banyak wanita lain, hatinya sendiri tak pernah terpuaskan&#8230;, tak juga dapat memuaskan hati sang wanita. Tubuh memang sudah didapatkannya, baik tubuh wanitanya atau wanita-wanita yang lain, tetapi ia menginginkan yang lain. Ia menginginkan hati wanitanya, peduli setan sang wanita tak pernah melirik padanya. Frusrtasi ia lampiaskan, pada tubuh wanita-wanita yang tak diinginkannya, pada peraduan yang terus menderit tak mampu mengimbangi tubuh-tubuh yang bergumul di atasnya. Wanitanya tetap tak peduli. Boleh tubuh ia berikan, ia juga butuh sepanjang malam&#8230;, tetapi hati jelas lain soal.</p>
<p align="justify">Sang lelaki terus berusaha, sementara lelaki lain mengiri mengiba-iba pada anugerah yang ia terima. Sang wanita terus menampik, apa pedulinya dengan wanita lain yang mengutuknya karena bisa memenjara hati sang lelaki.</p>
<p align="justify">Ah, tapi apalah artinya hati yang terpenjara pada keputusasaan untuk terus mencoba&#8230;, bukan pada hati yang diinginkan?</p>
<p align="justify">Ah, iya&#8230;, karma memang tak seperti umur, ia terus berputar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=345&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/01/22/karma-for-rhythm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menembus batas gender?</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/01/21/menembus-batas-gender/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/01/21/menembus-batas-gender/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2013 08:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Ha, menembus batas gender? Sejujurnya saya juga tidak tahu kenapa bisa dibilang seperti itu. Padahal, kalau sepengetahuan saya, gender dan sex itu berbeda. Iya, gender dan jenis kelamin itu tidak sama. Sex, atau jenis kelamin—for those who have &#8220;eastern&#8221; tender ears, itu menurut saya sudah digariskan. Kamu terlahir dengan penis, maka kamu laki-laki, dan bila [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=342&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ha, menembus batas gender? Sejujurnya saya juga tidak tahu kenapa bisa dibilang seperti itu. Padahal, kalau sepengetahuan saya, gender dan sex itu berbeda. Iya, gender dan jenis kelamin itu tidak sama. Sex, atau jenis kelamin—for those who have &#8220;eastern&#8221; tender ears, itu menurut saya sudah digariskan. Kamu terlahir dengan penis, maka kamu laki-laki, dan bila kamu terlahir dengan vagina maka kamu seorang perempuan. Sementara itu, gender adalah peran dan peran ini sangat tergantung dengan pilihan yang diambil. Tidak semua yang memiliki penis memilih untuk berperan sebagai laki-laki, dan begitu pun sebaliknya. Peran yang dipilih ini bisa apapun dan seharusnya tidak ada yang boleh melarang, karena itulah gender sering disebut sangat cair.</p>
<p align="justify">Kira-kira begitulah yang selama ini saya pahami, kalau ada yang salah mohon dikoreksi secepatnya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Nah, sekarang kembali ke judul.</p>
<p><span id="more-342"></span></p>
<p align="center"><img src="http://celotehsaya4.files.wordpress.com/2013/01/2013-01-08-18-13-21.jpg?w=500"></p>
<p align="justify">Sering kali saya mendapati, banyak orang berkata seperti ini, &#8220;Kamu itu laki-laki, kenapa berpenampilan seperti perempuan?&#8221; Atau ada juga yang seperti ini, &#8220;Kamu itu perempuan, cobalah berpakaian sedikit feminim.&#8221; Mendengar yang seperti itu, saya bisa langsung mengambil kesimpulan: Mereka-mereka ini menganggap gender ditentukan dari jenis kelaminnya. Okay. Saya tidak sedang berusaha mengatakan kalau mereka salah, tapi sebaliknya saya juga tidak berpendapat kalau mereka benar, saya hanya diam. Itu keputusan mereka dan saya tidak berhak untuk memaksakan pendapat saya pada mereka meski mereka terus memaksakan pendapatnya pada orang lain. Yap, saya melakukan pembiaran.</p>
<p align="justify">Masalah muncul ketika saya memilih untuk membiarkan mereka dan melanjutkan hidup saya sendiri. Terus terang saya memang ngotot dengan cara hidup saya. Biar orang lain mau bilang apa, saya yang menjalani hidup saya dan hanya saya yang berhak memilih jalan hidup saya. Kemudian komentar lain muncul, &#8220;Kamu hebat ya, bisa menembus batas gender.&#8221;</p>
<p align="justify">DHUARRR!</p>
<p align="justify">Sampai di sini saya baru menyadari kalau melakukan pembiaran terhadap sesuatu yang salah itu sama saja dengan menyederhanakan hal-hal yang rumit, hasilnya hanya satu: hal-hal yang rumit akhirnya dianggap sederhana. Thanks, Captain Obvious.</p>
<p align="justify">Saya tidak menembus batas gender. Alasannya ada banyak. Satu karena gender itu sendiri adalah sesuatu yang cair dan menembus batas gender itu menjadi hal yang aneh karena sesuatu yang cair tentunya agak sedikit rumit untuk dipikirkan, dan dua, saya tidak mengganti gender saya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Boleh dibilang saya belum memilih gender saya, tetapi kalau pun sudah, saya tidak menggantinya. Yang saya pikirkan cuma satu, bukan kenapa laki-laki tidak boleh memanjangkan rambut, bersolek, memakai pakaian yang modis, merawat tubuh, atau bahkan mewarnai kuku. Kalau saya bertanya seperti itu, beberapa—<i>atau bahkan banyak, sangat banyak</i>—orang akan menjawab kalau Tuhan melarang laki-laki berlaku menyerupai perempuan (padahal ya, banyak laki-laki penampilannya mirip perempuan karena lahiriyah Tuhan sudah menciptakan mereka seperti itu lho). Yang jadi pertanyaan saya cuma satu, dan sangat sederhana, sejak kapan itu semua hanya boleh dilakukan oleh perempuan?</p>
<p align="justify">Ya, sejak kapan yang boleh memanjangkan rambut hanya perempuan? Sejak dulu saya lihat para nabi itu digambarkan dengan rambut yang panjang, begitu pula dengan para pendekar yang sering saya lihat di film-film China atau laga kolosal juga seperti itu. Saya yakin sewaktu masa mereka, pasti mereka tidak pernah mendengar pertanyaan, &#8220;Rambutmu kok panjang sih? Kayak cewek aja kamu ini!&#8221; Boleh taruhan deh <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Sejak kapan menjadi modis hanya boleh dilakukan oleh perempuan? Memangnya para perempuan itu mau pacaran sama laki-laki yang kumal dan jerawatan karena mereka tidak pernah merawat diri mereka? Tidak juga, kan? Sejak kapan laki-laki tidak boleh mengomentari baju yang dikenakan oleh wanita yang berpapasan dengan mereka? Atau sejak kapan laki-laki tidak bisa dimintai pendapat tentang mode? Setau saya, baik laki-laki dan perempuan secara fisik sudah diberi mata untuk menilai mana yang bagus dan mana yang jelek. Mana baju yang akan membuat pemakainya terlihat gendut atau menawan—atau malah mengerikan. Kenapa tiba-tiba menjadi masalah ketika laki-laki berkomentar tentang pakaian? Itu kan bukan komoditi perempuan, semua laki-laki juga mengenakan pakaian, kok.</p>
<p align="justify">Berangkat dari situ, saya melakukan gerakan personal yang saya sebut &#8220;Fuck Society&#8221;. Caranya? Saya mengenakan cat kuku. Sejujurnya saya tidak suka mengenakan barang yang satu itu, sesaat setelah kuku saya ditimpa cat warna-warni itu, pasti ujung kuku saya kebas. Intinya, bagi saya yang selalu terlihat mengenakan cat kuku, barang itu bukan sesuatu yang nyaman dipakai. Tapi saya ingin menunjukkan kalau bukan perempuan saja yang bisa memakai barang-barang yang sudah dilabeli sebagai barang perempuan. Untuk itu, cat kuku yang saya pakai pun bukan yang mahal-banget-gak-masalah-yang-penting-gw-keliatan-cantik tetapi warna-warna norak (dan dengan glitter, harus ada glitter, camkan!) yang bisa membuat orang langsung tahu kalau kuku saya tidak polos, bahkan ketika saya jalan bareng cewek saya. Jadi kalau saya dibilang saya menembus batas gender maka dengan tegas saya akan menjawab tidak. Kalau dibilang saya mendobrak aturan yang dibuat oleh masyarakat? Saya akan jawab, &#8220;Ya, saya sedang berusaha untuk itu.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/342/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=342&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/01/21/menembus-batas-gender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://celotehsaya4.files.wordpress.com/2013/01/2013-01-08-18-13-21.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Festival Film Dokumenter 2012: Day Five.</title>
		<link>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/01/10/festival-film-dokumenter-2012-day-five/</link>
		<comments>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/01/10/festival-film-dokumenter-2012-day-five/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2013 00:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>celo</dc:creator>
				<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://celotehsaya4.wordpress.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Yay, so finally I can manage to make it through the fifth day of FFD Jogja 2012. It may just another blog post, but it&#8217;s a leap for humanity :blush: No kidding, I&#8217;m that type of guy who love procrastination so much I can&#8217;t finish something. But with this post, this very post, I prove [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=340&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Yay, so finally I can manage to make it through the fifth day of <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/">FFD Jogja 2012</a>. It may just another blog post, but it&#8217;s a leap for humanity :blush: No kidding, I&#8217;m that type of guy who love procrastination so much I can&#8217;t finish something. But with this post, this very post, I prove to the whole world that I can finish my report for FFD even though it takes me a lot of time. Yeah, a very good procrastinator I am.</p>
<p align="justify">I planned watched three documentaries that day. Well, there&#8217;s only three screenings that day because for the closing ceremony at the end of the day. It was blazing, full of fun and such. So, what are you waiting for?</p>
<p><span id="more-340"></span></p>
<p align="center">* * *</p>
<p align="center"><img src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/11/Sound-Of-Old-Room-Screenshot.jpg"></p>
<p align="justify">The first documentary I watched that day was Sound of Old Room, a 72 minutes documentary directed by Sandeep Ray about a poet, Sarthak, and his life in his house where he lived for over twenty years. He struggled to be a poet, he did everything he could including abandoned his class to meet publisher. The documentary, unfortunately, didn&#8217;t dig so much about the issue so I just sat there watching how Sarthak lived his life. His issue with alcohol and how he met the girl of his life. One thing I could learn from the documentary was this personal thingy that being a poet in Calcutta is not easy, and that you have to find a good publisher too even though the indie one.</p>
<p align="justify">Reading the title, I thought I&#8217;ll watch about the house—or the room, whatsoever. Apparently, the house was not the main issue in this documentary. Speaking about technique, I&#8217;m not pretty sure, there was so much shaky camera in a dim light. I don&#8217;t know if it&#8217;s good or not but pretty much that&#8217;s all.</p>
<p align="justify">Anyway, in the end Shartak read one of his poetry to a crowd gathered. Personally—I&#8217;m not trying to offense someone but yes, this one will be very subjective—i don&#8217;t think it&#8217;s a good poetry :&#8217;(</p>
<p align="center">* * *</p>
<p align="center"><img src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2012/12/vlcsnap-2012-12-02-00h33m38s52.png"></p>
<p align="justify">Didn&#8217;t get lucky with the first screening of the day, I decided to linger around watching Persona. It&#8217;s a 75 minutes documentary tagged under <a href="http://www.festivalfilmdokumenter.org/docs-stage/">Docs on Stage</a> category, which means a documentary about stage performance. This one told about Rita Matu Mona, a senior theatre actress in Teater Koma. It was not only about her performance and such, the documentary also filmed about her personal life and her struggling in theater life. Actually I missed the first minutes but over all, I enjoyed this one.</p>
<p align="justify">I played theater at High School, so yes, this review will be a bit biased. But, trying as much as I could to be objective, Rita Matu Mona has a very strong character that you&#8217;ll need in theater life. Very dedicated mother who well-supported by her friends and family.  She is a very good actress and Persona showed us that she seemed like pouring her whole life into this world. She told it there that, every time she walked out the theater life, she couldn&#8217;t make it long <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  a day or two, and she&#8217;ll be there again. Na&#8217;ah, I think it&#8217;s a good point, that you can&#8217;t walk out your passion. It&#8217;s like you&#8217;ll keep doing that or die trying to getting out. Is it a good documentary? I don&#8217;t know. Is it a good story to tell? Yes, it is.</p>
<p align="justify">There was something disappointed about her, tho. From a feminist perspective, I think that Rita Matu Mona was underestimating herself just because she&#8217;s a woman. With her dedication and such, I don&#8217;t think she should be. Being a woman doesn&#8217;t mean you can&#8217;t live alone and live the life you want. Well, that&#8217;s all.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p align="center"><img src="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/11/tondo-beloved-Screenshot.jpg"></p>
<p align="justify">For the last screening of FFD 2012, I picked <a href="http://towhatarethepoorborn.wordpress.com/">Tondo Beloved</a> and damn it was a very good documentary with a very strong issue to be filmed. A 74 minutes documentary directed by Jewel Marahan from Philippines about, uhm, how do I explain it&#8230;, poor live of a poor family in slum area in Philippines? Actually, Tondo is the largest international port in Manila (or so, the synopsis said) and as I could see, it isn&#8217;t a good neighborhood to raise your kid or even to lived in.</p>
<p align="justify">The documentary brought me to the main character&#8217;s life (I&#8217;m so sorry I forgot the name) in a cramped house that I had to ask the director personally how could she manage to film it in that very cramped situation. As far as i can recall, the issue was not clearly-spoken there but instead, it merely showed you an issue worth to ask yourself. How the main character, who was pregnant at the time, managed to feed her family with everything that she could do (nothing much, I&#8217;d tell). The whole documentary kept me asking myself if the system there didn&#8217;t work or if it just their fate to be poor and that would be devastating <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  For me, a good documentary will force us to think over the issue presented and Tondo Beloved clearly did that very well.</p>
<p align="justify">Anyway, as the screening ended, there was Q&amp;A session and I could manage myself to ask a little about the documentary to the director herself (yay!) and she told me that Tondo Beloved is a continuous project, there will be two more documentary following as this one only depicted the &#8216;Birth&#8217; aspect. When I heard that, I was hoping to be able to watch more about this family.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p align="justify">It was a great experience for me. A lot of good documentaries had my eyes opened and I also had a lot of fun at the closing ceremony. Apparently, documentary film festival is not that bad, at least for me&#8230;, and of course I&#8217;m eager to attend a lot more as far as I can manage it <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  That&#8217;s all, my report finished here and now I realize my English is not that good <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Next time I&#8217;ll write in Bahasa Indonesia first then translate it to English, that way it will be a lot better and neater. Moreover, next time I&#8217;ll try my best to not sleep during screening <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/celotehsaya4.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/celotehsaya4.wordpress.com/340/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=celotehsaya4.wordpress.com&#038;blog=3341526&#038;post=340&#038;subd=celotehsaya4&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://celotehsaya4.wordpress.com/2013/01/10/festival-film-dokumenter-2012-day-five/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/5a08d425a795c01fb783afcbad3c7214?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Holy Cross</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/11/Sound-Of-Old-Room-Screenshot.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2012/12/vlcsnap-2012-12-02-00h33m38s52.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.festivalfilmdokumenter.org/wp-content/uploads/2011/11/tondo-beloved-Screenshot.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
