the end of trilogy

… mostly talk about whatever interesting according to my oh-so-simple brain. However, a blog is manifestation of the blogger, and I'll have to remind you that the blogger of this blog is one lazy simple minded person; try to keep your expectation lower than your moral, or else ….

Falsafah #PYTP

Bagi pengguna twitter, terutama mereka yang banyak memasukkan pengguna Twitter berbahasa Jawa ke dalam daftar orang yang diikuti status update-nya, mungkin sudah tidak asing lagi dengan tagar #PYTP ini. Sebenarnya apa, sih, maksud dari tagar tersebut?

#PYTP; Po Yo Tak Pikir
(Bhs. Jawa) Apa ya saya pikir[kan?]

Sebenarnya, tagar yang satu ini adalah tagar yang cukup menyegarkan ketika digunakan dengan tepat. Berkebalikan dengan paham yang dianut oleh sebagian besar ‘penggiat’ media sosial yang merasa dunia harus tahu dengan kehidupannya, atau bahwa mereka harus tahu kehidupan penghuni lainnya di dunia ini, tagar ini bisa dilemparkan untuk menyatakan bahwa, “Tidak, saya tidak peduli dengan kehidupan yang ingin kamu sampaikan, simpan saja untuk dirimu sendiri.”

Ketika dimaknai seperti itu, jelas tagar ini akan sangat dibutuhkan sekali, terutama oleh mereka yang mungkin sudah jengah dengan sedemikian banyak dramatisasi kehidupan dari pengguna lain media sosial—seolah-olah kehidupan dan masalah mereka sendiri tidak cukup dramatis untuk diurusi. Namun betapa sedihnya bila tagar yang bisa menjadi penangkal untuk sifat dasar buruk pengguna media sosial yang selalu mau tahu atau selalu mau memberi tahu ini ternyata tidak terlepas dari sifat dasar lain dari media sosial yang tidak bisa dibilang bagus juga.

Kita tentu sudah sering mendengar—atau bahkan sudah jengah—dengan ‘anak-anak muda jaman sekarang’ yang cenderung langsung melompat pada kesimpulan yang diambilnya sendiri tanpa mau melakukan verifikasi untuk informasi yang ia dapatkan, baik dengan mencari sudut pandang lain dari informasi yang diberikan maupun untuk sekadar bertanya. Sudah sering pula kira mendengar bahwa media sosial kemudian disalahkan untuk kemunduran dalam hal cek dan kroscek ini. Media sosial sering kali dituding terlalu instan menyajikan sebuah informasi, itupun dengan ragam informasi yang cukup luas pula. Informasi yang didapatkan pun kemudian menjadi lebih banyak dibandingkan waktu, dan tenaga, yang dibutuhkan untuk melakukan verifikasi. Pengguna media sosial seolah dimanja dengan beragam infomasi yang belum tentu benar, lalu malas untuk membuktikan kebenaran dari informasi yang didapatkan.

Keadaan ini kemudian dikompori pula oleh pihak-pihak penyedia informasi dengan gaya penyampaian informasi mereka yang semakin melanggengkan sifat manja para pembacanya. Sebut saja portal-portal berita daring dengan nama yang cukup mentereng, yang ketika kita mendengar namanya kita merasa tidak perlu lagi melakukan verifikasi karena kita tahu mereka selalu menyuguhkan riset yang mendalam pada versi cetaknya, mencoba merangkum informasi yang ingin mereka sampaikan dalam sebuah tajuk berita. Ini lebih parah lagi menurut saya, karena tidak hanya kita menjadi malas untuk melakukan verifikasi, kita bahkan jadi malas untuk membaca keseluruhan isi berita karena berpikir keseluruhan informasi yang diberikan toh sudah terangkum pada judulnya.

Singkat kata, kita dididik untuk menjadi ignoran.

Ini yang kemudian menjadi sedikit menyedihkan. Falsafah #PYTP yang seharusnya tepat digunakan untuk memberi batas terhadap drama apa yang ingin kita nikmati dan mana yang tidak, kemudian bergeser menjadi falsafah apologetik ketika kita memilih untuk tidak peduli. Paham ‘pokoknya’ yang kerap digunakan oleh para ekstrimis pun digunakan oleh para pengguna tagar #PYTP. Apapun kebenaran yang [coba] Anda sampaikan, saya tidak peduli, tidak akan saya pikirkan sama sekali. Isu-isu yang penting pun dengan mudahnya direduksi oleh tagar yang satu ini.

“Mas, yang benar itu diubah, bukan dirubah.”
“Prek! #PYTP”
“Hore!”

Mbak, tidak semua ibu yang bekerja itu tidak sayang dengan anak-anaknya.”
“Ah, alesan! #PYTP”
“Aseeek!”

“Pak, siul-siul ke cewek itu termasuk pelecehan seksual, lho!”
“Sing penting enak! #PYTP”
“Yungalah…”

Sinister 2

Sinister 2

Sinister 2

Melakukan pencarian di google dengan kata kunci ‘sinister definition’, saya mengetahui bahwa dalam bahasa Inggris, sinister merupakan sebuah kata sifat dengan arti sebagai berikut:

sin·is·ter
ˈsinistər/
Giving the impression that something harmful or evil is happening or will happen.

Jujur saja, awalnya definisi tersebut saya rasa kurang tepat untuk menjelaskan film yang akan saya tonton. Bagi saya, Sinister 2 tidak ada bedanya dengan film horror kebanyakan yang kerap mengumbar adegan-adegan mengagetkan dengan alur cerita yang sebenarnya sederhana atau biasa-biasa saja. Semuanya berubah ketika akhirnya saya benar-benar menonton film ini. Asu, memang!😐

Secara garis besar, Sinister 2 menceritakan tentang kisah seorang perempuan single parent—nantinya saya baru mengetahui bahwa perempuan ini ternyata tidak se-single yang saya kira—dengan kedua anaknya yang menempati sebuah rumah yang dulunya pernah menjadi TKP pembunuhan terhadap sebuah keluarga. Sejak menempati rumah tersebut, salah seorang anaknya, Dylan, kerap mengalami mimpi buruk. Tidak hanya itu, Dylan bahkan mempunyai beberapa ‘teman imajiner‘ yang setiap malam selalu memaksanya untuk menonton film footage tentang pembunuhan terhadap sebuah keluarga. Setiap malam, akan ada film berbeda yang harus ditonton. Harus? Ya, harus. Milo, salah seorang teman imajiner Dylan, memaksakan kondisi ‘harus’ tersebut pada Dylan dengan mengatakan bahwa menonton film-film snuff tersebut akan membuatnya tidak lagi bermimpi buruk.

Di sisi lain, seorang mantan sheriff deputy—entah apa padanannya dalam bahasa Indonesia dan entah siapa namanya karena ia lebih sering dipanggil dengan nama deputy di sepanjang film—berusaha untuk menguak kasus-kasus pembunuhan di masa lampau, di mana pembunuhan-pembunuhan tersebut memiliki pola tertentu sebagai berikut:

1. Pembunuhan ini selalu terjadi pada sebuah keluarga
2. Salah satu anak dalam keluarga tersebut pasti hilang sementara anggota keluarga lain ditemukan terbunuh
3. Pembunuhan-pembunuhan tersebut selalu terjadi di rumah yang memiliki gambar simbol tertentu

Singkat cerita, mantan sheriff deputy ini tiba di rumah Dylan sekeluarga dan menemukan fakta bahwa nyawa Dylan sekeluarga terancam karena rumah yang mereka tempati merupakan rumah yang muncul dalam pola pembunuhan yang tengah diselidikinya. Sampai di sini, alur ceritanya akan sama seperti kebanyakan film horor lainnya: Bagaimana usaha sang ibu dan mantan sheriff deputy tersebut menyelamatkan nyawa Dylan dan juga anggota keluarganya yang lain. Blah, blah, blah…

Satu hal yang membuat Sinister 2 menarik adalah keterampilan pembuat film ini dalam meramu unsur-unsur mengejutkan—literal, unsur yang membuat penonton berteriak terkejut, bukan plot twist atau semacamnya—di dalamnya. Karena seperti sudah kita ketahui bersama, yang menarik dari film horor adalah pakemnya dalam membuat penonton terkejut. Sangat menyenangkan sekali mengetahui Sinister 2 bisa memainkan timing yang tepat dalam memunculkan jurig untuk membuat kita terkesiap kaget. Di samping itu, upaya untuk menyisipkan found footage juga patut diacungi jempol untuk membuat kita berpikir bahwa Sinister 2 adalah film horor yang paling membuat kita merasa depresi, setidaknya untuk saat ini.

Sayang, seperti kata pepatah, ‘tak ada gading yang tak retak.’ Abaikan alurnya yang sangat film horor sekali, saya cukup menyayangkan penggunaan visual effect saat menggambarkan bagaimana teman-teman imajiner Dylan menghilang. Dengan kemajuan teknologi pembuatan film kini, wajar bila saya memiliki ekspektasi yang lebih besar dari yang disajikan oleh Sinister 2. Di samping itu, penggarapannya juga mengendor menjelang bagian sepertiga terakhir, seolah-olah sineas yang menggarap Sinister 2 antara kekurangan dana atau kekurangan ide hingga membuat saya, yang tadinya mendapuk Sinister 2 sebagai film horor yang paling membuat depresi—sampai sempat ingin keluar dari studio di menit-menit pertama karena tidak kuat dengan sensasi horor depresifnya, berpikir, “Yeah, good. Now give me something more.” Masalah lain yang muncul adalah casting yang terasa tidak memiliki chemistry antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Mereka berakting dengan hambar. Sayang sekali.

Bagi saya, yang menolong Sinister 2 adalah kenyataan bahwa saya belum menonton Sinister. Membaca laman Sinister 2 di wikipedia, saya menemukan bahwa kritik yang datang untuk Sinister 2 berputar pada tidak adanya kemampuan—atau mungkin kemauan—dari sang sineas untuk menyuguhkan sesuatu yang baru dari film pendahulunya. Rating dari saya untuk Sinister 2 adalah: Layak ditonton (dari tiga kategori ‘tontonlah kalau ada waktu luang’, ‘layak ditonton’, dan ‘harus ditonton’). 7/10.

Tunggu, saya ubah rating saya menjadi ‘HARUS DITONTON’! Karena, oh, karena, saya kurang terima kalau hanya saya saja yang merasakan sensasi depresi dari film ini, kalian juga harus mencicip rasa depresi yang sama! Sinister 2 benar-benar sinister, kalian harus coba!

Perokok Sopan

Perokok sopan? Memangnya ada? Ada! Ada banget! Mungkin tidak benar-benar resmi ada, mungkin hanya saya saja yang menyebutnya sebagai perokok sopan, tapi nyatanya memang ada perokok yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Memangnya, seperti apa sih yang disebut dengan perokok sopan itu? Hmm…, intinya, sih, ya itu tadi, perokok yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, mereka yang merokok tetapi juga memikirkan orang-orang lain di sekitarnya yang mungkin juga bukan seorang perokok.

mari kita bahas lebih lanjut

Hey, it’s dharmaformusic!

Teriak-teriak waktu konser musik? Wuih, saya jagonya! Meskipun suara saya sama sekali ndak bisa dibilang bagus (iya, saya sadar banget kok sama kenyataan yang perih ini), tapi saya punya keyakinan bahwa di setiap konser, teriakan paling kencang yang bisa saya buat pun pasti akan tenggelam oleh teriakan penonton lain, atau setidaknya selalu bisa diredam sempurna oleh teriakan sang talent yang menggema dari loudspeaker. Tapi malam ini saya mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan konser musik😛 Kalau biasanya saya berteriak untuk para rock stars, superstars bahkan idol group sekalipun, semalam saya berteriak untuk band indie yang akun twitter-nya bahkan baru bulan lalu tembus angka 1000 follower😛

And you know what, rasanya beda banget!

seriusan lho!

My name is Khan and I’m an Aries!

Saya tidak tahu kenapa begitu banyak orang begitu menggemari astrologi (bukan astronomi, ya, beda!) dan tetek bengek ramalan horoscope itu. Saya sendiri bukan penggemar, tapi tidak bisa dibilang pembenci juga…, biasa-biasa saja juga ndak. Hubungan saya dengan ramalan bintang itu seperti sebuah hubungan yang rumit lengkap dengan cinta dan bencinya. Ada satu bagian dari sisi yang memaksa saya untuk langsung membalik halaman langsung ke kolom horoscope di setiap majalah yang saya tahu dilengkapi dengan kolom tersebut, sementara ada juga sisi lain dari saya yang tidak henti-hentinya melemparkan komentar nyinyir pada setiap apa yang tertulis di sana.

… dan itu berarti saya memang benar-benar membaca ramalan tersebut dari awal sampai akhir, kan?

ini benar-benar hubungan yang sangat rumit

Sepiring nasi.

Ini hari keempat program ngeblog sebulan penuh, setiap hari masing-masing satu post. Jujur saja, ini baru hari keempat dan saya sudah kehabisan isu untuk diceritakan kepada kalian semua. Saya tahu, masalah sosial di sekitar kita itu ada banyaaaaaaaaaaaaaaak sekali. Sebut saja saya orang yang terlalu serius—karena kalian bukan orang pertama yang menyebut saya demikian dan mungkin juga bukan orang yang terakhir—tapi nyatanya memang banyak sekali masalah sosial di sekeliling kita. Masalah-masalah yang mungkin kita anggap sepele, tetapi ketika semura orang dalam sebuah society melakukannya…, masalah tersebut tidak lagi menjadi hal yang sepele.

Masalah mengenai nasi, misalnya.

ada apa dengan nasi?

Lupa.

Lupa. Sudah bertahun-tahun aku mencari yang satu ini. Pencarianku tak pernah membuahkan hasil kecuali penjelasan-penjelasan singkat yang kutemui sekadar di kamus-kamus semata, bentuknya yang corporeal masih menjadi semacam kabut tipis untukku.

lu·pa v 1. lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran (ingatan) lagi; 2. tidak teringat; 3. tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, dsb); 4. lalai.

Penjelasan-penjelasan itu, mereka sudah menjalankan tugas mereka sesuai kodratnya, menjelaskan…, dan hanya itu saja yang bisa mereka lakukan. Mereka bahkan tidak memberi tahu di mana aku harus mencarinya dan di mana ‘lupa‘ ini bisa aku temukan. Mereka meninggalkanku begitu saja, tak berdaya berkubang dalam lumpur yang perlahan-lahan mulai menarikku masuk ke dalam derita. Ini sungguh menyiksa.

aku benar-benar tersiksa

BBM For Android

Saya gak tau lagi deh apa maunya orang-orang dari perusahan yang satu ini (bukan yang ini :P). Di plurk sebenarnya sudah ada yang bilang kalau BBM itu menarik karena dia eksklusif. Bagian ini saya sangat setuju. BBM punya banyak fitur yang saat ini mungkin masih jadi barang mewah bagi kebanyakan penyedia jasa instant messaging, salah satunya ya karena keeksklusifitasannya yang cuma bisa dipake antar sesama pengguna Blackberry itu tadi.

Tapi kemudian muncul desas-desus BBM akan diluncurkan juga untuk android dan iOs. Yah, sudah lah ya…,

bikin sebel sih memang

Lady Gaga

Sebenarnya saya bukan penggemar mbak yang satu ini😛 Lagu-lagunya pun banyak yang saya lewati begitu saja ketika terputar di pemutar musik saya. Tapi, harus diakui, banyak juga lagu-lagunya beliau yang saya gemari juga😛 Satu di antaranya, yang paling saya senangi, ‘Eh, Eh… (Nothing Else I Can Say)’, dua dan tiga berikutnya mungkin ‘Alejandro’ dan ‘Fashion’. Sisanya saya sekadar suka dan bukan yang suka banget (menurut data statistik last.fm saya, mbak ini bahkan kalah jauh dari SM*SH dan Justin Bieber).

Terus kalau ndak suka-suka banget, kenapa dijadikan postingan, jal?

Baca entri selengkapnya »

Friends With Kids (2011)

***

What will you choose, slow painful death by disease…, or watching the love of your life die a slow painful death by disease?
— Julie Keller

***

mengandung spoiler, tidak mengandung babi

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: