Stagnansi

by celo

power tend to corupt, absolute power corupt absolutely… kutipan yang bagus dan sedikit banyak benarnya kalo mau dipikir baik-baik. Tapi bodoh namanya kalo kita memilih menjadi lemah tanpa ada satu kekuatan pun karena takut cenderung hancur. Nothing last forever, you’ll be corupt with or without power. Tanpa punhya kekuatan pun kita akan hancur, jadi mana yang akan kita pilih ? hancur oleh kekuatan orang lain atau hancur karena kekuatan sendiri ? Saya sangat memilih yang kedua ;D

*ngelirik judul*

Sejak dahulu sampai sekarang ada beberapa hal yang terus berubah. Menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya agar dapat terus berlangsung atau sekedar berubah karena bosan dengan hal yang terus sama setiap waktunya. Namun bukan berarti semua hal harus berubah, ada beberapa hal yang dari dulu hingga kini masih berada pada bentuk aslinya. Kita biasa menyebut hal ini kodrat. Ada juga yang merupakan gabungan keduanya, setelah lama tidak mengalami perubahan, pada suatu titik balik hal itu tiba-tiba berubah dan sebagainya. Kecap tak selalu manis, begitu pula dengan perubahan. Terkadang ada hal yang baik-baik saja berubah menjadi kacau.Ironisnya perubahan seperti ini umumnya dikehendaki oleh manusia itu sendiri.

Ingatkah anda pada sinetron periode tahun 90-an ? Pada saat itu sinetron dianggap sebagai media penyampaian informasi positif yang cukup bagus. Dalam “Notkah Merah Perkawinan” misalnya, sarat sekali dengan pesan-pesan moral seperti bagaiaman perasaan anak bila orang tuanya bercerai atau bagaiaman susahnya seorang ibu menjadi single parent dan sebagainya (bukan saya lho yang bilang kalo moralnya masyarakat Indonesia saat itu doyan cerai). Fungsi sinetron kala itu tidak murni sebagai media entertain tapi juga alat cuci otak (terutama sinetron-sinetron TVRI).

Jaman berubah, sinetron sekarang sudah tidak terlalu kental pesan moralnya. Pesan moral yang ada dalam sinetron sekarang ini diberikan secara gamblang. Kalo berjudi nanti matinya mengenaskan, atau bila merebut suami orang nanti mati masuk jurang karena ngebut (eh bukan saya lagi lho yang bilang kalo moral masyarakat Indonesia saat ini itu ngerebut suami orang). Kebanyakan orang menganggap perubahan mutu ini sebagai perubahan negatif. yah… saya tidak bisa membendung perspeksi orang atau malah melarangnya berpendapat demikian.

Secara pribadi saya melihat sebuah ke-stagnansi-an dalam perubahan di dunia persinetronan ini. Stagnansinya terletak pada musik. Sinetron jaman dahulu sedikitnya memiliki 5 buah lagu baik untuk opening, ending ataupun ilustrasi di tengah penayangan. Sinetron sekarang ? Hanya satu. Baik sebagai opening, ending, BGM, ilustrasi dan macem-macemnya. Bahkan ada yang dengan keterlaluannya menggunakan lagu itu sebagai ringtone hape pemerannya atau sebagai lagu yang dibawakan bila ada adegan ngamen. stagnan sekali bukan ? saya sampe rada muak denger “Hingga Ujung Waktu”nya Nineball, cmiiw.

Bentuk stagnansi lainnya ? Sudah 63 tahun Indonesia merdeka dan kita masih makan kerupuk atau manjat pohon pinang.

Selamat berumur 63 tahun Indonesia…🙂 telat ngucapin karena sibuk nge-plurk

ini postingan gagal karena saya ngelantur dari awal sampe akhir dan sangat cccriuk. Dianjurkan tidak membacanya dengan semangat karena hanya akan membuat sakit hati. Poin yang ingin saya sampaikan adalah, “Memang benar ada hal yang tidak pernah berubah sejak dulu hingga sekarang dan ada juga hal yang berulangkali mengalami perubahan. Yang manapun itu, tugas kita adalah membuatnya menjadi lebih baik daripada sebelumnya”.