Eksistensi

by celo

Saya habis baca baca sebuah blogg milik blogger kondang. Ini blogg beliau waktu masih numpang di blogdrive. Saat membaca, saya dialiri banyak sekali informasi informasi dan renungan renungan… Salah satunya mengenai tentang esistensi seseorang di dunia

Cogito ergo sum. Aku berpikir maka aku ada. Benarkah begitu. Menurut saya keberadaan seseorang tidak bisa disimpulkan hanya dari pikiran orang itu sendiri. Soalnya, menurut saya pribadi pikiran itu kadang-kadang bisa menipu. Baik dia dengan sengaja menipu kita atau diarahkan sesuatu ha lain di luar untuk menipu kita.

Kita bisa saja percaya pada sesuatu karena pikiran kita menyatakan itu. Tapi kita juga ndak pernah tau. Benarkah itu pikiran kita sendiri ? Β Bukan pikiran orang lain yang mempengaruhi kita agar berpikir sama ? Akal pikiran itu bagi saya hal yang lumayan ndak logis lho. Masa sesuatu yang ndak nampak bisa membuat suatu keputusan ? Walah. Makin bingung saya *ini sebenarnya bingung soalnya eko, tika, sandal ama gage ribut di sebelah, saya jadi lupa mau nulis apaan*

Ahh lupa tadi mau nulis apa dan nulis sampe mana…. Balik lagi ahh…. pokoknya bagi saya, pemikiran seseorang itu ndak bisa menentukan keberadaanya dia di dunia. Kenapa ? Karena kurang bukti keberadaannya. Pemikiran yang terlalu njelimet itu kurang bisa saya percaya sebagai bukti keberadaan seseorang. Misalnya gini…

A : Apa bukti keberadaanmu.
B : Aku berpikir maka aku ada
A : ahh, itu kan hanya pemikiranmu sepihak. Dalam pemikiranku kamu itu ndak ada

Modyar kan kalo pemikiran dianggap sebagai bukti keberadaan ? Lalu kalo bukan itu. Apa bukti keberadaan seseorang ? simpelnya, apa bukti saya ini ada ? Bagi saya adalah, pengakuan orang lain. Misalnya begini.

A : Apa bukti keberadaanmu ?
B : kamu menganggapku ada dan mengajakku bicara. Itu bukti keberadaanku.
Kecuali kalo kamu itu orang yang nggak waras dan hanya menggapku sebagai salah satu teman imajinasimu.
A : …

Nah kan ? Begitu baru enakπŸ˜† Nah masalahnya kemudian adalah bagaimana kita membuat orang lain mengakui kalo kita ada. Menurut saya caranya adalah membuat kita berarti di matanya. Menjadi terkenal dimatanya. Jalan mana yang kita pilih untuk mencapai itu tentu saja terserah. Apakah kita memilih “fame” atau “infammy”. Untuk yang satu ini saya ndak bisa ngomong dulu. Bakal panjang nantinya. Soalnya kalo ngomongin fame dan infammy saya cenderung ngomong panjang lebar tentang perspektif. Nanti ndak jadi panjang banget.

Mana yang anda pilih agar diakui ? Terkenal kebaikannya atau terkenal busuknya ?πŸ˜‰