Distorsi

by celo

Kemaren saya dan Tanti ketemu seorang teman lama. well, mungkin nggak lama-lama amat. dua atau sebulan lalu kami masih akrab main bersama kok. cuman pertemuan kemaren itu memang beda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Ada sesuatu yang beda. Entah itu hanya perasaanku saja atau Tanti juga merasakan.

Aku, Tanti dan orang itu dulunya teman yang bisa dipandang sebagai sahabatlah, teman akrab. Kami saling tahu kekurangan masing-masing dan bisa enjoy dengan kekurangan itu. Seperti saya yang pemaksa dadakan dan nggak bisa ditolak, Tanti yang begitu itu atau orang itu yang suka bikin males. Mungkin orang menganggap kami teman akrab karena kami bisa bersama cukup lama dengan sifat masing-masing yang mungkin tabrakan. Nggak mudah memang pertemanan kami, tapi kami toh bisa berteman juga.

Tapi itu dulu, setelah itu saya tiap hari masih ketemu ama Tanti, sementara kami sudah dua bulanan nggak pernah ketemu sama orang itu. Kemaren waktu kami ketemu dia, saya ngerasa ada yang beda. Saya merasa orang itu semakin mempesona yet, semakin nggak layak juga untuk diperjuangkan. Entah, sepertinya dia sudah jauh diluar jangkauan kami.

Sempat berpikir, apa mungkin waktu yang hanya dua bulan itu cukup baginya untuk melupakan semua yang pernah terjadi diantara kami. Dia sudah melangkah ke range yang lebih tinggi lagi. Benar-benar sudah tidak bisa diraih, setidaknya oleh saya, nggak tau Tanti gimana. Bila dulu perasaan saya condong untuk mempertahankan pertemanan kami, kini perasaan saya datar. Kami hanya teman lama yang bertemu kembali, titik. Tidak ada perasaan ingin mempertahankan pertemanan lagi, bila dia memang sudah tidak bisa dijangkau ya sudah biar. begitu pikiran saya kemarin itu.

Sebenarnya siapa yang berubah ? Saya atau dia…???

Hanya dalam dua bulan saja, waktu sudah mendistorsi hubungan kami. Ya saya tahu, dua bulan bukan waktu yang singkat untuk beberapa orang. Dalam sebuah lagu ada lirik demikian

There may be so many people,
Hundreds, even thousands of them,
Who came into my life and made it go around
And because they are not you,
I have not found what I had lost

Saya paham itu. Dia sudah bukan anak kecil lagi, tahun ini dia sudah menyelesaikan sekolahnya, bertemu dengan orang-orang baru. seratus bahkan seribu orang baru yang membuat hidupnya berputar. Saya akui saya pun demikian. Tapi kenapa saya tidak bisa seperti lirik dalam lagu tersebut. Kenapa dia bisa terlupakan ?

Apakah memang hanya sebegitu itu kadar pertemanan kami ? Padahal dulu kami mungkin sudah membuat janji yang muluk-muluk. Saat saya harus pindah-pindah kota dan sebagainya kami berjanji untuk tetap berteman. Tapi sekarang sepertinya waktu telah mengkhianati kami dan bersekongkol dengan dunia yang terus berputar untuk mengaburkan janji itu. Janji tetap janji, tepati atau dia akan menghilang. Saya sejujurnya tidak ingin keadaan berubah seperti ini. Tapi sepertinya semuanya sudah terlambat. Dia sudah memiliki duanya sendiri, dan saya jelas tidak ada dalam dunianya itu. Haruskah saya masuk ke dalam dunianya ? dunia yang tidak mungkin untuk diraih itu ? lalu bagaimana dengan duniaku sendiri ? Sepertinya duniaku memang harus mati. Dunia kami yang dulu kokoh menantang segala rintangan itu kini sudah terdistorsi. Terpecah pecah dan tak mungkin kembali menjadi satu. Agaknya aku memang harus merelakan dia bermain dengan dunianya sendiri. Biarkan saja duniaku ini mati. Sekarang.

Kusumo melipat surat yang baru saja ditulisnya menjadi dua bagian kemudian menyimpannya di dalam laci meja belajarnya. Sesaat matanya nanar memandangi lacinya yang belum sepenuhnya tertutup itu. Diam sesaat ia kemudian mengambil sebuah botol kecil berisi beberapa butir pil dan sebuah cutter baru kemudian menutup laci itu. Kusumo berdiri dan berjalan menuju tempat tidurnya sambil membawa barang-barang yang baru saja dikeluarkannya dari laci meja belajarnya itu.

Lama dia terduduk di pinggiran tempat tidurnya. Pandangan matanya yang kosong menyiratkan bahwa dia tengah terbuai dengan dunianya sendiri. Tak lama kemudian dengan cepat dia membuka tutup botol yang dari tadi digenggamnya.

Tuk . . .

sebutir pil berpindah dari dalam botol ke tangannya. Diam Kusumo memandangi pil tersebut. Lalu sekali lagi dengan gerakan yang tiba-tiba dia mulai menggoyangkan botol itu.

Srak . . .

Berbutir-butir pil berpindah dari dalam botol ke telapak tangannya. Beberapa pil terlepas dari tangannya dan berceceran di lantai kamarnya. Tak seperti sebelumnya, Kusumo langsung memasukkan pil-pil itu ke dalam mulutnya. Kesusahan dia mencoba menelan semua pil itu tanpa bantuan air. Tapi dia tak peduli. Diambilnya cutter yang sejak tadi terongok di atas pahanya kemudian

CRASH…!!!

*** keesokan harinya ***

“Kamu hanya kabur Kus, kamu menjadikan aku dan dia sebagai alasan saja. Kau hanya depresi karena tak kunjung menyelesaikan skripsimu. Kau membuat kami kecewa. Tapi itu semua sudah terlambat. Kau sudah pergi”

Tiba-tiba Tanti terisak. Tangannya bergetar memegangi selembar kertas yang mulai basah oleh tetesan air matanya.