Persepsi

by celo

Kemiskinan ada di sekitar kita, andai saja kita mau lebih peduli kita pasti tahu akan hal itu. Tentu saja bila kita lebih peduli lagi, kita akan berusaha menolong mereka. bagaimanapun kata ustadz didalam harta kita ada sebagian dari harta mereka. Jadi wajar jika kita membantu orang-orang miskin.

Ya memang benar banyak orang miskin di sekitar kita. Orang-orang yang tinggal di bawah kolong jembatan, orang-orang yang seharian jadi kuli batu, orang-orang yang kerjanya hanya meminta-minta. Tapi tunggu dulu, bukankah kita terlalu berpikir kapitalis jika kita melihat tingkat kesejahteraan seseorang hanya dari tingkat materi saja ?

Katakanlah tingkat kesejahteraan memang diukur dari material, apakah kita tidak terlalu naif menganggap mereka itu miskin ? Jenis pandangan seperti apa yang kita gunakan disini ? Jika saya menggunakan pandangan yang biasa kita pakai yang rasanya condong ke arah kapitalis dan materialis, MAKA :

Orang yang tinggal di bawah jembatan kita sebut jauh dari kesejahteraan karena mereka terllihat kumuh dan tidak higienis. Tapi pernahkah anda menampatkan diri anda sebagai mereka ? Walaupun sanitasi mereka tidak terjaga dengan baik, bahkan kadang tidak terjaga sama sekali. Nyatanya mereka tidak keluar masuk rumah sakit sebanyak kita yang sanitasinya terjaga. Tubuh mereka lebih kuat daripada kita, dan mereka bisa hidup lebih sehat daripada kita. Oh crap, that sucks! Ditambah lagi entah kita sadari atau tidak, mereka lebih sering berbagi di bawah jembatan sana dengan tetangganya. Berbagi emosi, berbagi suami, berbagi cerita dan tentu saja berbagi rezeki. Sementara kita yang diberi kehidupan di atas jembatan ?

Bila sejahtera kata dosen saya adalah jalan hidup manusia untuk mencapai kebahagian, sejahtera mana mereka dengan kita ?

Orang yang bekerja sebagai pengemis kita anggap miskin karena mereka hidup dari uang orang lain. Ya memang benar mereka hidup dari pemberian kita. Tapi betapa piciknya bila kita hanya memandang sesuatu dari luarnya saja kan ?

Teman saya berkata, penghasilan pengemis dalam sebulan lebih besar dari gaji PNS sebulan. Mungkin ada benarnya. Saya belum pernah nyambi jadi pengemis jadi saya nggak tau. Yang jelas, mereka tidak semiskin yang kita kira. Karena toh mereka masih bisa hidup di Indonesia yang sudah tidak ramah ini. Disini kan nggak ada uang nggak bisa hidup ;D

Anak jalanan kita bilang orang gagal yang tidak berpendidikan dan lain-lain karena mereka memang tidak bersekolah dan banyak menghabiskan waktunya di jalan. Serngkali kita menyalahkan pemerintah dan dinas sosial akan hal ini, tapi tahukah anda bahwa pemerintah dan dinas sosial tidak berdiam diri dengan hal ini. Banyak anak jalanan yang disekolahkan dan ditampung dalam rumah singgah. Tapi kenapa anak jalanan tidak berkurang ? Itu karena mereka yang sudah “disejahterakan dan dididik” kembali lagi turun ke jalan. Mungkin karena mereka merasa lebih sejahtera dan terdidik di jalan. Who knows ?

Yang jelas, untuk bertahan hidup di jalan itu nggak gampang. Tapi mereka berhasil bertahan hidup kan ? Mereka berhasil hidup. Mereka bukan orang gagal yang gampang menyerah. Bandingkan dengan kita yang ketemu UTS aja udah merpaung-menjadi-jadi. Siapa yang gagal coba ?

Saya agak kurang suka bila kita menjustifikasi secara sepihak seseorang sebagai orang yang miskin, kurang sejahtera, blah blah blah yadda yadda yadda. Masing-masing manusia punya persepsi dan standar yang berbeda tentang apa itu miskin.

blogg for self-satisfaction