Narasi

by celo

Sambungan dari cerpen yang dibuat oleh maxbreaker. Tokoh-tokoh yang bermain dalam –so called– chapter 2 ini masih sama seperti sebelumnya. Ada Adit, Dina, Randu, Fadli, Telo, Sade, dan Gita Gutawa. WTF, ngapain ada Gita Gutawa disini. Berhubung saya agak ales-malesan bikinnya, dan lagi-lagi bikinnya juga pas ngantuk banget, Cerpennya jadi ngelantur kesana kemari panjang bener sumpah nauudzubillah dan rada sinetron. Oh iya, karakterisasinya dibuat sesuai cerpen yang dibuat oleh maxbreaker dan di-OOC-kan sesuai keadaan๐Ÿ˜€ silahkan menikmati.

Ghei Issue No More : Afterstory

Sudah beberapa bulan berlalu sejak kejadian itu. Adit yang sudah benar-benar memaafkan Telo atas semua kesalahannya dulu itu kini menjalani hari-harinya seperti biasa. Kisah cintanya dengan Dina berjalan normal seperti seharusnya. Adit dan Dina yang memang pasangan yang serasi itu kadang-kadang juga mengalami pertengkaran-pertengkaran kecil karena egoisme masing-masing. Namun begitu, pertengkaran-pertengkaran mereka tersebut merupakan pertengkaran yang wajar dalam sebah hubungan. Bahkan di akhir perselisihan mereka, cinta yang mereka pupuk sejak berbulan lalu itu justru semakin kuat dan mengikat. Terlebih lagi, pertengkaran itu membuat hubungan mereka tidak monoton dan hasilnya ? Sampai kini mereka pun masih saling memupuk cinta.

Entah bagaimana, kemesraan yang diumbar oleh Dina dan Adit –baik secara online maupun offline– itu membakar hati Randu. Semakin hari Randu melihat kecocokan diantara pasangan tersebut, semakin sakit hatinya. Serasa teriris sembilu, Randu semakin pilu melihat kasih sayang yang diberikan Dina pada kekasihnya. Ya, Randu jatuh cinta pada Dina. Gadis yang telah menjadi kekasih sahabatnya sendiri. Jelas sudah, Dina tak hanya menjerat hati Adit melekat pada hatinya. Tanpa ia sadari dan jelas tak ia inginkan pula, hati Randu turut menerima panggilan hatinya pada Adit.

Kemesraan yang ditujukan oleh pasangan Dina dan Adit tak membuat Randu merelekan wanita yang dicintainya itu untuk Adit. Sebaliknya, Randu merasa tidak terima akan hal itu.

“Akulah yang lebih pantas berada di sisinya daripada gembel itu. Semua orang mengira Dina bahagia bersama bocah keparat itu. Bah, mereka hanya melihat apa yang ada di luar saja. Aku yang paling banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Aku tahu Dina sering menangis di tengah malamnya karena laki-laki itu. Daripada robot yang hanya peduli dengan kehidupannya sendiri di dunia maya, lebih baik aku yang bersama Dina dan membahagiakannya.”

Memang benar. Walaupun selama ini mereka terlihat mesra, pada kenyataannya percintaan yang terjadi antara Dina dan Adit hanya berlangsung satu arah. Cinta Adit kepada Dina sudah lama hilang. Terkikis oleh banyaknya tugas-tugas kuliah Adit dan kecanduannya yang sudah akut pada berbagai macam game online. Terdengar bodoh memang, tapi selama ini cinta mereka tetap menyatu karena Dina yang menyerah dan memilih untuk menerima cinta Adit dengan cara yang diinginkan Adit. Pun disaat Dina sudah lelah dengan gaya percintaan seperti itu dan meminta Adit memutuskan cinta mereka, ia selalu leleh dan kembali mengalah saat Adit mengatakan bahwa ia masih mencintainya. Cinta Dina begitu kuat walaupun dia sadar cinta Adit sudah pupus atau bahkan memang tak pernah ada untuk dirinya.

Merasa benar, Randu ingin menyelamatkan Dina sebelum Adit mampu menguasai selurh hati dan tuubuh Dina yang ia cintai itu. Segala macam cara Randu lakukan agar Dina berpisah dengan Adit. Sayangnya, sikap kaku dan tidak sensitif yang dimiliki oleh Adit memantahkan semua tindakan Randu. Tapi tidak semua beraibat baik. Ketidaksensitifan yang dimiliki Adit justru membuat Randu bertambah geram. Semakin yakin ia bahwa Adit benar-benar tidak pantas mendapatkan cinta dari Dina. Terlebih lagi segala tindakannya hanya berakhir dengan sakit hati yang dialami oleh Dina, marahlah Randu dan menyalahkan Adit atas semua tindakannya sendiri. Walaupun begitu, tanpa diketahui Adit dan Randu, Dina pun ternyata memikirkan hal yang sama.

“Aku lelah dengan semua ini. Selama ini aku telah merendahkan diriku untuk memberi warna pada cinta kami. Susah aku bermanja-manja padanya namun yang kudapat adalah respon yang sangat datar. Cukup khawatir aku membuat masalah pada cinta kami, tetap respon datar yang ia berikan. Akhir-akhir ini pun entah kenapa banyak sekali kejadian-kejadian yang harusnya dapat membuatnya cemburu. Tapi apa ? lagi-lagi respon datar yang kuterima. Benarkah ia mencintaiku ? Apakah dia pernah sedikit saja cinta padaku ? Punyakah dia setitik rasa peduli padaku ? Pada cintaku padanya ? Pada hubungan kami ?”

Banyak sudah usaha yang dilakuka oleh Randu, tetap saja yang paling tersakiti adalah Dina yaatas tidak sensitifnya Adit dan juga dia sendiri atas kesakitan yang dialami oleh Dina. Rasa geram dan cinta yang berpadu dalam diri Randu membuatnya terperosok pada kegilaan makin dalam. Suatu malam datanglah Randu menemui Dina di kediamannya. Ia menempuh cara terakhir yang bisa dipikirkan olehnya untuk mendapatkan Dina. Ia nyatakan cintanya pada Dina. Dina yang sudah memiliki Adit sudah jelas menolak mentah-mentah ajakan cinta Randu. Namun, kata-kata Randu setelah itu membuatnya tertegun keras.

“Aku mencntaimu lebih dari Adit. Jadilah milikku, percayalah aku akan membahagiakanmu. Bila kamu tetap memilih bersama Adit. Seminggu lagi aku akan mengirim manusia tak berperasaan itu ke dasar liang lahatnya. Kutunggu jawabanmu sebelum minggu depan.”

Selepas Randu meninggalkannya Dina panik. Setelah kejadian-kejadian belakangan ini dia akhirnya sadar bahwa Randu sudah tergila-gila padanya, serta cukup gila juga untuk melaksanakan ucapannya. Dina yang sudah yakin menganggap Adit tak mencintainya tetap saja tak bisa membiarkannya mati. Bagaimanapun perasaan Adit padanya, perasaannya pada Adit adalah tetap. Dina mencintai Adit melebihi kebahagiannya sendiri. Dunia Dina selama ini berputar dengan Adit sebagai porosnya. Ia rasa ia tak akan sanggup hidup bila Adit tiada. Namun, bersama dengan Randu yang sekarang juga tidak lebih buruk dari kehilangan nyawanya sendiri. Ditengah kepanikannya Dina menghubungi teman-temannya untuk meminta bantuan, Fadli yang suka menolong, Telo yang berpengalaman dan Sade yang profesional. Mereka hanya memiliki waktu seminggu untuk menyelesaikan masalah ini tanpa diketahui baik Adit maupun Randu. Maka bekerjalah mereka.

Sade tak bisa memaafkan perbuatan Randu. Kegilaan Randu akan Dina dirasanya sudah melebihi batas kewajaran. Dia tidak ingin temannya melangkah ke jalan yang tidak benar. Segera mungkin Sade menemui Randu. Segala cara ia lakukan untuk meyakinkan Randu mengurungkan niatnya melenyapkan Adit. Diajaknya Randu bicara baik-baik, sedikit demi sedikit tanpa Randu sadari Sade memberinya terapi seperti yang telah dipelajarinya semasa kuliah dulu. Usaha ini sedikit berhasil, Randu sudah mulai agak tenang dengan semuanya. Ia memulai harinya dari awal di bawah panduan Sade. Sedikit demi sedikit . . .

Di lain pihak, Telo yang pernah dekat dengan Adit pun datang menemuinya serta memberikan wejangan-ejangan khasnya agar Adit lebih mengerti posisinya sebagai kekasih Dina. Telo memarahi Adit yang dianggapnya terlalu mengacuhkan Dina. Seberapapun besar cinta Dina pada Adit, Telo yakin Dina tetaplah wanita yang membutuhkan perhatian dari pasangannya. Untungnya Adit mau mengerti dan mulai menyadari bahwa selama ini dia telah mengacuhkan Dina sehingga membuat Dina sangat terluka. Setelah berjanji pada Telo bahwa dia akan lebih memperhatikan Dina, Telo pun percaya Adit akan benar-benar berusaha dan akhirnya dia pun meninggalkan Adip dengan senyum tersungging.

Sementara itu, Dina tengah hancur ditengah masalah-masalah yang datang silih berganti menghampirinya. Dia tak tahu harus berbuat apa ditengah bingungnya itu. Yang bisa ia lakukan hanya menangis dan terus menangis. Untunglah disampingnya ada Fadli yang selalu menghiburnya. Fadli memang anak yang –so called– mempunyai watak yang baik hati dan suka menolong. Dia tak tega melhat Dina terus-terusan bingung dan menangisi nasibnya. Oleh karena itu dia sebisa mungkin berada disamping Dina untuk memberinya support. Dina pun terbantu oleh hal itu dan mulai yakin bahwa semua baik-baik saja. Sayangnya, tidak demikian yang terlihat di mata Adit. Karena wejangan dari telo sebelumnya dia akhirnya menjadi perhatian kepada Dina. Hal ini membuatnya mau-tak-mau juga harus memperhatikan kedekatan Dina dan Fadli. Terlebih lagi, Dina selalu menghindarinya di berbagai kesempatan. Dina memang menghindari Adit selama seminggu ini. Namun itu tidak lebih hanya karena ia masih takut pada ancaman Randu, bukan karena dia marah atau bagaimana pada Adit. Sebaliknya, Dina sangat memikirkan Adit dan tidak ia diapa-apakan oleh Randu.

Seminggu berlalu sejak ancaman Randu. Dina semakin kebingungan karena tidak bisa menghubungi Randu. Dina tidak tahu bahwa Randu susah dihubungi karena tengah menjalani terapi bersama Sade. Kekalutan Dina pun terlihat oleh Fadli yang segera menghiburnya. Tak kuasa menahan segala kegundahan hatinya akan hari H ini, Dina terisak didada Fadli, menceritakan keluh kesahnya selama ini. Tentang bagaimana dia merasa sedih harus menghindari orang yang paling ingin ia ada dekat bersamanya selama seminggu ini, tentang kekhawatirannya akan Randu yang tidak bisa dihubungi entah kegilaan apa yang akan dilakukannya, tentang hidupnya yang terus menerus pada dilema. Merasa kasihan pada Dina, Fadli pun secara refleks membelai kepala wanita yang tengah terisak didadanya tersebut. Berdua mereka saling menenangkan didalam kelamnya malam.

Sementara itu Adit yang merasa sangat bersalah pada Dina pun bimbang. Banyak pikiran berseliweran di kepalanya. Dia menyadari bahwa dia benar-benar mencintai Dina sepenuh hatinya. Adalah khilafnya selama ini membuat Dina terluka. Sungguh, Adit menyadari hal itu. Adit kemudian teringat kekhawatirannya akan kedekatan Dina dan Fadli dan bagaimana Dina terus menghindarinya selama seminggu ini. Dia tidak ingin kehilangan Dina. Tidak saat ia menyadari bahwa ia benar-benar mencintai gadis itu. Dengan tergesa-gesa ia mengendarai mobilnya menuju rumah Dina. Hanya ada satu hal dalam pikirannya. Dia akan meminta maaf pada Dina dan tidak ingin kehilangannya. Sungguh, dia tak akan pernah rela menyerahkan gadisnya pada lelaki manapun. Bahkan Fadli, sahabatnya sendiri. Dipenuhi segala rasa semakin cepat ia memacu untuk dapat segera bertemu dengan Dina.

Membuka gerbang rumah dina ketakutan Adit terbukti. Tampak di teras rumah Dina Fadli tengah merengkuh Dina kedalam dadanya dan mengusap kepala Dina penuh kelembutan. Penuh rasa amarah dia segera mengambil sesuatu dalam mobilnya dan dengan tergesa-gesa menghampiri kekasih dan sahabatnya itu. Kaget dengan datangnya Adit yang tiba-tiba, Fadli dan Dina serentak tersentak. Belum sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Adit sudah bertindak dan . . .

CRASSHHH…!

Gita Gutawa tertegun. Air matanya nyaris jatuh berlinang. Kerudung hitam yang asal disampirkan dikepalanya semakin menunjukkan kesedihannya yang teramat dalam. Kacamata hitamnya yang besar itu seolah-olah tak mampu menyembunyikan sembab di matanya. Terisak ia dalam diam. Dihadapannya gundukan tanah kuburan orang yang beberapa bulan lalu pernah menolongnya masih basah. Sebilah pisau dan segenggam amarah telah memutus nyawa penyelamatnya itu. Sungguh, cinta bisa menggerakkan manusia di luar kebiasaannya. Tak ada yang menyangka . . .