Soempah Pemoeda 2.0

by celo

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Delapan puluh tahun lebih sudah, pemuda Indonesia berkumpul untuk menyatakan sumpahnya. Kemerdekaan belum didapatkan saat itu, isi dari kepala-kepala mereka pun masih keras akan idealismenya masing-masing. Tapi justru karena itu, betapa hebatnya mereka karena mampu bersumpah atas kesatuan identitas bangsa. Bangsa Indonesia masih belum merdeka kala itu, bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri bahkan mungkin belum tertuang meskipun hanya di atas kertas. Tapi mereka sudah bersumpah dalam pengakuan akan tanah air Indonesia serta bangsa Indonesia. Pun dengan Bahasa Indonesia yang dijunjungnya sebagai bahasa persatuan.

Lalu bagaimana dengan pemuda Indonesia masa kini?

Enam puluh tahun lebih sudah, pemuda Indonesia tidak lagi hidup di bawah kejamnya penjajahan pemerintah kolonial Belanda, ataupun pemerintahan Jepang dengan fasisme yang dianutnya. Namun tidak dapat dipungkiri, kedamaian yang dulu begitu didambakan oleh pemuda-pemuda-delapan-puluh-tahun-lalu itu justru meluruhkan semangat kepemudaan bangsa Indonesia. Melunturkan semangat persatuan sampai pada batas mengerikan dimana sumpah pemuda hanya dimaknai sebagai salah satu catatan sejarah dalam perjuangan pegerakan kemerdekaan semata. Tidak mengada-ada, tidak banyak pemuda Indonesia kini yang mengerti esensi dari sumpah yang dilakukan pada 28 Oktober 1928 lalu itu. Bahkan, hafal dengan tepat isi sumpah pemuda itu saja sudah dapat dibilang hebat… pemuda jaman sekarang.

Apa yang membedakan antara pemuda-pemuda Indonesia zaman sekarang dengan pemuda-pemuda pada zaman sebelum Indonesia merdeka? Bila yang dijadikan alasan hanyalah bahwa pemuda-pemuda pada saat itu dijajah dengan kejam oleh pemerintahan kolonial Belanda, itu bukanlah alasan yang bagus. Karena pemuda di masa modern ini juga mengalami pejajahan yang sama. Sebuah bentuk pejajahan dimana mentalitas mereka harus kalah oleh konsumeritas, individualitas, dan banyak hal lain yang tak dapat ditemukan pada masa perjuangan dulu. Yang membedakan adalah pemuda saat itu bergerak, berjuang melepaskan diri dari penjajahan yang menindas mereka. Sementara kita, para pemuda Indonesia sekarang ini, justru terlena dengan segala kemudahan yang secara halus menjajah kita.

28 Oktober 1928 adalah satu tonggak sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia yang melibatkan pemuda. 28 Oktober 2010 tonggak itu dipancangkan kembali… tidak sekedar sebagai sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, tapi sebagai kebangkitan kembali rasa persatuan… tidak sekedar oleh pemuda Indonesia biasa, tapi para pemuda Indonesia yang telah turun dalam kehidupan masyarakat digital Indonesa.

Yaps, seperti yang tercantum dalam web Soempah Pemoeda… Bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2010 yang lalu, XL melakukan program CSR Indonesia Berprestasi Award, mengajak masyarakat digital untuk lebih mengenal perjuangan pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1982 yang kerap disebut Soempah Pemoeda dalam sebuah kegiatan bertajuk Soempah Pemoeda 2.0.

Kenapa ada embel-embel 2.0 dalam acara tersebut? Apakah hanya untuk sekedar membedakan Soempah Pemoeda ini dengan Soempah Pemoeda yang dilakukan lebih dari delapan puluh tahun tersebut? Otentutidak™, karena sesuai dengan tema besar acara ini yang memang ditujukan untuk masyarakat digital, imbuhan 2.0 setelah Soempah Pemoeda memiliki arti bahwa Soempah Pemoeda ini dilakukan tidak dengan cara biasa oleh pemuda-pemudi biasa, tetapi dilakukan dengan cara yang memiliki corak digital oleh pemuda-pemudi yang bergaul dalam masyarakat digital. Singkat kata, embel-embel 2.0 disana seolah dengan gamblang menyatakan bahwa acara ini akan dilakukan dengan serba digital.

Masih sama seperti seremonial yang dilakukan lebih dari delapan puluh tahun lalu tersebut, menyatakan sebuah persatuan dan keberagaman dalam masyarakat yang homogen akan terasa seperti omong kosong semata. Pemuda-pemudi yang terpilih untuk menghadiri acara ini pun dipilih dari daerah yang berbeda-beda. Ada Jensen yang datang dari Papua, Tante Ira yang selalu sibuk di Palembang sana pun juga datang, lalu ada juga Mbak Memeth, malaikat pecinta kucing dari Jogja… dan juga teman-teman saya yang lain, yang berasal dari berbagai daerah yang berbeda, hadir pada acara tersebut.

Ya, kami memang berteman, dan walaupun kami tidak berada di daerah yang sama, kami tetap berteman… dunia digital-lah yang membuat kami tetap bertahan sebagai teman. Walaupun harus diakui, tidak jarang dunia digital adalah pihak yang dituding mengurangi rasa nasional pemuda Indonesia. Terbukanya pintu akses yang memudahkan para Indoesia menerima informasi baru serta berhubungan dengan orang-orang di luar sana, kadang meruntuhkan kecintaan para pemuda itu atas kebanggaan akan identitas sebagai pemuda Indonesia. Mulai dari informasi-informasi akan paham-paham baru yang dapat mengguncang rasa kebangsaan, beredarnya pornografi yang secara langsung merusak moral bangsa, hingga bentuk-bentuk penulisan yang dianggap mencederai bahasa Indonesia… tidak jarang dunia digital adalah pihak yang disalahkan atas mudahnya hal tersebut terjadi.

Tapi… masyarakat digital tidak sepenuhnya buruk.

Tidak dapat dipungkiri, banyaknya pemuda Indonesia yang merambah dunia maya, ditambah dengan mudahnya mereka dalam mengakses segala jenis informasi yang disediakan, merupakan satu hal yang patut dikhawatirkan. Namun, segala masalah yang ada di dunia maya dapat diibaratkan dengan banyaknya masalah yang menerpa para pemuda di masa penjajahan. Dengan adanya serangkaian kegiatan persembahan dari XL—yang tidak hanya terdiri dari sekedar seremonial semata, tetapi juga talkshow, lomba-lomba dan segala kebersamaannya yang lain—saya sangat berharap bahwa pemuda-pemuda yang sering kali hanya dapat bertemu di dunia maya melalui kolom-kolom komentar, jendela messenger, dan media digital lainnya, bisa tetap merasa satu sebagai pemuda Indonesia… dan kali ini, dunia digital adalah pemersatu semangat perjuangan kami, terlepas dari beragam masalah yang mungkin muncul jika dunia itu tidak disikapi dengan baik.

Tidak banyak yang dapat saya sampaikan, namun benar… dimanapun kami berada, bagaimanapun cara kami berinteraksi, dan seberat apapun masalah yang akan kami hadapi, kami semua adalah pemuda Indonesia yang berbangsa, bertumpah darah, serta berbahasa satu… Indonesia

Dari semua foto tentang kegiatan 28 Oktober kemarin, saya paling suka dan sekaligus paling iri dengan foto yang copyright-nya milik Alex Budiyanto ini😆 Andai saya juga ikut ya, kawan…😛