What is God, and who is He?

by celo

Ada satu idiom yang menarik kita ada seseorang bertanya kepada, apakah sebenarnya Tuhan itu? Beberapa akan menjawab dengan idiom ini, “God is a director,” sementara beberapa yang lain hanya sekedar tahu saja tentang idiom tersebut. Yah, intinya… itu bukan sebuah idiom yang asing.

Kenapa Tuhan disebut sebagai seorang sutradara? Sebenarnya sederhana saja, karena hidup ini adalah sebuah panggung sandiwara, dan Dia yang duduk di singgasananya tersebut hanya tinggal mengarahkan di awal, dengan ketetapan-ketetapan yang dia buat, aturan, serta naskah yang biasanya dijadikan pedoman dalam berpentas. Lebih dari itu, manusia tak ubahnya seorang aktor ataupun aktris, kesempurnaan ideal hanya ada pada Tuhan sebagai seorang sutradara, dan acap kali, tidak jarang juga manusia bisa dengan sempurna mengikuti idealisme yang diikuti oleh-Nya. Bila sudah seperti ini, free will yang diberikannya pun menjadi pembenaran bagi setiap improvisasi yang dilakukan oleh manusia di atas panggung kehidupannya. Kadang, improvisasi ini bisa mendekati dengan pedoman yang ada pada naskah… dan itu berarti kadang ada juga improvisasi yang membuat panggung kehidupannya hancur tidak karuan.

Ilustrasi singkat itu cukup membenarkan alasan mengapa banyak orang mengamini idiom “God is a director.” Dia memiliki rencana, besar dan kecil, kadang tidak diberitahukan kepada ummatnya, kadang pula diberitahukan dan ini akan menjadi pakem utama sementara untuk hal-hal kecil yang detail, terserah kepada ummatnya bagaimana memainkan perannya masing-masing.

Bagaimana dengan saya? Saya, sedikit terpengaruh dengan kedewasaan dan beberapa pembicaraan menarik yang sering saya lakukan dengan teman-teman terdekat saya, hanya bisa mengamini idiom tersebut. Soal Tuhan, saya meyakini dia ada, di suatu tempat… katakanlah kursi sutradara dalam kasus ini. Tapi bagi saya juga, sosoknya sebagai seorang sutradara adalah sesuatu yang mutlak, dimana dia sudah menentukan pakemnya, memberi tahu apa yang harus saya lakukan dan semacamnya. Tapi bagi saya juga… Tuhan adalah seorang sutradara yang liberal, free will diberikan secara penuh kepada saya agar saya bisa melakukan improvisasi sejauh yang saya inginkan. Dalam hal ini, saya memutuskan untuk tidak menomorsatukan pakem yang dia berikan, saya menomorsatukan kebebasan saya dalam berimprovisasi

Wait, what?

Dalam pandangan saya, Dia sudah susah payah memberikan kebebasan yang pada saya, kenapa tidak saya gunakan dengan sebaik mungkin? Disini, saya sebagai manusia, sebisa mungkin menomorsatukan sisi humanisme yang saya miliki, dan ya… saya bisa bilang saya agak menyalahi pakem yang Dia berikan, dalam beberapa sisi. Tapi toh sisi humanisme saya cenderung tidak menentang pakem-Nya di beberapa sisi yang lain. Soal pakem utama yang dia berikan, agama… saya percaya bahwa Tuhan bukanlah sosok yang begitu kecil untuk bisa dideskripsikan dalam agama. Dia jauh lebih besar daripada itu, dan untuk itu, pakem tentang agama adalah pakem yang paling tidak saya pedulikan😛

Tapi itu soal lain. Tentang saya dan bagaimana saya menjalankan peran saya, itu hanya pembuka saja. Pertanyaan yang ingin saya berikan masih tetap sama, “What is God, and who is He?”

Dulu saya hanya sekedar mengamini saja pandangan bahwa Tuhan adalah seorang sutradara dalam panggung kehidupan yang begitu megah ini. Setelah beberapa kejadian—satu kejadian, tepatnya—saya kini tidak hanya mengamini, tapi juga mengimani. Bahkan, saya bisa berlanjut pada pertanyaan berikutnya yang biasanya cenderung tidak ingin dijawab oleh orang lain. God is a director, and He is Jason Reitman.

Kenapa harus Jason Reitman?

Sebenarnya sederhana saja, suatu ketika saya ingin pergi keluar, hujan turun dengan derasnya. Baik, ini tidak bisa ditolak, saya bukan pawang hujan berapapun kancut yang saya lontarkan ke atas atap. Detik-detik hujan mereda, saya gembira… dan kemudian deras lagi. Baiklah, ini benar-benar di luar kuasa saya, kecuali menunggu… yang satu itu masih bisa saya usahakan, dan saya memainkan peran yang baik dalam menunggu, saya bisa menjamin hal tersebut, saya bisa berperan dengan sangat manusiawi sekali saat menunggu hujan benar-benar reda. Dan hujan reda, dengan sangat ajaibnya. Saya tersenyum, dan baiklah, saya jadi berangkat. Hujan benar-benar reda, beberapa menit saya menunggu teman perjalanan saya, hampir setengah jam mungkin, dan hujan benar-benar sudah tuntas menunaikan tugasnya. Oh, tentu saja saya senang sekali. Begitu teman saya datang, kami siap berangkat… kecuali setelah beberapa meter hujan kembali turun… kali ini dengan sangat derasnya. Terus turun sampai akhirnya kami tiba di tempat tujuan.

Tidakkah Tuhan benar-benar seperti Jason Reitman? Dalam panggung kehidupan kita yang sebenarnya sederhana ini, dengan premis-premis yang sama sederhananya yang ingin kita capai… dan Dia ternyata juga menciptakan seorang karakter yang secara tidak langsung menjegal kita dengan tanpa ragu. Turun membasahi bumi memang tugasnya, hujan memainkan perannya dengan baik… dengan sangat baik sekali, dia turut menghidupi bumi sebagaimana yang memang harus dia lakukan, porsi minor yang sebenarnya cukup penting dalam kehidupan kita. Sama seperti Joey Naylor yang dengan polosnya mempedulikan ayahnya. Sama seperti karakter-karakter “cerdas” lainnya yang selalu ada dalam film buatannya, hujan juga selalu ada dalam setiap panggung kehidupan masing-masing manusia.

Dalam kasus saya tadi, hujan mengambil peran sebagai seorang komedian yang tidak secara default didapuk sebagai seorang komedian. Scene stealer, mungkin… karena perhatian kita pasti akan teralih begitu dia menjalankan perannya… dan hampir setiap kegiatan yang akan kita lakukan (bahkan tidur pun akan menjadi sebuah penyesalan ketika kita belum mengangkut jemuran dan hujan turun). Sebuah black comedy yang sangat cerdas dan begitu memainkan emosi, kira-kira seperti itulah peran yang diberikan oleh-Nya kepada hujan… dan hei, kita tidak bisa marah. Kalau kebetulan dia begitu sinis, layaknya Ryan Bingham, misalnya… kita bisa apa? Kalau memang dia begitu “terbuka” seperti Leah dalam menjalankan tugasnya, well, kita mungkin akan merasa sedikit tersinggung dan melemparkan pandangan tajam… tapi dia tidak salah, dia menjalankan apa yang memang harus dijalankannya.

Begitulah, hujan. Kadang kala dia akan menghancurkan apa yang sudah kita bangun hanya dengan singkat—sangat singkat, bahkan. Tapi kita tidak bisa membencinya. Dia ada, karena karakter seperti itu memang perlu ada untuk mengingatkan kita bahwa hidup tidak seperti yang kita inginkan. Sutradaranya adalah Tuhan, bukan kita… kita hanya aktor, dan drama yang harus kita mainkan mungkin memang tidak perlu terlalu megah. Hujan ada disana, menyadarkan kita bahwa kita harus sesekali membumi, sama seperti bagaimana dia dengan lepas menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan bumi… hanya untuk mengingatkan kita bahwa ada Dia yang memegang kendali penuh terhadap panggung kita, sebesar apapun kebebasan kita untuk melakukan improvisasi.

So, what is God, and who is He? God is a director, and He is Jason Reitman.