Sixteen Going On Seventeen

by celo

Akhir-akhir ini saya lagi seneng banget dengerin Sixteen Going On Seventeen yang pertama kali dipopulerkan oleh film The Sounds Of Music. Gak bisa ditampik sih, lagu-lagu macam ini tuh selain iramanya enak, liriknya juga cukup jujur dan apa adanya. Tidak terlalu banyak kata-kata bersayap yang bikin bingung atau yang semacamnya. Yah, niatnya dengerin musik kan memang untuk refreshing, apa kabar aja sih kalau udah bingung harus dengerin irama berbahasa Inggris, eh isinya tidak bisa langsung dipahami, meh! Tapi, sejujur dan se-apa-adanya sebuah lagu, tetap saja ada moral-moral atau makna tersembunyi yang bisa ditarik…, tak terkecuali dengan lagu yang satu ini. Makna-makna tersembunyi yang bisa banyak banget untuk dipelajari satu per satu seiring dengan tingginya ilmu utak-atik gathuk yang kita miliki.

Kalau untuk lagu yang satu ini, Sixteen Going On Seventeen ini…, secara umum menceritakan tentang sepasang pemuda dan pemudi (dalam The Sounds of Music diwakili oleh peran Rolf dan Liesl) yang sedang mulai memasuki masa kedewasaan mereka. Rolf, sang pemuda yang setahun lebih tua, merasa bahwa Liesl yang berusia enam belas masih terlalu lugu, naif dan semacamnya untuk memasuki dunia penuh kedewasaan, terlebih lagi dia seorang perempuan. Sebagai seorang laki-laki, Rolf merasa dia memiliki kewajiban untuk menjaga Liesl. Yap, secara gamblang lagu ini memiliki plot line. He’em, semanis itu….

Sayangnya, kalau liriknya yang jujur dan apa-adanya itu diperhatikan benar-benar, lagu ini tidak akan bisa dimaknai sesederhana itu…, terlebih lagi di masa sekarang. Jujur, saya sendiri waktu memperhatikan baik-baik liriknya, secara otomatis dan tanpa saya sadari saya langsung nyeletuk, “—ah, bagaimanapun juga lagu ini pertama kali muncul di tahun 60-an.

Apa lacur, bila diperhatikan baik-baik liriknya, lagu ini memang kental sekali dengan budaya patriarki yang mungkin sekarang ini sudah sangat asing sekali. Ada beberapa baris yang terang-terangan menyatakan hal tersebut: “Totally unprepared are you to face the world of men.”, atau “You need someone older and wiser telling you what to do.”

Huh? Entah saya yang sudah terlalu berpikiran seperti seorang feminis, tapi memangnya memasuki dunia kedewasaan bisa disamakan begitu saja dengan memasuki dunia para lelaki? Sejak kapan laki-laki memonopoli gerbang dunia kedewasaan sebagai komoditasnya? Lalu, kenapa seorang gadis yang akan menginjak usia tujuh belas masih membutuhkan seseorang yang setahun lebih tua darinya untuk mengatakan apa yang harus dia lakukan? Semanis apapun cerita antara Rolf dan Liesl, tetap saja kalau diterapkan sekarang, setelah kurang lebih lima puluh tahun berlalu, cerita mereka terlalu manis untuk bisa masuk ke dalam logika saya. Bila dipikir-pikir, ternyata lima puluh tahun sudah cukup bagi para perempuan untuk tidak lagi membutuhkan seseorang memberikan perintah atas apapun yang harus mereka lakukan. Masalahnya, sampai di taraf yang bagaimana kemandirian ini masih bisa diberlakukan?

Sefiminis apapun seorang perempuan, tetap saja ada aturan baku bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bergantung pada manusia lainnya—dalam hal ini perempuan terhadap laki-laki, begitu pula sebaliknya—dan sekali lagi, sampai pada batasan yang bagaimana? Di ranah publik, laki-laki hanya bisa memerintah perempuan sesuai dengan batas yang diizinkan oleh profesionalitas mereka. Mudahnya, sebagai seorang atasan, mudah saja seorang bos memberikan pekerjaan tertentu pada bawahannya. Sebaliknya, perempuan juga bisa memerintah laki-laki bila memang profesi tersebut memang menempatkan pihak perempuan sebagai atasan. Lalu bagaimana dengan ranah privat? Bagaimana seorang perempuan harus menerima perintah dari laki-laki di balik pintu rumah tangga mereka masing-masing? Sejauh apa “telling you what to do” berlaku pada pembagian kerja di rumah? Untuk itu baik laki-laki dan perempuan harus berterima kasih karena lima puluh tahun sudah berlalu sejak masa-masa dimana patriarki menguasai secara total. Pada masa ini yang berlaku adalah kesadaran masing-masing.

Ya, perempuan memiliki kesadarannya sendiri untuk tidak begitu saja taking order for granted bila mereka memang mau. Tapi itu tentang hubungan antara perempuan dan laki-laki, dalam sebuah rumah tangga ada juga hubungan antara orang tua dan anak, kan? Saya sendiri lebih suka gagasan dimana orang tua menjadi sosok yang “older and wiser” dengan tidak “telling you what to do” tapi dengan “showing you how to do“. Sebagaimana perempuan terhadap laki-laki di masa ini, anak-anak juga memiliki kesadarannya sendiri tentang konsep baik dan benar. Orang tua menunjukkan—bukan memerintahkan—apa yang harus mereka lakukan, dan mengembalikan pilihan pada anak-anak itu sendiri untuk melakukannya atau tidak.

Ini pendapat pribadi saya…, dengan posisi anak-anak yang lebih lemah daripada orang tua (seperti perempuan terhadap laki-laki lima puluh tahun lalu di lagu Sixteen Going On Seventeen), bisa jadi lima puluh tahun ke depan anak-anak akan memberontak bila dikekang terus oleh perintah…, tepat seperti perempuan masa kini yang mulai memberontak dari kekangan patriarki yang terjadi lima puluh tahun lalu.

* * *

I am sixteen going on seventeen, I know that I’m naive
Fellows I meet may tell me I’m sweet, and willingly I believe
I am sixteen going on seventeen, innocent as a rose
Bachelor dandies, drinkers of brandies; what do I know of those?

* * *