geser pantat

by celo

Dulu…, dulu banget waktu orang-orang masih sibuk ngomongin global warming (sekarang udah pada bosen ngomongin ini kan ya? Agak-agak jarang denger lagi deh) dan saya masih belum terlalu peduli dengan tatanan yang ada pada masyarakat sosial, seorang pito berkata pada saya. “Geser pantat sedikit, lah. Lihat dari sudut yang berbeda.”

… pagi ini saya dengar lagi petuah tersebut dari orang yang berbeda, tentu dengan kemasan yang tak sama pula.

Adalah galeshka yang berucap.

Kemudian saya berpikir seperti ini, istilah ‘geser pantat untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda’ itu sebenarnya kan gak salah ya? Malah menurut saya istilah tersebut sangat literal. Orang kalau misalnya duduk di bangku taman, kemudian dari tempatnya duduk dia bisa melihat air mancur, kalau dia geser pantat sedikit kan ya pasti yang dilihat juga berubah sudutnya (walau mungkin tak banyak). Mungkin setelah dia geser pantat, ada detil-detil kecil yang tadinya tertutup sesuatu jadi terlihat. Jadi, walaupun sebenarnya itu istilah yang agak kasar (untuk catatan, di beberapa forum yang berbasis user-generated content berbahasa Indonesia yang saya tahu, kata ‘pantat’ itu disensor’) orang akan lebih mudah paham istilah tersebut daripada harus repot-repot berkata, “Coba kamu ngertiin aku dong!” yang biasanya ujungnya gak pernah pendek. Pasti ribet, haqul yaqin, sumpeh…!

Tapi…, percaya gak percaya, masih banyak betul orang yang paham dengan konsep ‘geser pantat’ ini justru tidak sadar dengan konsep posisi pantat itu sendiri. Oheee… agak blibet ini penjelasannya, jadi marilah kita masuk pada segmen analogi yang semoga saja memudahkan.

Jadi begini; walaupun tidak selalu, tetapi ada juga orang yang tidak melihat hal yang sama yang dilihat oleh orang lain. Katakanlah seseorang menempatkan pantatnya di sebuah bangku taman, kemudian ada orang lain yang menempatkan pantatnya di bangku taman yang bersebrangan dengan orang pertama. Pastinya mereka tidak akan melihat hal yang sama, kan, karena mereka tidak menempatkan pantatnya di tempat bangku taman yang sama. Kalaupun mereka menempatkan pantatnya di bangku taman yang sama, dan sudut pandang mereka sejajar (karena mereka duduk bersebelahan), ada yang bisa menjamin orang yang di sebelah kiri bisa melihat semua yang dilihat oleh orang yang menempatkan pantatnya di sebelah kanan? Geser pantat macam bagaimanapun, pasti susah untuk melihat hal yang sama—kecuali dipangku, padahal kalau orang pertama dipangku orang kedua, meskipun mereka menempatkan pantatnya di titik yang sama, tetap saja mereka melihat dari ketinggian yang berbeda, kan?

Seseorang akan menjadi dirinya ketika dia menjalani kehidupan yang dia jalani sendiri. Dari mana dia berasal, di lingkungan seperti apa dia dibesarkan, kesempatan-kesempatan apa yang sudah dia lewatkan dan apapun pilihan yang telah dia ambil dalam hidupnya…, itu semua yang membentuk dirinya. Dan karena hidup orang yang satu dengan orang yang lain itu pasti berbeda, apa yang membentuk mereka pun tak akan pernah sama. Bagaimana dia melihat sesuatu pun sedikit banyak akan terpengaruh oleh pengalaman yang telah dia jalani. Meminta orang ‘geser pantat’ untuk melihat sudut pandang yang berbeda itu wajar. Sangat wajar, bahkan…, karena kita pasti punya sesuatu yang pernah kita lihat dan kita ingin supaya orang lain juga melihatnya. Mau ‘geser pantat’ sampai kayang juga sok, silakan! Tapi memaksa orang lain untuk melihat dan bersikap terhadap sesuatu dengan cara yang persis sama dengan yang kita lakukan (dengan pikiran yang ada di kepala kita)? Dude, come on…!

Intinya? Berbeda pendapat itu sangat wajar, masing-masing dari kita tak pernah menjalani kehidupan seperti yang dijalani oleh masing-masing lainnya. Meminta seseorang untuk lebih membuka pikiran untuk menerima ide-ide baru, itu juga tidak salah…, bagus malah. Tapi memaksakan pendapat? Yang satu ini lain soal dong, karena yang bisa kita lakukan hanyalah menawarkan, pilihan ada pada masing-masing orang, “Mau geser pantat atau tidak?”