Menembus batas gender?

by celo

Ha, menembus batas gender? Sejujurnya saya juga tidak tahu kenapa bisa dibilang seperti itu. Padahal, kalau sepengetahuan saya, gender dan sex itu berbeda. Iya, gender dan jenis kelamin itu tidak sama. Sex, atau jenis kelamin—for those who have “eastern” tender ears, itu menurut saya sudah digariskan. Kamu terlahir dengan penis, maka kamu laki-laki, dan bila kamu terlahir dengan vagina maka kamu seorang perempuan. Sementara itu, gender adalah peran dan peran ini sangat tergantung dengan pilihan yang diambil. Tidak semua yang memiliki penis memilih untuk berperan sebagai laki-laki, dan begitu pun sebaliknya. Peran yang dipilih ini bisa apapun dan seharusnya tidak ada yang boleh melarang, karena itulah gender sering disebut sangat cair.

Kira-kira begitulah yang selama ini saya pahami, kalau ada yang salah mohon dikoreksi secepatnya😆 Nah, sekarang kembali ke judul.

Sering kali saya mendapati, banyak orang berkata seperti ini, “Kamu itu laki-laki, kenapa berpenampilan seperti perempuan?” Atau ada juga yang seperti ini, “Kamu itu perempuan, cobalah berpakaian sedikit feminim.” Mendengar yang seperti itu, saya bisa langsung mengambil kesimpulan: Mereka-mereka ini menganggap gender ditentukan dari jenis kelaminnya. Okay. Saya tidak sedang berusaha mengatakan kalau mereka salah, tapi sebaliknya saya juga tidak berpendapat kalau mereka benar, saya hanya diam. Itu keputusan mereka dan saya tidak berhak untuk memaksakan pendapat saya pada mereka meski mereka terus memaksakan pendapatnya pada orang lain. Yap, saya melakukan pembiaran.

Masalah muncul ketika saya memilih untuk membiarkan mereka dan melanjutkan hidup saya sendiri. Terus terang saya memang ngotot dengan cara hidup saya. Biar orang lain mau bilang apa, saya yang menjalani hidup saya dan hanya saya yang berhak memilih jalan hidup saya. Kemudian komentar lain muncul, “Kamu hebat ya, bisa menembus batas gender.”

DHUARRR!

Sampai di sini saya baru menyadari kalau melakukan pembiaran terhadap sesuatu yang salah itu sama saja dengan menyederhanakan hal-hal yang rumit, hasilnya hanya satu: hal-hal yang rumit akhirnya dianggap sederhana. Thanks, Captain Obvious.

Saya tidak menembus batas gender. Alasannya ada banyak. Satu karena gender itu sendiri adalah sesuatu yang cair dan menembus batas gender itu menjadi hal yang aneh karena sesuatu yang cair tentunya agak sedikit rumit untuk dipikirkan, dan dua, saya tidak mengganti gender saya😛 Boleh dibilang saya belum memilih gender saya, tetapi kalau pun sudah, saya tidak menggantinya. Yang saya pikirkan cuma satu, bukan kenapa laki-laki tidak boleh memanjangkan rambut, bersolek, memakai pakaian yang modis, merawat tubuh, atau bahkan mewarnai kuku. Kalau saya bertanya seperti itu, beberapa—atau bahkan banyak, sangat banyak—orang akan menjawab kalau Tuhan melarang laki-laki berlaku menyerupai perempuan (padahal ya, banyak laki-laki penampilannya mirip perempuan karena lahiriyah Tuhan sudah menciptakan mereka seperti itu lho). Yang jadi pertanyaan saya cuma satu, dan sangat sederhana, sejak kapan itu semua hanya boleh dilakukan oleh perempuan?

Ya, sejak kapan yang boleh memanjangkan rambut hanya perempuan? Sejak dulu saya lihat para nabi itu digambarkan dengan rambut yang panjang, begitu pula dengan para pendekar yang sering saya lihat di film-film China atau laga kolosal juga seperti itu. Saya yakin sewaktu masa mereka, pasti mereka tidak pernah mendengar pertanyaan, “Rambutmu kok panjang sih? Kayak cewek aja kamu ini!” Boleh taruhan deh😛

Sejak kapan menjadi modis hanya boleh dilakukan oleh perempuan? Memangnya para perempuan itu mau pacaran sama laki-laki yang kumal dan jerawatan karena mereka tidak pernah merawat diri mereka? Tidak juga, kan? Sejak kapan laki-laki tidak boleh mengomentari baju yang dikenakan oleh wanita yang berpapasan dengan mereka? Atau sejak kapan laki-laki tidak bisa dimintai pendapat tentang mode? Setau saya, baik laki-laki dan perempuan secara fisik sudah diberi mata untuk menilai mana yang bagus dan mana yang jelek. Mana baju yang akan membuat pemakainya terlihat gendut atau menawan—atau malah mengerikan. Kenapa tiba-tiba menjadi masalah ketika laki-laki berkomentar tentang pakaian? Itu kan bukan komoditi perempuan, semua laki-laki juga mengenakan pakaian, kok.

Berangkat dari situ, saya melakukan gerakan personal yang saya sebut “Fuck Society”. Caranya? Saya mengenakan cat kuku. Sejujurnya saya tidak suka mengenakan barang yang satu itu, sesaat setelah kuku saya ditimpa cat warna-warni itu, pasti ujung kuku saya kebas. Intinya, bagi saya yang selalu terlihat mengenakan cat kuku, barang itu bukan sesuatu yang nyaman dipakai. Tapi saya ingin menunjukkan kalau bukan perempuan saja yang bisa memakai barang-barang yang sudah dilabeli sebagai barang perempuan. Untuk itu, cat kuku yang saya pakai pun bukan yang mahal-banget-gak-masalah-yang-penting-gw-keliatan-cantik tetapi warna-warna norak (dan dengan glitter, harus ada glitter, camkan!) yang bisa membuat orang langsung tahu kalau kuku saya tidak polos, bahkan ketika saya jalan bareng cewek saya. Jadi kalau saya dibilang saya menembus batas gender maka dengan tegas saya akan menjawab tidak. Kalau dibilang saya mendobrak aturan yang dibuat oleh masyarakat? Saya akan jawab, “Ya, saya sedang berusaha untuk itu.”