Hei, kamu…

by celo

digital-photography-school.com

Aku tak pernah suka berpergian dengan pesawat terbang. Meski itu bisa memangkas ratusan kilometer antara kotaku dengan kotamu menjadi sekadar lima puluh menit yang penuh buncahan rindu, aku tak pernah suka—tak akan pernah suka. Terlebih kini, ketika waktu yang sudah lima puluh menit itu berubah menjadi sembilan puluh menit. Bangkok menuju Jakarta, kembali pulang ke kotamu tapi bukan pelukanmu, meski kau masih di sisiku. Ya, begitu…,

“Hei,” sapaku pelan, kau tak menoleh, hanya berdeham pelan.

Biasanya, aku selalu jatuh tiap kali kau berdeham. Seperti tak peduli, sambil lalu, tapi renyahnya suaramu saat itu selalu bisa membuatku terpesona, lalu tersipu malu-malu. Sayangnya kali ini tidak begitu, aku tidak suka ketika tidak diacuhkan. Tidak saat aku benar-benar membutuhkan perhatian yang lebih dari sekadar cukup—terlebih darimu. Aku marah, tapi rasanya tak berhak. Aku memang telah berbuat jahat padamu. Tetapi memang tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menyakitimu untuk yang satu itu. Tadi kau sendiri yang bilang seperti itu, kan? Lalu kenapa kini kau malah berhenti peduli padaku?

“Tidak apa,” jawabku, dan seolah memang benar tidak ada apa-apa, kau kembali berdeham, kali ini dengan nada yang lebih datar daripada yang pertama. Entah mengapa aku semakin kesal mendengarnya. Kau masih menatap langit di luar sana, alih-alih menatapku yang duduk di sampingmu. Padahal kau tahu, aku sudah meringkuk ketakutan memikirkan burung besi ini akan jatuh sewaktu-waktu. Tapi tidak, kau tidak mendekapku atau mencubit pipiku kemudian mengacak rambutku seperti yang biasa kau lakukan bila kita harus berpergian bersama. Aku tahu, kau tahu aku tidak senang diperlakukan seperti itu. Tapi aku rasa kau juga tahu, perlakuanmu yang tiba-tiba itu bisa membuatku tenang dan merasa berbunga-bunga dalam hati. Lalu, ketika aku benar-benar mendambanya, kenapa kau berpaling? Apakah langit itu lebih cantik daripada parasku? Hei, lihat aku! Aku tahu kau selalu memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk mencuri-curi pandang ke arahku. Lakukan! Hei, cepatlah!

Apakah ini karena percakapan yang kita lakukan sebelum ini? Percakapan yang aku harap tak pernah kita lakukan.

* * *

Aku menyayangimu, kau tahu itu. Kau juga sayang padaku, aku menghargainya. Tapi kau, aku…, kita semua tahu ada dinding besar yang butuh lebih dari sebuah sayang yang harus kita lalui untuk terus bersama. Tentu dinding itu bukanlah jarak yang terbentang antara kotaku ataupun kotamu. Aku sudah bilang, kan? Lima puluh menit pun aku bisa langsung tiba ke kotamu bila aku bisa mengalahkan ketakutanku pada burung besi ini. Jarak sama sekali bukan masalah, toh sewaktu-waktu kita bisa bertemu di titik tertentu yang bukan kotaku atau kotamu, merengkuh kasih dan membiarkan rindu melebur dirinya sendiri menjadi kecupan-kecupan hangat di antara peluh yang menetes tanpa memedulikan waktu. Seperti yang sudah kita lakukan selama lima hari terakhir ini.

Bukan jarak, bukan juga pihak-pihak lain sebagaimana aku tahu hatimu hanya tertambat padaku dan begitu pula hatiku pada dirimu. Dinding itu mewujud dalam bagaimana cara kita menyebut Tuhan kita masing-masing, dan itu…, hai kekasih, bukanlah dinding yang mudah dirobohkan. Egoku terlalu kuat untuk membiarkan aku menyebut Tuhanku dengan nama yang biasa kau gunakan untuk menyebut Tuhanmu, dan perasaanku padamu akan terhina dengan sangat bila demi diriku kau kemudian memutuskan untuk menyebut Tuhanmu dengan nama yang kupakai untuk menyebut Tuhanku. Kita tak mungkin bersama, tak peduli berapapun waktu yang telah kita habiskan untuk bertukar liur dan mengucurkan peluh. Kau tahu itu.

“Kau baik-baik saja?” kembali aku bertanya. Tidak apa-apa, jawabmu. Lucu, karena kau mengatakannya dengan bibir yang maju tak setuju. Aku bisa melihatnya, lho…, sekalipun kau memutuskan untuk memalingkan wajahmu dariku. Sekalinya kau tak melihat awan-awan yang berarak di luar sana, tetap saja yang kau tatap bukan aku. Kau sibuk berkutat dengan notes bersampul hitam dengan pena yang menari-nari di atasnya. Berpuisi, aku tahu…, menulis surat yang mungkin tak akan pernah kau kirim, kepadaku.

Aku membencimu untuk itu. Kau selalu menyimpan keluhmu sendiri. Menyamarkannya dalam sajak yang tidak untuk ku baca. Sajak itu tentangku, bukan?

Aku benci dengan sifatmu yang seperti itu. Melarikan diri tanpa pernah berterus terang secara langsung kepadaku. Sajak itu tak akan mengubah apapun, kau tahu…, bila kau tak pernah mau menunjukkannya padaku.

… tapi, betapapun aku membencinya, aku tak pernah bisa bertahan untuk tidak jatuh kembali setiap kali kulihat kau menulis dengan khusyu. Terlebih saat ini, ketika ketinggian yang selalu membuatku bergidik ngeri itu entah mengapa berkongsi untuk menjadi latar belakang untuk sosokmu yang tak pernah lekang. Aku berharap suatu saat kau menunjukkan sajak-sajak itu kepadaku. Mungkin sajak itu tidak akan meruntuhkan egoku, atau bahkan memadamkan cintamu yang begitu menggebu padaku. Tetapi mungkin sajak-sajak tersembunyi itu bisa mengubah sesuatu. Tentu naif bila kau pikir sajak itu bisa mengubah aku dan kamu menjadi kita, tapi kau tak akan pernah tahu apa yang akan berubah bila kau tetap menyimpannya rapat-rapat tanpa menunjukkan bahwa kau pun bisa berusaha untuk memperjuangkanku, meskipun hanya lewat sajak.

Lampu seat belt mulai menyala, tanda bahwa sembilan puluh menit kesempatanmu sudah habis kau gunakan untuk menganggapku tiada. Sebentar lagi burung besi ini akan menukik turun, menaikkan lumpur imajiner yang mengendap dalam lambungku—perasaan tidak enak yang harus kucecap setiap kali pesawat hendak mendarat atau terbang landas. Kali ini aku tidak menunggumu untuk mengacak-acak rambutku untuk membuatku merasa sedikit lebih tenang, sedikit nyaman, seperti percakapan kita yang sudah-sudah. Kali ini aku yang akan mengacak-acak rambutmu, dengan segurat senyum pedih seolah menasbihkan kenyataan yang tak mungkin bisa diubah tentang aku dan kamu. Kulihat kau sedikit terkejut, tak mengapa…, karena akhirnya kau menatap wajahku.

“Hei, aku ingin kamu bahagia, ok? Aku berharap aku yang akan membahagiakanmu, tapi itu tidak mungkin, kan? Tapi bila kamu mengharapkan yang sama untukku, aku mohon jangan pernah sekalipun kamu pergi dariku. Kita masih bisa berteman, kok.”

Sakit, ya? Aku tahu, kau bisa melihat aku merasakan sakit yang sama dari linangan air mataku, kan?