Di hari hujan [1]

by celo

If I were the rain could I connect with someone’s heart just as it can unite the eternally separated earth and sky?

***

Tanpa peringatan terlebih dahulu, mendadak saja hujan turun dengan derasnya. Tergopoh-gopoh ia berlari menyebrangi jalanan yang telah lama usai melewati jam-jam padatnya, menuju sebuah kedai kopi mungil bernuansa cokelat muda yang, untungnya saja masih buka meski sudah selarut ini, tampak hangat—berteduh. Betapa ia membenci kota ini, baru beberapa jam saja ia berada di sini dan sudah tak terhitung lagi berapa banyak makian terselip keluar dari bibirnya yang tak henti-hentinya cemberut maju.

Sedikit bersungut-sungut, ia mengambil tempat di pinggir jendela, sebuah meja yang masih kosong dan kusinya berpunggung-punggungan dengan kursi lain yang ditempati seorang gadis yang tengah asik dengan laptop serta kertas-kertas yang berhamburan di atas mejanya. Refleks ia mengambil kursi yang menghadap ke arah gadis itu. Sesaat melihat pada menu yang disediakan di masing-masing meja dan sedikit tergesa-gesa mengangkat serta melambaikan sebelah tangannya—gestur yang sudah umum digunakan di tempat semacam ini untuk meminta pramusaji datang.

“Americano,” ucapnya cepat. Pramusaji yang dipanggilnya hanya mengangguk untuk sekadar menimpali lalu menghilang lagi ke balik mesin pembuat kopi. Senyap datang untuk sesaat sebelum mesin pembuat kopi itu berdesing nyaring, semerbak aroma kopi pun segera menguar memenuhi kafe yang mungil nan hangat tersebut.

Ia tersenyum. Mungkin kota ini tidak seburuk yang ia kira. Mungkin, karena ia memang tak mengenal kota ini terlalu baik.

***

Sama sekali tidak terganggu dengan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya, dengan tangkas dia meraih cangkirnya, menyesap isinya sedikit kemudian segera mengembalikan cangkir tersebut pada tatakannya. Sejenak dia menatap pada jendela di sampingnya, pada bulir-bulir air yang begitu bersemangat berlomba-lomba menarik petrichor keluar dari tempat bersemayamnya. Hujan memang sudah lama tak menyambangi tempat ini, jadi meskipun dia sedikit kesal karena tak bisa segera pulang, sedikit banyak gadis itu senang juga dengan hujan kali ini, ‘Toh masih banyak yang harus kukerjakan,’ batinnya.

Tak berapa lama setelah dia berkutat kembali pada kertas-kertas serta radiasi yang terpancar dari layar laptopnya, denting bel yang sengaja dipasang di atas pintu masuk berhasil menarik perhatiannya dan membuatnya menengadah. Seorang tamu—pria, kira-kira seumuran dengannya bila tidak setahun atau dua tahun lebih tua darinya—dengan rambut dan bahu jaket yang sedikit basah oleh hujan memasuki kafe tersebut. Gadis itu mengedikkan kedua bahunya dan sedikit tidak acuh kembali lagi pada berkas-berkas penelitian yang baru saja siang tadi dikembalikan oleh mentornya untuk diperbaiki, tak terlalu ambil pusing untuk memedulikan tamu baru tersebut; ‘Banyak yang masih harus dikerjakan’, ulangnya dalam hati.

Entah sudah berapa lama berlalu, mungkin tidak terlalu lama juga sejak kedatangan tamu tersebut, sadarlah gadis itu bahwa cangkirnya sudah tandas tak lagi berisi. Kembali ia menengadah, mendapati satu-satunya pramusaji di kafe yang mungil itu tengah mengantarkan segelas kopi (Hei, dia sudah lama menjadi pelanggan tetap kafe ini. Dia bisa mengenali apa yang dipesan oleh pelanggan lain hanya dari jenis gelas yang digunakan). Tak perlu waktu lama baginya untuk mengibaskan tangannya meminta perhatian dari sang pramusaji.

“Mbak, peppermint tea-nya satu lagi. Panas, ya?”

Cangkir ketiga untuk malam ini.

***

Teh peppermint panas? Ia bertanya-tanya, sedikit mengernyit tak setuju. Memang pada dasarnya ia bukanlah seorang peminum teh. Mungkin sesekali, dan bila sesekali ia meminum teh. Peppermint jelas tidak akan diminumnya bila tidak dituangkan pada gelas yang sudah dipenuhi dengan bongkahan es batu. Aneh sekali, komentarnya dalam hati. Memang rasa segarnya peppermint masih akan terasa bila dinikmati panas-panas? Ia menggelengkan kepalanya pelan, sekali lagi menunjukkan ketidaksetujuannya.

Hujan masih turun—bahkan semakin deras. Rencana-rencana perjalanan yang telah disusunnya semakin dekat dengan kekacauan. Tapi bisa apa ia selain merana melempar pandangan ke luar jendela, pada tanah dan aspal yang pasrah terus-menerus ditubruki oleh tetes demi tetes hujan terkutuk itu? Tidak ada yang bisa ia lakukan. Tepatnya, tidak akan ada yang bisa menghentikan derasnya hujan di luar sana, apapun yang dilakukannya. Kini ia mengalihkan pandangannya, mulai memperhatikan interior kafe mungil yang untuk sesaat menyelamatkannya dari kejamnya hujan yang sama sekali tidak sensitif di luar sana itu. Tidak ada yang menarik, sama seperti kafe kebanyakan, dengan tembok yang dicat dengan warna yang lembut serta penerangan yang dibuat sedikit remang. Fokusnya kembali berganti. Kini matanya tertuju pada gadis di hadapannya.

Gadis yang cantik. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, tapi juga tidak terlalu kurus, proporsional; kulitnya juga tidak terlalu pucat atau malah terlalu hitam, kulit kuning langsat yang entah mengapa justru menambah nilai eksotisnya; rambutnya…, ah, mengapa perempuan selalu tertarik untuk memanjangkan rambut mereka? Ia tak sedang mengatakan kalau gadis itu memiliki rambut yang jelek. Sebaliknya, rambut yang panjang dan legam itu cocok dengannya.

“Ah,” ia tersentak. Keduanya beradu pandang. Ia tak sadar kalau gadis itu sudah menyelesaikan pekerjaannya dan tengah berkemas karena terlalu asik mengomentari ini dan itu mengenai fisiknya. Ia mengangguk sungkan, takut gadis itu mengiranya tak sopan—dan nyatanya memang demikianlah dirinya

***

Dia mengetik beberapa kata, kemudian menekan tombol backspace untuk menghapusnya, mencoba mengetik beberapa kata lain, lalu menghapusnya lagi. Berulang kali dia melakukan hal yang sama sebelum akhirnya mengakui kalau kepalanya sudah tak lagi senang diajak bekerja sama. Laptop pun ditutupnya, kertas yang sedari tadi berceceran di sekitarnya pun dikumpulkannya menjadi satu. Diketukkannya ke atas meja beberapa kali supaya rapi lalu menumpuknya di atas laptopnya yang sudah menutup. Kembali memandang ke luar jendela, pada hujan yang sepertinya masih akan lama, menyesap teh hangat dari cangkirnya perlahan. Lalu, tanpa dia sama sekali sempat menduganya, pandangannya bertumbukan pada pandangan pemuda di seberang mejanya ketika dia mengalihkan perhatiannya dari hujan yang terus turun tanpa peduli.

Ia mengangguk pelan, gadis itu membalas dengan anggukan yang sama. Kikuk.

Sedikit canggung gadis itu membuang pandangannya, tangannya tegang menjaga bibir cangkir tehnya tetap dekat dengan bibirnya sendiri. Ketika dia kembali, pemuda itu sedang berjalan ke arahnya. Gadis itu membenarkan posisi duduknya dengan canggung, tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh satu-satunya pengunjung lain selain dirinya di kafe mungil tersebut. Lalu, tak sampai hitungan detik, pemuda yang tak bisa dibilang buruk rupa itu sudah menyapanya.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya sang pemuda. Gadis itu hanya tersenyum, masam. Dia keberatan, tapi terlalu malu untuk menolak, hanya satu kata ‘silakan’ yang akhirnya terucap dari bibirnya. Kata yang entah akan disesalinya atau tidak. Pekerjaannya mungkin sudah selesai untuk malam ini, tetapi untuk berbincang-bincang dengan seorang asing? Entahlah, dia tidak tahu. Tapi toh pemuda itu sudah terlanjur mengambil kursi di hadapannya…, pemuda dengan rambut cepak yang mengingatkan pada kekasihnya yang terakhir. Hanya saja, kekasihnya tidak memelihara kumis dan janggut tipis seperti yang menghiasi wajah pemuda di hadapannya ini. Kekasihnya juga tidak memiliki mata yang bulat besar sepertinya, tidak juga memiliki hidung semancung dirinya.

Kini di meja itu ada segelas kopi juga, selain laptop, tumpukan berkas, dan cangkir teh yang dipesannya.

***

Mampus! Dia menatap ke sini!

Kagok, ia tak menyangka pandangan mereka akan beradu seperti tadi. Gadis di hadapannya itu tampak tak nyaman dengan insiden kecil barusan—pun demikian dengan dirinya. Merasa sudah kepalang tanggung, pikirnya, sekalian saja ia meminta gadis itu menemaninya mengobrol. Setidaknya sampai hujan reda dan ia bisa secepatnya hengkang dari kota ini. Dengan cepat ia mengangkat mugnya yang masih penuh terisi kopi hitam pekat. Penuh percaya diri ia menghampiri meja tempat gadis itu duduk, meminta izin supaya diperkenankan duduk di kursi di hadapannya. Ia sama sekali bukan orang yang naif, sadar bahwa gadis yang tengah dihadapinya ini tak mengharapkannya. Tapi masa bodoh, ia tetap mengambil tempat yang telah disediakan.

“Maaf bila aku mengganggu,” ujarnya setelah meletakkan kopinya di atas meja, basa-basi yang sudah benar-benar basi. “Aku baru saja datang ke kota ini, dan hujan ini tiba-tiba saja mengganggu perjalananku.” Gadis di hadapannya tidak memberikan tanggapan yang berarti. Kecanggungan di antara keduanya mungkin akan semakin keruh lagi bila ia terus berbasa-basi semacam ini, tapi ia sama sekali tidak bisa menahan mulutnya untuk terus menggelontorkan kalimat demi kalimat.

“Omong-omong, apa kau percaya kalau aku bilang kalau aku datang dari masa depan?”

Di kalimat itu ia akhirnya bisa berhenti.

***