Di hari hujan [2]

by celo

Malam sudah terlalu larut hingga sudah sewajarnya bila hari ini disebut dengan nama yang berbeda dari hari kemarin. Hujan masih saja turun, cukup deras untuk membuat bintang-bintang serta rembulan enggan menampakkan dirinya, lebih memilih untuk tidur berselimutkan awan mendung yang menjaga agar titik-titik air yang dibawanya tetap turun menyapa petrichor yang belum juga menguar naik. Sementara banyak orang beranggapan bahwa ini waktu yang tepat untuk memejamkan mata—dan memang itulah yang tengah mereka lakukan, di sebuah kafe dengan penerangan yang temaram, sepasang pemuda dan pemudi yang belum pernah mengenal sebelumnya memutuskan bahwa tidak ada salahnya bila mereka menggunakan malam ini untuk mengenal lebih jauh, diselingi dengan senyum kikuk dan obrolan absurd yang menunggu untuk diulik lebih lanjut.

Ya, di hari hujan ketika mawar terlalu lelah dan lupa untuk keluar dari kuncupnya.

***

“Hahaha,” dia menyemburkan gelaknya tanpa basa-basi, setengah mengejek ucapan lelaki yang bahkan namanya saja belum diketahuinya, “—time traveler, maksudmu?” Tak mampu menyembunyikan senyum geli ketika disadarinya lawan bicaranya mengangguk dengan ekspresi yang tak kalah serius dengan gelaknya. Dirinya memang bukanlah gadis tercantik di kampus, bukan pula yang paling populer. Tak banyak lelaki mau meluangkan waktu mereka untuk berbasa-basi sekadar untuk mengetahui namanya atau dimana dia tinggal. Pun bila memang demikian, dia tahu dirinya adalah gadis yang praktis, sedikit pragmatis dan cukup skeptis. Basa-basi sama sekali bukanlah forte-nya.

Tapi bagaimana bila laki-laki di hadapannya ini tidak sedang berbasa-basi dengannya? Ia pastilah seorang aktor yang sangat mumpuni karena bisa mengatakan kebohongan dengan wajah serius yang tak berubah sedikit pun meski sudah dihantamnya dengan gelak tawa yang tak jauh beda dengan pelecehan. Sedikit banyak gadis itu mulai tidak yakin dengan tawanya sendiri padahal dia tahu, dan dia sendiri meyakini demikian, kalau dirinya bukan jenis orang yang mudah terpengaruh oleh ucapan orang lain. Terlebih bila ucapannya tak jauh beda dengan kebohongan yang biasa diucapkan anak-anak untuk membuat teman-temannya terkesan semacam tadi.

“Hmm…,” dia berdeham, perlahan tawanya menghilang dan perlahan wajahnya berubah serius, tak ubahnya lelaki yang duduk di hadapannya. Ah, dia pasti sudah gila kalau sampai menanggapi serius pembicaraan konyol ini.

“Time traveler merupakan topik yang sangat menarik bagi kami, para akademisi, dan sampai sekarang pun masih sering diperbincangkan,” ucapnya lebih pada dirinya sendiri, “—banyak teori yang mengarah ke sana, banyak, tetapi sangat sedikit yang bisa dibuktikan, kau tahu. Fenomena yang, kalau boleh kukatakan, sedikit mustahil karena tidak hanya kau harus membelokkan waktu, tetapi juga ruang. Itu kuasa Tuhan, bukan manusia, dan kita tidak sedang berada dalam dongeng anak-anak.”

Ah, benar…,dia pasti sudah gila. Benar-benar sudah gila.

***

Gadis di hadapannya tergelak mendengar pertanyaannya. Ia tersenyum, kecut—siapa yang tidak? Pun dirinya bergeming dengan ekspresi serius yang sama, stagnan. Sejauh yang ia bisa, hanya senyuman-senyuman kecut saja yang sempat terlempar; tidak komentar, terlebih pertanyaan lain yang bisa mengundang gelak yang selanjutnya. Wajahnya kaku tak ubahnya gelas mug berisi kopi yang sudah tak lagi mengundang hasratnya untuk menyesapnya, tak ubahnya mesin pembuat kopi yang sudah berhenti berdengung sejak lama, tak menunjukkan gerak dinamis yang sedari tadi dipertontonkan rinai hujan di luar sana. Wajahnya dingin, sedingin malam yang tak berteman bulan dan bintang-bintang. sedikit semburat pucat mungkin akan membuatnya tak lagi dapat dibedakan dengan mayat yang sudah lupa caranya menghembuskan napas.

Ia terdiam, sementara gadis di hadapannya perlahan mengubah ekspresinya, menghapus gelaknya dengan keseriusan dan penjelasan demi penjelasan yang seolah memojokkan pertanyaannya sebagai sebuah kebohongan.

Jelas sudah dia tak percaya dengan ucapannya.

“Ya, ya…, tepat seperti itu. Tepat seperti ucapanmu,” ia menambahkan, senyuman manis pun akhirnya memiliki kesempatan untuk menghapus kecut wajahnya, “—bila kukatakan seperti itu, akankah kau percaya kalau aku bilang aku bisa melakukannya, membelokkan ruang dan waktu dan sedikit mencecap kuasa yang, sesuai bahasamu, hanya dimiliki Tuhan.” Kembali ia tersenyum, kali ini sebuah senyum menggoda. Lalu, entah dari mana, hasratnya pada Americano yang sudah dipesannya hadir kembali. Diangkatnya gelasnya untuk mencicip satu atau dua sesapan, kemudian berdecak untuk menggantikan pujiannya tentang betapa enaknya kopi ini.

Gadis di hadapannya terdiam, sesaat…, sebelum balik melontarkan pertanyaan yang hampir saja membuat kopi yang sudah dikecapnya kembali tersembur keluar.

***

Ah, rupanya dia tidak hanya gila…, tetapi juga bodoh. Sangat bodoh. Untuk satu alasan yang jelas, gadis itu merutuki kebodohannya sendiri untuk jatuh pada obrolan konyol ini. Sama sekali tak pernah diduga olehnya seorang laki-laki bisa mempermainkannya sejauh ini hanya dengan kata-kata. Dia membencinya, membenci kebodohannya dan juga senyuman puas yang kini menghiasi wajah lelaki itu bersama dengan kumis dan janggut tipisnya yang kini dirasakan sang gadis tak lagi nampak mempesona.

“Bila itu benar, tidakkah rasanya agak sedikit…, sedih?”

Dia membalas, dan sama sepertinya tadi, kini giliran laki-laki di hadapannya yang terdiam. Terhenyak, lebih tepatnya. Agaknya laki-laki itu tak menduga akan mendapatkan pertanyaan semacam itu. Dia sendiri juga tak pernah menyangka akan bertanya seperti barusan.

“Sedih sekali, kan?” lanjutnya sebelum lawan bicaranya sempat menyuarakan protes ataupun pertanyaannya, “—menjadi seorang penjelajah waktu, merasakan kuasa Tuhan, mungkin akan menyenangkan. Tapi itu juga berarti mereka akan banyak sekali mengalami pertemuan—yang tak selamanya akan menyenangkan, dan juga perpisahan—yang bisa jadi akan sangat disesalkan.” Gadis itu tak bermaksud menggoda, sebagai orang yang pragmatis dan skeptis, sedikit banyak dia juga seorang yang cukup sentimentil…, mungkin hormonnya sebagai seorang perempuan yang membantu memompakan perasaan yang cukup merepotkan itu bersama dengan aliran darahnya.

“Aku tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya terlibat banyak sekali pertemuan, dan dalam sekejap, kau harus berpisah meskipun kau tidak ingin. Bahkan mungkin kau juga tidak bisa mengucapkan selamat tinggal. Pasti rasanya sangat sakit sekali.”

Dia menatap lawan bicaranya dengan pandangan sendu, seolah benar-benar meyakini laki-laki di hadapannya adalah seorang penjelajah waktu.

***

Untuk sesaat ia tertegun, tak sanggup berkata-kata selain memandangi pekatnya kopi dalam gelasnya. Ia teringat, suatu waktu, dirinya pernah terlibat percakapan yang menyenangkan dengan seorang gadis, di sebuah gerbong kereta yang akan membawanya ke kampung halamannya. Ia ingat betapa ia sangat menyesalinya ketika percakapan itu harus terputus ketika kondektur sudah meneriakkan nama stasiun di mana ia harus turun dari jauh. Perpisahan, seperti kata gadis di hadapannya, untuk pertemuan yang paling mengesalkan sekalipun, akan tetap meninggalkan sebuah kekosongan di setiap jiwa. Setiap pertemuan akan meletakkan sesuatu di sana, dan ketika kau sudah merasa nyaman dengan itu, semata-mata kekosongan akibat berakhirnya pertemuan tersebut tidak akan bisa dihilangkan dengan mudah.

… dan benar seperti ucapan gadis itu, penjelajah waktu akan berulang kali mencecap semua itu bersama dengan kuasa Tuhan yang dicicipinya.

Ia hendak membalas, bagaimanapun juga, tidak ingin mencecap kekalahan saat berargumen. Tetapi gadis itu mendahuluinya menusuk asanya dengan bilah berwujud kata-kata.

“Andaikan seseorang benar bisa memutar kembali waktu dan kembali merasakan kenangan-kenangan indah yang dulu pernah ia rasakan,” lanjut gadis di hadapannya, ia diam mendengarkan dengan waspada supaya hatinya tidak kembali jatuh, “—ia mungkin bisa merasa senang. Tapi waktu adalah sesuatu yang linear. Begitu dia sudah mengulang kenangannya, ia harus kembali pada kenyataan, bahwa yang baru saja dirasakannya hanyalah sebuah kenangan dan akan tetap menjadi kenangan. Tidakkah dengan demikian rasa sakitnya justru akan semakin menumpuk? Untuk mengulang perpisahan yang sudah-sudah dan tidak bisa mencegahnya tanpa harus mengubah kenangan yang sudah ada?”

“Aku lebih suka bila kuasa Tuhan tetap menjadi milik-Nya. Hati manusia tidak cukup kuat untuk mengulang-ulang kenangan yang sudah lewat dan harus berakhir dengan perpisahan yang sudah-sudah. Kurasa Tuhan memang menyimpan kuasa itu untuk-Nya sendiri dan memberi kita waktu yang terus maju supaya kita bisa menimpa kenangan tersebut dengan kenangan yang baru, dengan pertemuan-pertemuan lain, dengan perpisahan yang sudah sewajarnya. Sekali saja, tanpa perlu diulang-ulang.”

Kalimat itu akhirnya meninggalkan keduanya terdiam berteman sunyi, bersama gemericik hujan yang sibuk membasahi jalanan yang sudah basah.

Ia mengangguk, kemudian kembali terdiam. Yakin dirinya mendengar isak sang gadis di sela sepi yang menggelayut manja tetapi memutuskan untuk tidak mendengarnya. Terlalu sentimentil bagi keduanya yang sama sekali tidak saling mengenal melainkan sebagai aku dan kamu.

***

Malam sudah terlalu larut. Sudah seperempat jam berlalu sejak waktu yang dijanjikan oleh kafe ini untuk terus menemani mereka. Dia bisa melihat di ujung sana, pramusaji sudah memberikan isyarat bahwa kafe sudah akan tutup dengan cara membalikkan kursi-kursi yang tidak berpenghuni ke atas meja. Dengan sedikit malu dia menyeka air mata yang masih menggenang di pelupuknya. Laki-laki di hadapannya tidak berkomentar, tetapi mereka sama-sama tahu.

Gadis itu mencoba tersenyum, masih sedikit sedih membayangkan bila dia menjadi penjelajah waktu dan harus berkali-kali menghadiri pemakaman kekasihnya yang terakhir, tetapi harus dia tegarkan hatinya di hadapan orang-orang asing yang tidak akan pernah bisa mengerti apa yang dirasakannya, kan?

“Hei,” dia akhirnya berkata ketika dirasanya isakannya sudah tak lagi mengganggunya, “—sudah malam, kafe ini sudah mau tutup, sudah hampir setengah dua. Kau mau kupinjami payungku? Aku bisa meminjam milik kafe ini, toh besok malam aku ke sini lagi.”

“Tidak, kupikir-pikir tidak masalah juga, toh hujan sudah hampir reda. Lagipula aku tidak yakin besok aku masih ada di kota ini.”

“Oh, sayang sekali. Padahal kuharap besok kita bisa bertemu lagi.”

“Ya, sayang sekali.”

“Hei, omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau percaya aku datang dari masa depan?”

Gadis itu hanya tersenyum, “—kuharap tidak, kau terlalu baik untuk itu.”

“Ah, begitu, kah? Oh, ya…, aku belum memperkenalkan namaku. Aku Radit.”

“Aku Tia.”

Keduanya berjabat tangan, dalam diam, masing-masing dibekap oleh pikiran yang berbeda dalam kepala mereka. Masing-masing tidak ada yang menyesalkan pertemuan ini, tetapi mungkin sangat membenci perpisahan yang menjelang. Malam itu, di hari hujan ketika lampu-lampu jalan sudah mulai padam dan gelas-gelas mereka sudah tak lagi mengepullkan asapnya.