Juno’s Bride

by celo

Hmm…, apa nih? Juno’s Bride? Juno yang dimaksud di sini adalah salah seorang dewi dalam mitologi Romawi (kerap diasimilasikan dan dikenal sebagai Hera, dewi pada mitologi Yunani) yang merupakan dewi perlindungan pernikahan (dan kaum perempuan Roma—yang tidak relevan dengan postingan ini :P). Sementara, bride di sini merujuk pada artinya secara harafiah: Pengantin.

Juno’s bride tidak secara spesifik berarti penganti Juno karena sebagai dewi yang melindungi pernikahan, rasa-rasanya semua pengantin di dunia ini memang pengantinnya dia, kan? Juno’s bride adalah istilah yang umum digunakan oleh orang-orang yang menikah di bulan Juni. Mereka beranggapan bila mereka menikah di bulan Juni, bulan yang sering diasosiasikan dengan Juno, pernikahan mereka akan mendapatkan berkah dari Juno sendiri (padahal ya memang tugasnya Juno, lho, buat memberkati setiap pernikahan, gak ngerti lagi deh sama pikiran cewek-cewek ini kok sampe bisa segitunya). Yah, intinya postingan ini akan sedikit banyak membahas tentang pernikahan😆

Pandangan saya tentang pernikahan, terus terang saja tidak pernah ajeg. Bahkan sampai sekarang. Saya ingat sekali, saat saya kecil dulu, saya ingin menikah di usia dua puluh lima. Sampai sekarang cita-cita saya itu kadang masih melintas walau mungkin intensitasnya tidak semuluk dulu ketika cita-cita ini dicanangkan. Bagi saya, ada kenikmatan sendiri andai saja saya bisa menikah di usia yang tergolong muda. Dua puluh lima itu angka yang pas menurut saya. Seperempat abad. Menikah, punya anak secepatnya, dan ketika anak saya sudah berusia lima belas, saya masih empat puluh awal. Sedang produktif-produktifnya untuk ditodong beli motor atau kenaikan uang saku. “Pa, kan aku udah lima belas, tahun depan udah masuk SMA, masa uang sakunya masih segini aja, sih?”

Stuffs like that.

Seiring bertambahnya umur, saya mulai sadar menikah itu bukan hal yang mudah dilakukan. Itu komitmen seumur hidup, saya harus membiayai keluarga saya. Dua puluh lima mungkin masih terlalu muda, baik secara finansial maupun emosional, untuk tanggung jawab sebesar itu. Menjadi kepala keluarga dan membiarkan beban hidup orang lain di punggung saya. Ya, dua puluh lima masih terlalu cepat. Mungkin dua puluh tujuh, bila itu masih terlalu cepat, tiga puluh lima juga tak ada salahnya. Terlebih ibu saya sudah mewanti-wanti saya, “Jangan pernah kamu berkeluarga kalau kamu tidak bisa menghidupi keluargamu. Sekolah yang tinggi, dapet kerja bagus, punya rumah sendiri. Baru kamu boleh menikah.”

Rupanya ayah saya pengkhianat—seperti biasa. Sekolah yang tinggi itu statusnya sekarang masih tamatan SMA, tapi beliau memutuskan untuk menghibahkan rumahnya. Balik nama—and such—maka praktis sudah secara teknis sekarang saya sudah punya rumah sendiri, sudah boleh menikah. Bajigur!

Syarat harus punya rumah sendiri supaya bisa menikah pun mau tidak mau harus saya urungkan. Secara sepihak saya ganti syaratnya. Saya baru boleh menikah ketika saya sudah kuat secara finansial untuk menghidupi keluarga saya kelak. Saat itu tiba, semoga saja, secara emosional pun saya sudah matang untuk membina rumah tangga. Namun, saat saya sudah berkompromi dengan memutuskan syarat baru tersebut, saya berpikir bahwa menikah itu masih cukup berat. Ini bukan soal usia, saya masih ingin menikah di usia muda. Cita-cita saya berubah, dari yang menikah di usia dua puluh lima, atau dua puluh tujuh atau tiga puluh lima, berubah menjadi saya ingin menikah muda, entah di umur berapa, punya anak, cerai, anak saya titipkan ibunya tapi perwaliannya adil dalam artian saya masih bisa bermain dengan anak saya di waktu-waktu yang sudah ditentukan.

Di titik ini saya sudah mulai tidak percaya dengan konsep pernikahan meski saya masih ingin menikah.

Kemudian usia saya semakin bertambah, dan sama seperti pandangan saya terhadap hidup, pandangan saya terhadap pernikahan pun ikut bertambah: Mungkin gak, sih, kalau seumur hidup saya, saya tidak perlu harus menikah walaupun hanya sekali? Anak bisa diadopsi, dan seks saat ini bukan kebutuhan terbesar saya, pun demikian toh seks juga bukan sesuatu yang sulit dicari. Mestinya tidak ada masalah kalau saya tidak menikah.

Kalau boleh menjawab jujur, saya akan jawab pertanyaan saya itu dengan satu kata. Mungkin! Sangat mungkin, malah.

Bagi saya, dan bagi banyak orang lain yang mungkin sama-sama memiliki pola pikir konvensional seperti saya, menikah itu idealnya cukup sekali. Menikah dengan orang yang tepat, membentu keluarga dengannya, bersama-sama menabung untuk membeli peti mati dan makam yang berjejeran (walaupun saya lebih menyukai konsep kremasi). Ketika sampai pada poin itu, saya menyadari bahwa menikah itu jauh lebih berat daripada yang saya pikirkan dulu. Realistis saja, hidup itu tidak selamanya indah, kehidupan pernikahan pun demikian. Terbangun setiap pagi melihat wajah yang sama itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan sepanjang tahun seumur hidup. Orang yang tepat itu tidak mungkin ada karena orang yang lebih tepat lagi akan muncul setiap harinya.

Bagaimana kalau saya salah memilih? Bagaimana kalau saya harus menghabiskan sisa usia saya, terkungkung pada konsep pernikahan ideal saya menikah sekali seumur hidup, dengan orang yang tidak seharusnya? Bagaimana anak-anak saya kalau orang tuanya selalu beranggap tidak seharusnya mereka menjadi sepasang suami-istri? Bagaimana bila istri saya (bila dia Jawa, calon yang saya harapkan jadi istri saya, sih, Jawa) sudah mengeluarkan sekian puluh juta untuk pesta pernikahan yang akan selalu disesalinya? Bagaimana-bagaimana lain yang semakin menyurutkan keinginan saya untuk menikah.

… tapi pernikahan itu bukan hanya dua orang yang menyatu dan mengemudikan biduk rumah tangga mereka sendiri. Menikah itu berarti menyatukan dua keluarga dan memaksa mereka berada di satu payung besar yang sama. Tidak menikah itu berarti saya harus meyakinkan keluarga saya bahwa bahtera rumah tangga bukanlah sesuatu yang ingin saya beli dan kemudikan. Tidak menikah itu berarti saya harus menguatkan keluarga saya dari omongan tetangga, dan saya tahu itu tidak mudah. Sama seperti saya yang berharap bisa melihat anak saya bahagia dan menikah, saya tahu orang tua saya berharap yang sama terhadap saya, harapan yang harus saya khianati dengan menegaskan bahwa saya tidak akan menikah. Sama seperti saya yang tidak pernah bisa tahan dengan omongan tetangga, orang tua saya yang sudah senja pasti akan lebih tidak tahan lagi.

Saya tahu saya egois, tetapi saat ini pernikahan memang sesuatu yang sangat jauh.

Saya tidak akan muluk-muluk mengatakan saya menolak gagasan tentang pernikahan untuk melawan konsep pembelengguan hak dua orang untuk bergumul dan mengurusi ranah privat mereka oleh aturan negara. Tidak, memang ada orang yang berpikir seperti itu, tetapi mereka bukan saya. Alasan saya sederhana, saya tidak yakin saya bisa membahagiakan keluarga yang akan saya miliki nanti karena membahagiakan orang lain tidak semudah membahagiakan diri sendiri sekalipun kita memang berniat dan berusaha keras untuk melakukannya. Bila tidak memiliki keluarga berarti lebih sedikit orang yang nantinya akan tersakiti, kenapa harus memaksakan untuk memiliki sebuah keluarga?

Selamat ulang tahun yang ke-24, celo! Semoga bisa memiliki keluarga yang bisa kau bahagiakan!