Friends With Kids (2011)

by celo

***

What will you choose, slow painful death by disease…, or watching the love of your life die a slow painful death by disease?
— Julie Keller

***

Cerita dimulai dari…, saya lupa😛 Intinya adalah sepasang sahabat, sebut saja Jullie dan Jason, yang kemudian mengambil keputusan besar atas hidup mereka. Berawal saat bagaimana teman-teman mereka begitu direpotkan oleh anak mereka masing-masing dalam kehidupan rumah tangganya, sepasang sahabat kita ini pun mulai menanyakan. Mungkinkah mereka memiliki anak, karena keduanya merasa anak adalah sesuatu yang sangat mengagumkan, tanpa harus melewati kerepotan kehidupan rumah tangga dan perceraian yang menunggu di ujung sana yang bisa mengganggu keromantisan hubungan platonik di antara keduanya.

Jawabannya adalah: bisa.

Keduanya memutuskan untuk memiliki anak, tanpa menikah, tanpa komitmen tentang hubungan mereka sendiri. Membesarkan anak tersebut berdua secara equal. Bertemu dengan orang-orang yang ingin mereka nikahi dan menjalani kehidupan pernikahan dengan orang-orang tersebut. Kedengarannya memang gila, tapi pada kenyataannya Jason dan Jullie bisa melakukannya dengan baik. Bahkan, keduanya tampak lebih bahagia bila dibandingkan dengan teman-teman mereka lainnya yang punya anak dari hubungan pernikahan.

Status hubungan Jason dan Jullie hanyalah sebatas sebagai orang tua dari Joe. Selebihnya, Jullie punya pacar sendiri dan Jason pun demikian (dengan Megan Fox yang cantiknya amit-amit di film ini :lol:). Lalu, apakah masalah selesai sampai di sini? Tentu tidak. Layaknya film-film romantic comedy lain, pasangan kita ini akhirnya menyadari kalau mereka saling jatuh cinta padahal mereka sudah nyaman dengan kekasih masing-masing dan anak mereka yang masih dua tahun itu tentu belum keberatan dengan apapun yang terjadi. Lalu, seperti film-film sejenis lainnya, Jason dan Jullie pun menemukan happy ending mereka dengan cara mereka sendiri.

***

Untuk ukuran sebuah film, jangan berharap terlalu banyak dengan Friends With Kids ini😛 Bukan apa-apa, dengan genre romcom, jelas Friends With Kids tidak akan menawarkan banyak hal selain humor dengan selingan drama berurai air mata (atau minimal ya menggetarkan hati, lah). Alurnya linear dan konfliknya tidak terlalu mengagumkan. Premisnya pun mungkin tidak spesial meskipun memang menarik. Ya, saya merasa premis yang ditawarkan tidak spesial karena saya sendiri memang pernah berpikir, kurang lebih sama, tentang itu. Saya sudah pernah bilang kalau ada kalanya saya hanya ingin menikah sebentar saja hanya demi mendapatkan anak kemudian cerai.

Namun, Friends With Kids patut diacungi jempol karena hanya dengan premis yang tidak terlalu spesial itu, dia berhasil memasukkan banyak tanda tanya di hati penontonnya. Pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat premis bersangkutan tidak segampang apa yang dilakukan oleh Jason dan Jullie.

Sebagian besar orang, dengan alasannya masing-masing yang egois, pasti ingin memiliki anak. Tetapi, memiliki anak itu memang tidak semudah bercinta tanpa pengaman di saat ovarium siap dibuahi. Ada masa sembilan bulan di mana perempuan menjadi tidak stabil secara hormonal akan disusahkan oleh si jabang bayi (walau saya berani bertaruh banyak juga ibu yang menganggap itu tidak menyusahkan meskipun tetap mengumpat setiap kali punggungnya capek selama mengandung). Terlebih di sini, di Indonesia, di mana kelahiran seorang bayi dilegalkan dengan lembaga pernikahan. Memiliki anak berarti menandangi komitmen yang tanpa batas dalam kehidupan rumah tangga dan itu, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, sama sekali bukan sesuatu yang mudah.

Semua kesulitan di atas itu baru masalah-masalah yang muncul saat pembuatan anak, membesarkannya tentu mengundang permasalahan yang lain lagi. Bagaimana menjadi orang tua yang bersikap sebagai orang tua, tidak semua orang bisa melakukannya. Parenting merupakan isu yang cukup krusial bagi saya, karena apa-apa saja yang dilakukan oleh orang tua tidak hanya akan mempengaruhi hidup mereka saja tetapi juga mempengaruhi hidup anaknya. Butuh komitmen yang lebih hebat lagi untuk memiliki anak. Jason dan Jullie pun demikian, mereka memiliki masalah-masalahnya sebagai orang tua, bagaimana mereka harus menjelaskan pada Joe kenapa Daddy tidak bisa bermalam di rumah Mommy atau menjelaskan bagaimana ia dibuat ketika kedua orang tuanya tidak saling mencintai. Namun demikian, setiap orang tua pasti sadar kalau mereka tidak bisa membesarkan anak mereka semata-mata dengan cinta, kan?

Mungkin Friends With Kids bukan film terbaik yang pernah saya tonton, tapi harus saya akui film ini mampu membangkitkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang penting untuk ditanyakan ketika kita akan membangun sebuah komitemen, apapun itu. Terima kasih untuk Bara yang sudah meminjamkan DVD film ini😛