BBM For Android

by celo

Saya gak tau lagi deh apa maunya orang-orang dari perusahan yang satu ini (bukan yang ini :P). Di plurk sebenarnya sudah ada yang bilang kalau BBM itu menarik karena dia eksklusif. Bagian ini saya sangat setuju. BBM punya banyak fitur yang saat ini mungkin masih jadi barang mewah bagi kebanyakan penyedia jasa instant messaging, salah satunya ya karena keeksklusifitasannya yang cuma bisa dipake antar sesama pengguna Blackberry itu tadi.

Tapi kemudian muncul desas-desus BBM akan diluncurkan juga untuk android dan iOs. Yah, sudah lah ya…,

Nah, saking sebelnya saya sama kabar yang satu ini (karena toh smartphone saya juga ndak support), tiba-tiba saya jadi males ngomongin BBM yang satu ini. Jadi, marilah kita ngomongin BBM yang lain, yang akhir-akhir ini juga sedang panas-panasnya (… karang pancen bahan bakar).

BBM

Premium habis, pake pertamax jaaaaaa!

BBM yang satu ini lagi naik daun karena, jreeeeeeeeeng, pemerintah berusaha mengurangi subsidi yang digunakan untuk membiayai BBM, yang berarti BBM akan jadi lebih mahal. Sebenarnya, saya setuju bahwa memang sudah seharusnya subsidi BBM dialihkan untuk keperluan lain. Membangun infrastruktur tentu akan terlihat lebih mulia daripada buang-buang uang negara cuma buat menuh-menuhin jalan dengan kendaraan pribadi. Dengan alasan masing-masing yang mungkin akan berbeda dengan alasan saya mendukung pengurungan subsidi BBM, banyak juga yang memilih berdiri di pihak yang sama dengan saya. Lalu, seperti dua sisi koin, yang berdiri di pihak yang berlawanan pun juga banyak.

Hanya saja, rasa kemanusiaan saya sedikit tergelitik oleh mereka-mereka ini—kedua belah pihak baik yang pro maupun yang kontra pengurangan subsidi. Di satu sisi, saya sadar bahwa beban subsidi yang ditanggung negara kita (yang juga ndak kaya-kaya amat) ini terlampau besar, tapi di sisi lain, saya toh masih manusia yang bisa iba dengan mereka yang tidak mampu mengikuti hidupnya tanpa adanya subsidi.

Lebih lanjut, emosi yang terpantik justru bukan karena argumen dari mereka yang berseberangan dengan saya…, tetapi malah oleh mereka yang sepemikiran dengan saya. Kami sepemikiran, tapi rupanya saya tidak terlalu memikirkan diri sendiri seperti mereka😦

Jadi begini, di beberapa media sosial seperti plurk dan twitter, banyak argumen berseliweran. Isu seperti ini memang rawan konflik dan tidak hanya memicu argumen, tetapi juga cemoohan nyenyeh. Beberapa suara sumbang yang paling membuat saya trenyuh dan marah adalah argumen yang semacam ini: “Ngapain, sih, pada demo menolak kenaikan BBM gitu? Bikin macet aja!”, “Yaelah, mahasiswa masih nyusu sama dompet orang tua aja segitu paniknya bensin naik!” dan juga yang paling menjengkelkan, “—Buset, beli gadget harga jutaan mampu, beli rokok dua bungkus sehari dijabanin, bensin yang cuma naik dua ribu aja diributin sampe bikin susah orang banyak.”

Fine!

Kenapa harus demo sampai macet begitu? Ini sebenarnya sederhana saja: karena ya memang dengan demo itu suara mereka sampai ke telinga kita yang terlalu arogan ini. Di hari-hari biasa yang tidak ada demo, mana mau kita repot-repot memperhatikan seorang buruh yang sampai harus memaksa istrinya jual diri buat beli makan, atau sekadar mengganti media bahan bakar dengan kayu? Ndak pernah, saya rasa…, karena saya sendiri juga ndak pernah sampai berpikiran ke sana. Kalau memang suara mereka baru bisa terdengar setelah berteriak karena kita tidak pernah mau mencoba mendengar suara mereka ketika mereka tidak berteriak…, ya udah, sih. Toh selalu ada berita sebelumnya kalau mereka besok akan demo di sini, di sini, di sini. Kalau memang tidak mau terjebak macet kan masih punya waktu hampir dua puluh empat jam untuk mencari jalan alternatif. Ganggu orang kerja? Lha, mereka itu sampai harus meliburkan diri cuma supaya suaranya didengar, lho…, ayolah, there’s always a little price for everything, for this one, it’s your time and conformity for the sake of humanity.

Mahasiswa yang masih dibiayai orang tua serta mereka yang mampu beli gadget mahal pun bukannya berjuang untuk diri mereka sendiri. Come on, knock some senses into your ego! Nggak semua di dunia ini dilakukan untuk dirimu. Mereka bukan berjuang untuk diri mereka sendiri, mereka berjuang untuk orang lain yang selama ini kita injak supaya kita bisa tetap hidup nyaman tanpa mereka bisa bersuara. Kalau mau egois, silakan…, tapi jangan memaksa orang lain yang masih punya kesadaran sosial untuk sama egoisnya dengan kalian! Saya bicara seperti ini bukan asal bicara, lho. Jadi, sehari setelah demo di Gelora Bung Karno kemarin, saya ketemu dan ngobrol sama dua orang yang ikut demo di sana. Mereka menyuarakan apa yang ingin saya suarakan, yang dalam kalimat yang saya kutip kira-kira berbunyi seperti ini:

“Kalau cuma naik segitu, mah, gw gak masalah. Toh gw kemana-mana setiap hari juga naik taksi lebih mahal daripada itu. Tapi ini kan bukan tentang gw, bukan cuma tentang kita. Yang paling kena dampaknya kenaikan BBM itu justru bukan kelas menengah kaya kita, tapi mereka yang ada di bawah kita.”

Itu betul. Kenaikan bensin cuma dua ribu tidak akan berdampak banyak pada orang dengan ekonomi menengah, terlebih yang ngehe, tapi tidak demikian dengan orang-orang di bawah, mereka yang bahkan ndak punya motor atau kendaraan lain yang membutuhkan BBM. Stop thinking about you and yourself alone, harap diingat kalau sejatinya BBM itu termasuk dalam sembilan bahan pokok. Apa maksudnya? Maksudnya, kalau BBM naik, harga yang lain juga akan naik…, dan ini bagi masyarakat dengan ekonomi yang lemah akan menjadi pukulan yang sangat berat. Sangat sangat berat sekali. Memang akan ideal bila subsidi BBM dialihkan unutk membangun infrastruktur, nyatanya sekarang ini di Indonesia naik kendaraan pribadi jauh lebih nyaman dan murah daripada menggunakan transportasi publik, kan? Alih-alih ke arah sana, jusru penanganan Lapindo yang akhirnya masuk APBN. WHAT THE HELL!?

Jadi, tolong lah…, tolong banget. Ketika mereka akhirnya mempunyai tempat untuk bersuara, jangan langsung dihabisi. Hidup sudah terlalu berat untuk mereka tanpa harus ditambahi oleh omongan nyenyeh dari kita, para kelas menengah ngehe.