Lupa.

by celo

Lupa. Sudah bertahun-tahun aku mencari yang satu ini. Pencarianku tak pernah membuahkan hasil kecuali penjelasan-penjelasan singkat yang kutemui sekadar di kamus-kamus semata, bentuknya yang corporeal masih menjadi semacam kabut tipis untukku.

lu·pa v 1. lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran (ingatan) lagi; 2. tidak teringat; 3. tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, dsb); 4. lalai.

Penjelasan-penjelasan itu, mereka sudah menjalankan tugas mereka sesuai kodratnya, menjelaskan…, dan hanya itu saja yang bisa mereka lakukan. Mereka bahkan tidak memberi tahu di mana aku harus mencarinya dan di mana ‘lupa‘ ini bisa aku temukan. Mereka meninggalkanku begitu saja, tak berdaya berkubang dalam lumpur yang perlahan-lahan mulai menarikku masuk ke dalam derita. Ini sungguh menyiksa.

* * *

Sudah hampir empat tahun sejak kau pergi. Kau tanya kenapa aku bisa tahu sudah berapa lama aku menunggu? Tentu saja karena aku menghitungnya. Asal tahu saja, aku bahkan bisa menyebutkan angka yang tepat untuk masa penantianku tersebut. Sudah tiga tahun, sebelas bulan, delapan belas hari, enam jam, dua puluh tiga menit dan dua puluh dua detik aku menanti. Ah, tidak…, sudah dua puluh tiga detik, sekarang. Ya, aku menghitungnya dengan tepat karena kau bilang pertemuan akan terasa lebih manis dengan penantian. Kau lupa bilang bahwa penantian itu sendiri akan terasa jauh lebih pahit daripada kopi hitam kesukaanmu, atau bahkan jamu yang dipaksakan oleh bunda untuk mengaliri tenggorokanku di hari-hari pertama aku mulai menunggu.

Aku menyesap gelas kopiku. Permukaannya sudah tak lagi mengepulkan asap—meski mataku masih saja menatap ke luar jendela ke arah pagar tinggi yang kuharap akan segera menyelipkan wajahmu melewatinya. Entah sudah cangkir ke berapa kopiku kali ini, aku tidak menghitungnya (hei, mana sempat aku menghitung yang lainnya kalau aku sibuk berhitung mengikuti detakan detik pada jam yang selalu kuletakkan pada kusen jendela kamarku ini). Kau mungkin kaget, sejak kapat aku menjadi penggemar kopi. Yah, aku memang bukan penggemar kopi, meski sudah bercangkir-cangkir kuhabiskan, aku masih pada tahap sebagai peminum kopi…, dan di sana aku berhenti, pada biji-biji kopi yang kugiling dengan mesin pembuat kopi yang tak sempat kau kemasi. Sampai sekarang aku masih tidak bisa jatuh cinta pada bulir-bulir pahit ini, tapi setidaknya rasa pahit yang mereka tawarkan mengalihkanku dari rasa pahit akibat pengkhianatanmu.

Kalau aku sudah bersikap seperti ini, biasanya kau akan menyebutku kekanakan. Biasanya aku akan marah, dan semakin marah untuk kemudian cemberut mengikuti ledekan-ledekanmu.

Kali ini aku tidak akan marah. Sungguh. Aku justru merindukan ledekan-ledekanmu itu.

Ledekan-ledekanmu, atau gestur serta ekspresi wajahmu saat meledekku, bukan hanya satu-satunya hal yang kurindukan. Aku juga rindu dengan semua obrolan-obrolan kita, baik obrolan-obrolan nakal sebelum kita beranjak menjajah kasur reyot hadiah dari bunda, juga obrolan-obrolan ngalor-ngidul yang biasa kita lakukan setelah makan—yang biasanya akan menuai tatapan sinis dari pengunjung lain yang ingin segera menempati kursi kita berdua atau kerikuhan para manula yang tak terbiasa melihat muda-mudi bercinta dengan kata. Aku rindu suaramu yang renyah, dan terdengar semakin renyah ketika kau tertawa setelah aku melemparkan sebuah candaan (kau tidak tahu kalau aku sengaja menggelontorkan candaan-candaan itu supaya bisa mendengar tawa renyahmu), atau wajah seriusmu saat memberi tahuku tentang hal-hal baru yang kau temukan hampir di mana saja.

Tapi kemudian kau pergi. Kau yang telah seenaknya meminta hatiku dan langsung pergi bahkan ketika yang sudah kuserahkan padamu tidak hanya hatiku saja, tapi juga jiwaku yang selalu mencintaimu, leher jenjangku untuk kau cumbu dan segalanya. Kau pergi.

Mereka yang tahu memintaku untuk melupakanmu. Sudah tiga tahun berlalu, kata mereka…, dan sudah saatnya aku mencari yang lain. Aku memang melakukannya, sejak beberapa bulan terakhir aku sudah giat mencari yang lain. Mencari ‘lupa‘. Tapi kau tahu? Ke manapun aku pergi mencari yang satu itu, yang kutemukan selalu saja jejak-jejak yang kau tinggalkan. Sikat gigi yang kau berdirikan dalam gelas di atas wastafel, sepasang sepatu buluk yang kau biarkan di dalam lemari karena kau tak tega membuangnya, sepucuk surat yang kau sembunyikan di dalam lipatan kemeja yang kuberikan padamu (yang tak pernah kau pakai sekali pun, dan kini aku tahu kenapa) dan yang jejak yang paling membuat ‘lupa‘ semakin berjarak padaku, segumpal darah daging yang tidak bosan-bosannya bertanya kapan kau akan pulang, seorang anak yang tertawa dengan gaya yang persis sama denganmu.

Kau mengajariku banyak hal tanpa sempat mengajariku cara untuk melupakanmu.