Sepiring nasi.

by celo

Ini hari keempat program ngeblog sebulan penuh, setiap hari masing-masing satu post. Jujur saja, ini baru hari keempat dan saya sudah kehabisan isu untuk diceritakan kepada kalian semua. Saya tahu, masalah sosial di sekitar kita itu ada banyaaaaaaaaaaaaaaak sekali. Sebut saja saya orang yang terlalu serius—karena kalian bukan orang pertama yang menyebut saya demikian dan mungkin juga bukan orang yang terakhir—tapi nyatanya memang banyak sekali masalah sosial di sekeliling kita. Masalah-masalah yang mungkin kita anggap sepele, tetapi ketika semura orang dalam sebuah society melakukannya…, masalah tersebut tidak lagi menjadi hal yang sepele.

Masalah mengenai nasi, misalnya.

Saya tidak akan bercerita lebih jauh tentang permasalahan nasi secara nasional, tentang jargon pemerintah bahwa “Bila kamu belum makan nasi, maka kamu belum sejahtera” sehingga memaksakan daerah-daerah di luar Jawa yang sebenarnya tidak cocok ditanami padi harus rela menghilangkan kebiasaannya memakan makanan pokok selain nasi (sagu di Indonesia Timur atau mungkin juga singkong dan makanan-makanan pokok lainnya yang saya tahu tidak hanya terdiri dari nasi). Membahas tentang hal tersebut mungkin memang benar menarik, tapi mungkin tidak untuk kali ini. Nasi sebagai stabilitas negara dan komoditi politik memang penting, tapi terlalu besar hingga menenggelamkan masalah lain mengenai nasi yang sebenarnya lebih sepele tetapi bisa kita cegah kerusakannya.

Masalah apa? Untuk bicara tentang ini, saya harus menceritakan pengalaman saya yang—menurut saya pribadi—cukup bisa membuat sakit hati. Ndak perlu repot-repot nyeduh kopi, teh atau menyiapkan camilan lainnya, cerita yang satu ini akan saya buat singkat (karena ya memang ndak panjang-panjang banget, sih, sebenarnya). Begini ceritanya…, beberapa malam lalu, saya pergi ke sebuah tempat makan sederhana. Penyetan lesehan biasa yang ada di pinggir jalan. Saya memesan lele, dan sesuai kodratnya lesehan tersebut, nasi yang disediakan per porsinya itu sangaaaaaaaaaaaat banyak sekali. Benar-benar sangat banyak, mahasiswa di tanggal tua pasti suka sekali dengan tempat ini. Di situ sudah ada beberapa pelanggan lain selain saya. Ada yang memesan untuk dibawa pulang dan ada juga yang langsung menikmatinya di tempat.

Salah seorang (dua, sih…, mereka pasangan) yang makan di sana itu saya lihat hanya memakan nasinya sedikit saja. Satu atau dua sendok, paling banyak empat bila tidak lima. Kemudian selesai. Benar-benar selesai, nasi yang masih tersisa belasan atau bahkan puluhan sendok itu dia biarkan terongok begitu saja, lengkap dengan tisu dan dalam sekejap sepiring nasih yang masih tersisa cukup banyak untuk makan dua anak kecil itu berubah jadi asbak.

Damn.

Detik itu saya langsung merasa sakit hati dan bahkan hampir-hampir saja menangis karena terlalu emosi. Itu nasi masih sisa banyak dan sudah dijadikan asbak. Saya mengerti, nasi yang tidak habis memang lebih baik dirusak saja daripada disajikan pada pelanggan yang lain. Hanya saja, bila dia tahu dia memang tidak bisa menghabiskan sebanyak itu, sebenarnya si pemilik warung pun akan lebih dari senang melayani bila kita meminta untuk mengurangi nasi, minta hanya disajikan setengah porsi nasi dari yang biasa disajikan. Sekadar informasi saja, meminta semacam itu bisa sangat mudah sekali dilakukan.

Saya marah bukan karena saya tidak mampu membeli makanan sebanyak itu. Jujur saja saya memang tidak mampu, tetapi ini bukan hanya tentang saya, tapi tentang banyak sekali orang di luar sana yang benar-benar hidup dengan jargon ‘banting tulang sekuat tenaga demi sesuap nasi’ secara literal. Ayolah, jangan pura-pura tidak tahu, di sekeliling kita pasti kita bisa dengan mudah menemukan orang-orang semacam itu. Para penghunni jalanan, para perempuan tanpa keterampilan yang menjadi orang tua tunggal bagi banyak anak, para mahasiswa dari kalangan menengah bawah yang harus cari pekerjaan tambahan karena biaya pendidikan yang semakin besar…, orang-orang semacam itu bisa kita temui dengan mudah hampir di mana saja.

Dan di sini kita seenaknya membuang apa yang mati-matian mereka cari dengan begitu mudahnya. Itu yang membuat saya sangat sakit hati.

Tolong, deh. Di manapun kalian berada, pesanlah makanan sebanyak yang bisa kamu habiskan…, jangan memesan lebih banyak dari yang kamu mampu hanya karena uangmu lebih dari cukup untuk membeli makanan-makanan tersebut. Lalu, ketika kamu sudah selesai memesan, saya rasa kamu punya tanggung jawab moral untuk menghabiskan apa yang sudah kamu pesan. Kita tidak pernah tahu berapa banyak sumber daya alam yang harus kita habiskan untuk membusukkan makanan yang kita buang dengan sia-sia. Ya, mereka memang organik, tapi tetap saja mencemari. Kalau kamu bukan orang yang ramah lingkungan, setidaknya kamu masih manusia, kan? Coba, deh, rasa kemanusiaannya diperbesar.

Kalau memang hanya bisa makan sedikit saja, ya pesan atau masaklah sedikit saja. Manusia hanya manusia bila ia tak hanya memiliki sifat-sifat yang manusiawi, tetapi juga ketika ia masih bisa menjaga rasa kemanusiaan yang dia miliki dan memanusiakan manusia-manusia yang lain selain dirinya sendiri.