My name is Khan and I’m an Aries!

by celo

Saya tidak tahu kenapa begitu banyak orang begitu menggemari astrologi (bukan astronomi, ya, beda!) dan tetek bengek ramalan horoscope itu. Saya sendiri bukan penggemar, tapi tidak bisa dibilang pembenci juga…, biasa-biasa saja juga ndak. Hubungan saya dengan ramalan bintang itu seperti sebuah hubungan yang rumit lengkap dengan cinta dan bencinya. Ada satu bagian dari sisi yang memaksa saya untuk langsung membalik halaman langsung ke kolom horoscope di setiap majalah yang saya tahu dilengkapi dengan kolom tersebut, sementara ada juga sisi lain dari saya yang tidak henti-hentinya melemparkan komentar nyinyir pada setiap apa yang tertulis di sana.

… dan itu berarti saya memang benar-benar membaca ramalan tersebut dari awal sampai akhir, kan?

Entah sejak kapan saya mulai mencari-cari tentang peruntungan nasib saya melalui ramalan bintang…, tetapi sejauh yang saya ingat, selama itu pula saya sudah begitu nyenyeh berkomentar tentang ramalan bintang. Tentunya bukan dengan komentar yang positif.

Semakin ke sini, hubungan kami pun menjadi semakin rumit.

Dengan perkembangan media sejauh ini, kita semakin dimudahkan untuk berkomentar terhadap apapun (bahkan terhadap kinerja pemerintah yang begitulah). Karena itu pula, semakin mudah pula kita menemukan ramalan bintang. Kalau mau menengok ke sekeliling, kita bisa menemukan banyak sekali akun-akun media sosial yang mengatasnamakan horoscope anu atau rahasia ramalan bintang itu. Jujur saya akui, di Twitter saya mengikuti satu akun yang semacam itu. Karena saya lahir pada 21 Maret, maka yang akun yang saya ikuti tersebut adalah akun tentang serba-serbi Aries (dan saking gak tertariknya saya sama horoscope saya lupa nama akunnya, padal tiap hari ya buka linimasa si akun ini).

Sejak dahulu kala, saya punya satu pemikiran yang kuat tentang ramalan bintang, dan semakin ke sini, setelah saya mulai dewasa dan mulai belajar banyak hal tentang hidup dan segala isinya, pikiran saya itu semakin kuat: Bahwa pada dasarnya ramalan bintang tidak lebih dan tidak bukan hanyalah sebuah penggeneralisasian yang sangat halus dan disukai. Padahal, kalau boleh jujur, generalisasi yang terlalu dini itu termasuk ke dalam kesalahan berpikir, lho, karena dengan hasty generalization ini kita menarik kesimpulan yang prematur terhadap satu orang atau kelompok dan mengaplikasikannya kepada keseluruhan orang atau kelompok. Seperti misalnya dengan mengatakan bahwa Islam itu agama teroris. Pernyataan bahwa ‘Islam merupakan agama teroris’ itu termasuk hasty generalization. Mungkin memang kebanyakan teroris memilih Islam sebagai agamanya, tetapi kan ya tidak berarti semua orang yang beragama Islam itu mengamini tindak terorisme, kan?

Nah, sampai di sini sudah mengerti, toh, betapa bahaya dan menyebalkannya generalisasi itu?๐Ÿ˜›

Kebetulan, horoscope itu melakukan generalisasi dengan hebatnya. Ramalan bintang bisa dengan mudah menggolongkan 7 milyar (atau berapa, sih?) penduduk bumi ke dalam 12 golongan saja, dan bukan hanya orangnya saja, tapi nasib dan juga peruntungannya serta karakteristik. Bukannya ini menggeneralisir kalau misalkan menyebutkan bahwa semua Aries terlahir sebagai pemimpin dan juga pintar memainkan musik serta berbakat seni, atau bahwa semua Capricorn gemar sekali tebar pesona, atau bahwa Aquarius tidak suka disuruh menunggu terlalu lama.

Kenapa saya bilang menggeneralisir? Karena tidak semua Aries, Capricorn dan Aquarius memiliki karakteristik tersebut. Saya sendiri seorang Aries, dan kalau dibilang saya terlahir sebagai pemimpin ya ndak juga, saya malah lebih suka dipimpin, resikonya lebih kecil…, dan saya buta nada plus sama sekali ndak punya bakat seni (it’s true, waktu kelas 2 SD saya pernah diolok wali kelas saya karena saya ndak punya citarasa seni meskipun ayah saya seniman). Tidak semua Capricorn gemar mematahkan hati wanita…, kadang-kadang mereka mematahkan hati lelaki juga *digampar*๐Ÿ˜† dan saya rasa bukan hanya Aquarius, semua orang apapun horoscope-nya juga ndak bakal suka kalau disuruh nunggu terlalu lama.

Sebenarnya mudah sekali menghindarkan suatu pernyataan dari unsur generalisasi. Gampang banget, kok, asli! Cukup dengan menambahkan kata ‘kebanyakan’ atau ‘tidak semua’.

Kebanyakan Aries berbakat seni, misalnya…, bisa lebih mudah saya yakini karena kebanyakan Aries yang saya temui memang seperti itu. Hampir seluruh Capricorn senang tebar pesona? Bisa jadi. Tidak semua Aquarius senang disuruh menunggu terlalu lama? Hmm…, mungkin, sih, entahlah; Hanya dengan menambahkan kata-kata tersebut sebenarnya sudah cukup menghindarkan generalisasi dan secara logika mungkin bisa lebih diterima, tinggal bagaimana kita memresentasikan data untuk mendukung argumen kita saja, kan? Masalahnya, kalau kita perhatikan, serba-serbi ramalan bintang sama sekali tidak bermain di wilayah abu-abu tersebut. Hampir selalu mereka menggunakan kata-kata yang pasti, and hence, hasty generalization.

Kalau saya mau bicara kasar, hasty generalization itu sebuah kesalahan berlogika. Mereka yang berargumen dengan pernyataan-pernyataan yang kental nuansa generalisasi berarti mereka tidak berpikir dengan logika yang benar. Dengan kata lain mereka bodoh.

Lha, terus saya yang udah tau soal itu semua tapi masih nyari-nyari peruntungan nasib Aries buat minggu ini apa dong? Berarti saya super duper bego, dong, karena udah tau kalau statement ramalan bintang itu tidak menggunakan logika yang benar tapi terus saja saya cari?

CHIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!