Perokok Sopan

by celo

Perokok sopan? Memangnya ada? Ada! Ada banget! Mungkin tidak benar-benar resmi ada, mungkin hanya saya saja yang menyebutnya sebagai perokok sopan, tapi nyatanya memang ada perokok yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Memangnya, seperti apa sih yang disebut dengan perokok sopan itu? Hmm…, intinya, sih, ya itu tadi, perokok yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, mereka yang merokok tetapi juga memikirkan orang-orang lain di sekitarnya yang mungkin juga bukan seorang perokok.

Kenapa saya bilang perokok sopan juga memikirkan orang-orang lain di sekitarnya?

Jawabannya sederhana: karena memang demikianlah mereka. Perokok sopan pada umumnya akan bertanya pada seseorang di sekitarnya (terutama orang-orang yang baru ditemui) apakah mereka tidak keberatan bila sang perokok ini menyalakan rokoknya? Dengan bertanya seperti ini, tentunya akan ada konsekuensi yang muncul, yaitu bisa jadi jawaban yang keluar dari orang yang ditanyai adalah ‘tidak’ (meski pada umumnya orang Indonesia sungkan menolak, tapi nyatanya orang yang tegas berkata ‘tidak’ juga cukup banyak, lho, mereka-mereka ini menurut saya patut diacungi jempol) dan bila sudah mendapatkan jawaban tersebut, sudah konsekuensi perokok sopan untuk tidak menyalakan rokoknya, atau mencari meja lain dari banyak orang. Dari satu hal ini saja sebenarnya bukan hal yang mudah. Rokok ini candu, mereka yang merokok adalah pencandu. Orang yang kecanduan tidak bisa begitu saja lepas dari candunya. Pilihan mereka untuk tidak menyerah begitu saja pada candunya tentu hal yang luar biasa, kan?😛

Perokok sopan juga tidak merokok di dekat anak kecil dan ibu hamil—sekalipun mereka tidak keberatan. Lho, kenapa? Kan mereka tidak keberatan? Menurut saya sederhana saja, meskipun mereka ini tidak keberatan, tapi mereka adalah golongan yang masih belum bisa memutuskan untuk dirinya sendiri. Anak-anak kecil masih belum tahu apa sisi positif dan negatif dari sebuah rokok, apa saja bahayanya dan segala macamnya. Kalaupun mereka tahu, belum tentu mereka paham. Hence meski mereka tidak keberatan, tolong jangan merokok di dekat anak kecil…, kecuali tentu saja anak kecil itu dibawa oleh orang tuanya untuk duduk di area merokok. Kalau seperti itu, marahi saja orang tuanya.

Dewasa ini, banyak orang yang sudah mengerti tentang bahaya merokok dan pentingnya seseorang untuk tidak merokok. Ini bagus, bagus sekali. Sayang sekali, banyak sekali para orang yang tidak merokok ini kemudian menjadi semacam bigot yang terus-menerus memaksakan ide untuk tidak merokok kepada semua orang, termasuk perokok. Mungkin ini juga imbas dari para perokok sendiri yang selama ini terus memaksakan asapnya masuk ke paru-paru semua orang, termasuk orang yang tidak merokok, padahal menjadi perokok pasif itu jauh lebih bahaya resikonya daripada perokok aktif sendiri. Dalam politik pun, pemerintah yang opresif justru membangun lebih banyak oposisi daripada pemerintah yang tidak opresif. Masalah rokok ini pun sama, semakin seseorang (baik dari pihak perokok dan non-perokok) memaksakan gagasannya, justru semakin banyak orang pula yang nyinyir terhadap ide-ide tersebut.

Di sini saya kemudian terpikir untuk menjelaskan mengenai perokok sopan ini.

Kenapa?

Karena menurut saya perokok sopan adalah jalan tengah supaya para perokok bisa tetap merokok sementara mereka yang tidak menyukai asap rokok bisa terhindar dari apa yang dibencinya tersebut. Konsepnya, sih, sederhana…, faktanya, orang akan lebih mudah membenci sesuatu yang tidak diketahuinya. Di sini para perokok keki pada non-perokok yang tidak mengerti kenikmatan merokok dan non-perokok pun sebal karena perokok tidak mengerti bahwa tidak semua orang suka asap rokok. Jadi, mengapa kita tidak menengahinya dengan memperkenalkan adanya cara merokok yang sopan?

Kepada mereka yang merokok, kita ajarkan tentang cara-cara merokok yang sopan. Cukup dengan sindiran-sindiran ringan dan semacamnya, lalu mengarahkan mereka untuk merokok dengan sopan. Sementara kepada mereka yang tidak merokok, kita bisa mengajarkan bahwa tidak semua perokok layak diantagoniskan. Bahwa perokok sopan pun harus diapresiasi atas usaha mereka dan tidak serta merta harus dimusuhi layaknya perokok pada umumnya. Tidak harus memaksakan, tentu…, kepada mereka yang tidak bisa hanya dengan sekadar diingatkan, toh, bisa ditinggal, kan? Merokok itu pilihan, bisa dipilih, bisa ditinggalkan, saatnya kita memilih untuk bersikap juga, kan? Kalau memang kita tidak suka dengan asap rokok, ya katakan tidak, tapi tidak harus memaksakan. Kalau kita belum bisa lepas dari asap rokok, ya minta izinlah untuk merokok, dan merokoklah di tempat-tempat yang diizinkan saja.

Lalu bagaimana dengan mbak-mbak berjilbab yang merokok? Please, deh, merokok itu pilihan, biarkan mereka memilih dan biarkan Tuhan yang mengadili bila memang ada pasal yang melarang mereka yang mengenakan jilbab untuk merokok.

Jadi, ingin jadi perokok yang bagaimanakah kamu?