Sinister 2

by celo

Sinister 2

Sinister 2

Melakukan pencarian di google dengan kata kunci ‘sinister definition’, saya mengetahui bahwa dalam bahasa Inggris, sinister merupakan sebuah kata sifat dengan arti sebagai berikut:

sin·is·ter
ˈsinistər/
Giving the impression that something harmful or evil is happening or will happen.

Jujur saja, awalnya definisi tersebut saya rasa kurang tepat untuk menjelaskan film yang akan saya tonton. Bagi saya, Sinister 2 tidak ada bedanya dengan film horror kebanyakan yang kerap mengumbar adegan-adegan mengagetkan dengan alur cerita yang sebenarnya sederhana atau biasa-biasa saja. Semuanya berubah ketika akhirnya saya benar-benar menonton film ini. Asu, memang!😐

Secara garis besar, Sinister 2 menceritakan tentang kisah seorang perempuan single parent—nantinya saya baru mengetahui bahwa perempuan ini ternyata tidak se-single yang saya kira—dengan kedua anaknya yang menempati sebuah rumah yang dulunya pernah menjadi TKP pembunuhan terhadap sebuah keluarga. Sejak menempati rumah tersebut, salah seorang anaknya, Dylan, kerap mengalami mimpi buruk. Tidak hanya itu, Dylan bahkan mempunyai beberapa ‘teman imajiner‘ yang setiap malam selalu memaksanya untuk menonton film footage tentang pembunuhan terhadap sebuah keluarga. Setiap malam, akan ada film berbeda yang harus ditonton. Harus? Ya, harus. Milo, salah seorang teman imajiner Dylan, memaksakan kondisi ‘harus’ tersebut pada Dylan dengan mengatakan bahwa menonton film-film snuff tersebut akan membuatnya tidak lagi bermimpi buruk.

Di sisi lain, seorang mantan sheriff deputy—entah apa padanannya dalam bahasa Indonesia dan entah siapa namanya karena ia lebih sering dipanggil dengan nama deputy di sepanjang film—berusaha untuk menguak kasus-kasus pembunuhan di masa lampau, di mana pembunuhan-pembunuhan tersebut memiliki pola tertentu sebagai berikut:

1. Pembunuhan ini selalu terjadi pada sebuah keluarga
2. Salah satu anak dalam keluarga tersebut pasti hilang sementara anggota keluarga lain ditemukan terbunuh
3. Pembunuhan-pembunuhan tersebut selalu terjadi di rumah yang memiliki gambar simbol tertentu

Singkat cerita, mantan sheriff deputy ini tiba di rumah Dylan sekeluarga dan menemukan fakta bahwa nyawa Dylan sekeluarga terancam karena rumah yang mereka tempati merupakan rumah yang muncul dalam pola pembunuhan yang tengah diselidikinya. Sampai di sini, alur ceritanya akan sama seperti kebanyakan film horor lainnya: Bagaimana usaha sang ibu dan mantan sheriff deputy tersebut menyelamatkan nyawa Dylan dan juga anggota keluarganya yang lain. Blah, blah, blah…

Satu hal yang membuat Sinister 2 menarik adalah keterampilan pembuat film ini dalam meramu unsur-unsur mengejutkan—literal, unsur yang membuat penonton berteriak terkejut, bukan plot twist atau semacamnya—di dalamnya. Karena seperti sudah kita ketahui bersama, yang menarik dari film horor adalah pakemnya dalam membuat penonton terkejut. Sangat menyenangkan sekali mengetahui Sinister 2 bisa memainkan timing yang tepat dalam memunculkan jurig untuk membuat kita terkesiap kaget. Di samping itu, upaya untuk menyisipkan found footage juga patut diacungi jempol untuk membuat kita berpikir bahwa Sinister 2 adalah film horor yang paling membuat kita merasa depresi, setidaknya untuk saat ini.

Sayang, seperti kata pepatah, ‘tak ada gading yang tak retak.’ Abaikan alurnya yang sangat film horor sekali, saya cukup menyayangkan penggunaan visual effect saat menggambarkan bagaimana teman-teman imajiner Dylan menghilang. Dengan kemajuan teknologi pembuatan film kini, wajar bila saya memiliki ekspektasi yang lebih besar dari yang disajikan oleh Sinister 2. Di samping itu, penggarapannya juga mengendor menjelang bagian sepertiga terakhir, seolah-olah sineas yang menggarap Sinister 2 antara kekurangan dana atau kekurangan ide hingga membuat saya, yang tadinya mendapuk Sinister 2 sebagai film horor yang paling membuat depresi—sampai sempat ingin keluar dari studio di menit-menit pertama karena tidak kuat dengan sensasi horor depresifnya, berpikir, “Yeah, good. Now give me something more.” Masalah lain yang muncul adalah casting yang terasa tidak memiliki chemistry antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Mereka berakting dengan hambar. Sayang sekali.

Bagi saya, yang menolong Sinister 2 adalah kenyataan bahwa saya belum menonton Sinister. Membaca laman Sinister 2 di wikipedia, saya menemukan bahwa kritik yang datang untuk Sinister 2 berputar pada tidak adanya kemampuan—atau mungkin kemauan—dari sang sineas untuk menyuguhkan sesuatu yang baru dari film pendahulunya. Rating dari saya untuk Sinister 2 adalah: Layak ditonton (dari tiga kategori ‘tontonlah kalau ada waktu luang’, ‘layak ditonton’, dan ‘harus ditonton’). 7/10.

Tunggu, saya ubah rating saya menjadi ‘HARUS DITONTON’! Karena, oh, karena, saya kurang terima kalau hanya saya saja yang merasakan sensasi depresi dari film ini, kalian juga harus mencicip rasa depresi yang sama! Sinister 2 benar-benar sinister, kalian harus coba!