Falsafah #PYTP

by celo

Bagi pengguna twitter, terutama mereka yang banyak memasukkan pengguna Twitter berbahasa Jawa ke dalam daftar orang yang diikuti status update-nya, mungkin sudah tidak asing lagi dengan tagar #PYTP ini. Sebenarnya apa, sih, maksud dari tagar tersebut?

#PYTP; Po Yo Tak Pikir
(Bhs. Jawa) Apa ya saya pikir[kan?]

Sebenarnya, tagar yang satu ini adalah tagar yang cukup menyegarkan ketika digunakan dengan tepat. Berkebalikan dengan paham yang dianut oleh sebagian besar ‘penggiat’ media sosial yang merasa dunia harus tahu dengan kehidupannya, atau bahwa mereka harus tahu kehidupan penghuni lainnya di dunia ini, tagar ini bisa dilemparkan untuk menyatakan bahwa, “Tidak, saya tidak peduli dengan kehidupan yang ingin kamu sampaikan, simpan saja untuk dirimu sendiri.”

Ketika dimaknai seperti itu, jelas tagar ini akan sangat dibutuhkan sekali, terutama oleh mereka yang mungkin sudah jengah dengan sedemikian banyak dramatisasi kehidupan dari pengguna lain media sosial—seolah-olah kehidupan dan masalah mereka sendiri tidak cukup dramatis untuk diurusi. Namun betapa sedihnya bila tagar yang bisa menjadi penangkal untuk sifat dasar buruk pengguna media sosial yang selalu mau tahu atau selalu mau memberi tahu ini ternyata tidak terlepas dari sifat dasar lain dari media sosial yang tidak bisa dibilang bagus juga.

Kita tentu sudah sering mendengar—atau bahkan sudah jengah—dengan ‘anak-anak muda jaman sekarang’ yang cenderung langsung melompat pada kesimpulan yang diambilnya sendiri tanpa mau melakukan verifikasi untuk informasi yang ia dapatkan, baik dengan mencari sudut pandang lain dari informasi yang diberikan maupun untuk sekadar bertanya. Sudah sering pula kira mendengar bahwa media sosial kemudian disalahkan untuk kemunduran dalam hal cek dan kroscek ini. Media sosial sering kali dituding terlalu instan menyajikan sebuah informasi, itupun dengan ragam informasi yang cukup luas pula. Informasi yang didapatkan pun kemudian menjadi lebih banyak dibandingkan waktu, dan tenaga, yang dibutuhkan untuk melakukan verifikasi. Pengguna media sosial seolah dimanja dengan beragam infomasi yang belum tentu benar, lalu malas untuk membuktikan kebenaran dari informasi yang didapatkan.

Keadaan ini kemudian dikompori pula oleh pihak-pihak penyedia informasi dengan gaya penyampaian informasi mereka yang semakin melanggengkan sifat manja para pembacanya. Sebut saja portal-portal berita daring dengan nama yang cukup mentereng, yang ketika kita mendengar namanya kita merasa tidak perlu lagi melakukan verifikasi karena kita tahu mereka selalu menyuguhkan riset yang mendalam pada versi cetaknya, mencoba merangkum informasi yang ingin mereka sampaikan dalam sebuah tajuk berita. Ini lebih parah lagi menurut saya, karena tidak hanya kita menjadi malas untuk melakukan verifikasi, kita bahkan jadi malas untuk membaca keseluruhan isi berita karena berpikir keseluruhan informasi yang diberikan toh sudah terangkum pada judulnya.

Singkat kata, kita dididik untuk menjadi ignoran.

Ini yang kemudian menjadi sedikit menyedihkan. Falsafah #PYTP yang seharusnya tepat digunakan untuk memberi batas terhadap drama apa yang ingin kita nikmati dan mana yang tidak, kemudian bergeser menjadi falsafah apologetik ketika kita memilih untuk tidak peduli. Paham ‘pokoknya’ yang kerap digunakan oleh para ekstrimis pun digunakan oleh para pengguna tagar #PYTP. Apapun kebenaran yang [coba] Anda sampaikan, saya tidak peduli, tidak akan saya pikirkan sama sekali. Isu-isu yang penting pun dengan mudahnya direduksi oleh tagar yang satu ini.

“Mas, yang benar itu diubah, bukan dirubah.”
“Prek! #PYTP”
“Hore!”

Mbak, tidak semua ibu yang bekerja itu tidak sayang dengan anak-anaknya.”
“Ah, alesan! #PYTP”
“Aseeek!”

“Pak, siul-siul ke cewek itu termasuk pelecehan seksual, lho!”
“Sing penting enak! #PYTP”
“Yungalah…”