the end of trilogy

… mostly talk about whatever interesting according to my oh-so-simple brain. However, a blog is manifestation of the blogger, and I'll have to remind you that the blogger of this blog is one lazy simple minded person; try to keep your expectation lower than your moral, or else ….

Juno’s Bride

Hmm…, apa nih? Juno’s Bride? Juno yang dimaksud di sini adalah salah seorang dewi dalam mitologi Romawi (kerap diasimilasikan dan dikenal sebagai Hera, dewi pada mitologi Yunani) yang merupakan dewi perlindungan pernikahan (dan kaum perempuan Roma—yang tidak relevan dengan postingan ini :P). Sementara, bride di sini merujuk pada artinya secara harafiah: Pengantin.

Juno’s bride tidak secara spesifik berarti penganti Juno karena sebagai dewi yang melindungi pernikahan, rasa-rasanya semua pengantin di dunia ini memang pengantinnya dia, kan? Juno’s bride adalah istilah yang umum digunakan oleh orang-orang yang menikah di bulan Juni. Mereka beranggapan bila mereka menikah di bulan Juni, bulan yang sering diasosiasikan dengan Juno, pernikahan mereka akan mendapatkan berkah dari Juno sendiri (padahal ya memang tugasnya Juno, lho, buat memberkati setiap pernikahan, gak ngerti lagi deh sama pikiran cewek-cewek ini kok sampe bisa segitunya). Yah, intinya postingan ini akan sedikit banyak membahas tentang pernikahan 😆

tumben banget, cel? Iya, lanjut baca aja makanya

Iklan

Di hari hujan [2]

Malam sudah terlalu larut hingga sudah sewajarnya bila hari ini disebut dengan nama yang berbeda dari hari kemarin. Hujan masih saja turun, cukup deras untuk membuat bintang-bintang serta rembulan enggan menampakkan dirinya, lebih memilih untuk tidur berselimutkan awan mendung yang menjaga agar titik-titik air yang dibawanya tetap turun menyapa petrichor yang belum juga menguar naik. Sementara banyak orang beranggapan bahwa ini waktu yang tepat untuk memejamkan mata—dan memang itulah yang tengah mereka lakukan, di sebuah kafe dengan penerangan yang temaram, sepasang pemuda dan pemudi yang belum pernah mengenal sebelumnya memutuskan bahwa tidak ada salahnya bila mereka menggunakan malam ini untuk mengenal lebih jauh, diselingi dengan senyum kikuk dan obrolan absurd yang menunggu untuk diulik lebih lanjut.

Ya, di hari hujan ketika mawar terlalu lelah dan lupa untuk keluar dari kuncupnya.

***

lanjutkan baca

Di hari hujan [1]

If I were the rain could I connect with someone’s heart just as it can unite the eternally separated earth and sky?

***

Baca entri selengkapnya »

Hei, kamu…

digital-photography-school.com

Aku tak pernah suka berpergian dengan pesawat terbang. Meski itu bisa memangkas ratusan kilometer antara kotaku dengan kotamu menjadi sekadar lima puluh menit yang penuh buncahan rindu, aku tak pernah suka—tak akan pernah suka. Terlebih kini, ketika waktu yang sudah lima puluh menit itu berubah menjadi sembilan puluh menit. Bangkok menuju Jakarta, kembali pulang ke kotamu tapi bukan pelukanmu, meski kau masih di sisiku. Ya, begitu…,

lanjutkan membaca

Sumber Watu Heritage – Abhayagiri Restaurant

It was always a bless—and a blast—to find a new quite and peaceful place to refresh your soul. Luckily, I had it last weekend when I went to Sumberwatu. At first, it was really tiring cause I wanted to go to several uncommon temples (Hindu’s and Buddha’s) such as Banyunibo Temple, Barong Temple, Sojiwan Temple, and Archa Ganesha. I’m not gonna lie to you, it was really-really tiring for the accommodation is not as easy as if you want to go to such a well-known temple like Prambanan Temple. But in the end, all the efforts were payed off.

All of those beautiful temples and the green scenery presented, it was really worth it. Moreover, at the end of our journey, we spent our afternoon waiting sunset at Abhayagiri Restaurant, the only reason why I stopped complaining about all the tiring things I did that day.

here goes nothing

Menembus batas gender?

Ha, menembus batas gender? Sejujurnya saya juga tidak tahu kenapa bisa dibilang seperti itu. Padahal, kalau sepengetahuan saya, gender dan sex itu berbeda. Iya, gender dan jenis kelamin itu tidak sama. Sex, atau jenis kelamin—for those who have “eastern” tender ears, itu menurut saya sudah digariskan. Kamu terlahir dengan penis, maka kamu laki-laki, dan bila kamu terlahir dengan vagina maka kamu seorang perempuan. Sementara itu, gender adalah peran dan peran ini sangat tergantung dengan pilihan yang diambil. Tidak semua yang memiliki penis memilih untuk berperan sebagai laki-laki, dan begitu pun sebaliknya. Peran yang dipilih ini bisa apapun dan seharusnya tidak ada yang boleh melarang, karena itulah gender sering disebut sangat cair.

Kira-kira begitulah yang selama ini saya pahami, kalau ada yang salah mohon dikoreksi secepatnya 😆 Nah, sekarang kembali ke judul.

kenapa menembus batas gender?

Festival Film Dokumenter 2012: Day Five.

Yay, so finally I can manage to make it through the fifth day of FFD Jogja 2012. It may just another blog post, but it’s a leap for humanity :blush: No kidding, I’m that type of guy who love procrastination so much I can’t finish something. But with this post, this very post, I prove to the whole world that I can finish my report for FFD even though it takes me a lot of time. Yeah, a very good procrastinator I am.

I planned watched three documentaries that day. Well, there’s only three screenings that day because for the closing ceremony at the end of the day. It was blazing, full of fun and such. So, what are you waiting for?

hit the button!

Festival Film Dokumenter 2012: Day Four.

It’s been weeks, I know, almost a month, technically a year cause it’s already 2013 (YAAAAAAAAY! HAPPY NEW YEAR!!!). Been busy and such and barely made it here now, the fourth day of FFD 2012. I planned to watch five documentaries that day, sadly I had no time to do so cause that day, my friend’s band had their first music video shot. So yeah, this and that, I could only managed to watch two of five documentaries I planned. Well, enough ranting for the start…,

so here goes nothing

Festival Film Dokumenter 2012: Day Three.

Yay! I planned to watch five documentaries, and I did! So I’m gonna warn you people, this post will be a very long post as I’m gonna write about five documentaries I watched at the third day of FFD 2012. It was raining hard, and I was having sleep deprivation that day, but overall, it was fun. Three of five documentary films I watched tagged in perspective category. One thing I learnt from FFD 2012 is…, perspective category could be really boring as it forced me to see the issue(s) from the filmmaker’s perspective. It was good, but for a boy whose not into documentary, a skillfully technique is a priority otherwise it would only be a boring one.

here goes nothing…

Festival Film Dokumenter 2012: Day Two.

So yeah, continuing my last post, now I’m back with my report of second day of FFD Jogja 2012’s documentary films screening. This day (which is actually the third day of the whole series of FFD 2012) I could only watch 2 of 3 films that I put into my watch-list because of the screening’s long delay that messed up my whole plan for that day.

I planned to watch a movie from perspective category titled Coffee, Cake, and Crematorium, I really did. When I read the synopsis, this one just went straight to my list. But since I couldn’t watch it, I hope I’ll find it another documentary film festival—or anywhere cause I want to watch it so bad.

anyway, here goes nothing…

%d blogger menyukai ini: